ROLE
PLAY
Kehamilan
Ektopik
![]() |
Oleh :
Kelompok
4
1. Nurhana
Muktiningtyas (14140129)
2. Muthohharoh
Putri Rakhma Latifah Sahid (14140126)
3. Maria
Marelis NN (14140131)
4. Resi
Dian Purnama Sari (14140158)
5. Ni
Putu Maydayanti (14140161)
6. Yunita (14140178)
7. Maria
Tersiana Linda (14140251)
PROGRAM STUDI D-IV BIDAN PENDIDIK
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA
Tema : Kehamilan Ektopik
Tokoh :
·
Ni Putu Maydayanti sebagai Bu Hesti
·
Maria Merelis NN sebagai Pak Herman
·
Muthohharoh Putri Rakhma Latifah Sahid
sebagai Oma Sahid
·
Maria Tersiana Linda sebagai Bidan Tere
·
Nurhana Muktiningtyassebagai masyarakat
(Bu Nurul)
·
Yunita sebagai masyarakat (Bu marica)
·
Resi dian Puranama Sari sebagai narator
Di sebuah desa, terdapat sebuah keluarga
yang terdiri dari Pak Herman, Bu Hesti dan Oma Sahid yang merupakan mertua dari
Bu Hesti. Bu Hesti sedang mengandung untuk kedua kalinya. Pada kehamilan yang
pertama Bu Hesti mengalami kehamilan diluar janin dan merelakan janinnya untuk
diangkat, maka dari itu Oma Sahid sangat berhati-hati dalam memperlakukan
menantunya. Suatu hari Bu Hesti hendak membersihkan rumah, namun Oma Sahid
melarangnya.
Oma
Sahid : aduh nduk, kamu ini ngeyel.
Ibu bilang istirahat malah bersih-bersih rumah.
Bu
Hesti : ngga apa bu, saya bosan
diam terus.
Oma
Sahid : namanya juga hamil, harus
dijaga kandungannya. Sudah diam saja..nggak usah bersih-bersih.
Bu
Hesti : iya bu...
Bu Hesti pergi kekamarnya. Sore harinya
saat Bu Hesti hendak mandi tiba-tiba Bu Hesti mengalami flek-flek coklat muda
yang keluar dari vaginanya. Awalnya bu Hesti berfikir flek-flek itu hanya sehari dan akan hilang
keesokan harinya. Tetapi flek-flek tersebut berlangsung lama dan semakin lama
warna flek menjadi coklat tua. Bu hesti merasa khawatir dan memanggil suaminya.
Bu
Hesti : mas... mas...
Pak
Herman : kenapa dik ?
Bu
Hesti : mas antar aku bidan ya.
Aku mengalami flek-flek lagi mas.
Pak
Herman : iya dik, sana siap-siap dulu.
Pak Herman dan Bu Hesti bergegas pergi
kerumah bidan.
Pak
Herman : bu bidan....bu bidan....
Bidan
Tere : iya pak. Mari pak,bu silahkan
masuk.
Pak
Hermnan : bu bidan, istri saya mengalami
flek-flek sudah seminggu lebih. Saya khawatir,
soalnya pada kehamilan sebelumnya istri saya mengalami kehamilan diluar janin
dan gejalanya sama seperti yang sekarang bu.
Bidan
Tere : baiklah pak, saya akan
memeriksa ibu terlebih dahulu. Bapak tunggu sebentar ya.
Bidan yang dibantu dengan dokter mulai memeriksa Bu Hesti. Tidak disangka hasil
pemeriksaan menyatakan jika tidak ada janin yang berkembang dirahim Bu Hesti,
lalu bidan menyarankan Bu Hesti untuk melakukan testpack ulang untuk memastikan
apakah Bu Hesti positif hamil atau tidak.
Bidan
Tere : bu, besok pagi tolong ibu
teskpack ulang ya, sorenya ibu kesini lagi dan jangan lupa membawa hasil testnya.
Bu
Hesti : baik bu...
Pada pagi harinya Bu Hesti melakukan
testpack ulang dan hasil testpacknya positif. Bu Hesti merasa sedikit lega. Pak
Herman berangkat kerja, Bu Hesti langsung bersih-bersih ringan lalu makan dan
istirahat. Tiba-tiba Bu Hesti mengalami nyeri didaerah perut bagian bawah dan
mengalami perdarahan.
Bu
Hesti : ibu... ibu... (memanggil
mertuanya ).
Oma
Sahid : astaga nduk! Kamu kenapa ?
Oma Sahid panik dan mencari bantuan
keluar. Kebetulan saat itu Bu Nurul dan Bu Marica lewat didepan rumah Pak
Herman.
Oma
Sahid : Bu Nurul, Bu Ica tolong
menantu saya
Bu
Nurul : kenapa bu ?
Oma
sahid : tolong bu... tolong....
Mereka masuk kedalam rumah dan bergegas
membawa Bu Hesti ke bidan. Setibanya disana, bidan langsung melakukan
pemeriksaan dan Oma Sahid segera menelepon pak Herman. Beberapa saat kemudian
bidan keluar.
Bidan
Tere : maaf oma, seperti yang saya
duga sebelumnya Bu Hesti mengalami kehamilan ektopik atau kehamilan diluar
rahim, posisi janinnya berada disaluran
telur ibunya. Sekarang janin yang sedang dikandung Bu hesti harus diangkat
kalau tidak keadaan ini dapat membahayakan Bu Hesti.
Oma
Sahid : saya tidak mau, saya sudah
lama menantikan kehadiran bayi ini. Dengan mudahnya ibu ingin membunuh calon
cucu saya.
Bidan
Tere : bukan seperti itu oma. Jika
tidak dilakukan pengangkatan janin, kondisi ini akan membahayakan ibunya.
Memang sebaiknya dilakukan pengangkatan janin ini oma.
Tiba-tiba
Pak Herman datang.
Pak
Herman : bu bidan,ada apa dengan istri
saya ?
Bidan
Tere : begini pak, Bu Hesti mengalami
kehamilan diluar rahim lagi. Sebaiknya dilakukan pengangkatan janin agar tidak
membahayakan kondisi istri bapak.
Oma
Sahid : ibu tidak mau Man. Ibu sudah
lama menunggu cucu ibu. Pokonya ibu tidak mau.
Pak
Herman : mau bagaimana lagi bu ?
Oma
Sahid : pokoknya ibu nggak mau. Ibu
nggak mau kehiangan cucu ibu lagi (sambil menangis).
Bidan
Tere : tapi oma, jika tidak dilakukan
pengangkatan pun janin yang dikandung menantu oma juga tidak akan berkembang.
Oma
Sahid : anda ini bidan, disini juga
ada dokter, masa masalah seperti ini tidak bisa anda tangani. Bukankah anda
sudah mengetahui banyak hal, kenapa hanya untuk menyelamatkan cucu saya anda
tidak bisa? Tolong mengerti perasaan saya!
Bidan
Tere : oma tolong mengerti, ini bukan
hal biasa. Ini akan membahayakan menantu oma. Bukannya saya tidak bisa oma,
tapi memang kondisinya seperti ini,janin itu harus segera diangkat. (dengan
nada yang sedikit keras).
Oma
Sahid : pokoknya saya tidak mau!
Pak Herman dan Bidan Tere berusaha
memberikan pengertian kepada Oma Sahid. Namun Oma Sahid tetap tidak mau
mendengarkan penjelasan bidan. Sementara itu Bu Nurul dan Bu Marica sibuk
berbincang-bincang diruang tunggu.
Bu
Marica : kasihan Bu Hesti, sudah dua
kali dia mengalami hal seperti ini.
Bu
Nurul : iya Bu. Kasihan Oma juga.
Harusnya bu bidan mengerti dengan perasaan oma. Apa dia tega membunuh janin yang di kandung Bu Hesti, itu sama saja
seperti melakukan aborsi kan ? itu juga dosa, dilarang agama.
Bu
Marica : hhuussss...........nggak
boleh ngomong gitu. Mungkin memang seperti itu jalan satu-satunya.
Bu
Nurul : tapi gosipnya juga udah
gitu. Kehamilan Bu Hesti yang pertama kan dia yang menyarankan untuk mengangkat
janinnya. Selain itu si Mawar juga merelakan janinnya diangkat gara-gara saran
dia. Itu sama aja dia membunuh janinnya, dia juga bertanggung jawab toh.
Bu
Marica : kamu ini, dia bidan, dia
yang lebih tahu dari pada kita. Kita hanya lulusan SMP jangan banyak
berkomentar.
Bu
Nurul : emang benar seperti itu
gosipnya.
Bu
Marica : dasar tukang gosip.
Setelah beberapa lama memberi penjelasan
kepada oma, akhirnya oma mengerti dan merelakan janin yang di kandung Bu Hesti
diangkat.
Pak
Herman : ibu, mungkin ini sudah
jalannya. Ikhlaskan saja bu. Semoga nanti tidak terjadi hal seperti ini lagi.
Oma
Sahid : berat rasanya Man. Cucu yang
sudah lama ibu nantikan harus diangkat lagi.
Pak
Herman : sabar buu sabar...
Operasi pengangkatan janin pun
dilakukan. Selain melakukan operasi pengangkatan janin dilakukan pemotongan
saluran telur sebelah kiri, karena
disaluran telur tersebut janin melekat dan jika dibiarkan maka pertumbuhan
janin akan menyebabkan saluran telur membengkak atau pecah. Tuhan mengabulkan
doa Bu Hesti dan keluarga. Ibu Hesti hamil pasca operasi. Hamil dengan ovarium
satu. Dan tentunya kehamilan yang sekarang merupakan kehamilan yang normal.
Dilemanya
: ibu bidan merasa bingung antara
menuruti kemauan oma untuk tetap mempertahankan janin atau menyelamatkan ibu
karena akan membahayakan kondisi ibu. Selain itu bidan juga merasa bingung
menjelaskan kepada kepada oma tentang bahaya kehamilan ektopik ini, apakah
dengan cara yang halus atau cara yang lebih tegas lagi mengingat kondisi ibu
sekarang.
Issue
: masyarakat berfikir
pengangkatan janin yang dilakukan merupakan tindakan aborsi karena mereka tidak
memahami tentang masalah kehamilan ektopik tersebut. Jadi dimasyarakat beredar
issue bahwa bidan Tere sering memberi saran kepada ibu hamil yang mengalami
khasus yang sama seperti Bu Hesti untuk menggugurkan kandungannya.
Konflik
: konflik terjadi saat Bidan
Tere memberi penjelasan kepada Oma Sahid, karena Oma Sahid bersikeras
mempertahankan kandungan Bu Hesti. Disini Oma Sahid mengatakan bidan Tere
adalah bidan yang tidak becus dan tidak berkompeten.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar