Selasa, 09 Juni 2015

roleplay-kehamilan ektopik

ROLE PLAY
Kehamilan Ektopik
 







Oleh :

Kelompok 4
1.    Nurhana Muktiningtyas                                       (14140129)
2.    Muthohharoh Putri Rakhma Latifah Sahid          (14140126)
3.    Maria Marelis NN                                                (14140131)
4.    Resi Dian Purnama Sari                                       (14140158)
5.    Ni Putu Maydayanti                                             (14140161)
6.    Yunita                                                                  (14140178)
7.    Maria Tersiana Linda                                           (14140251)










PROGRAM STUDI D-IV BIDAN PENDIDIK
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA

Tema   : Kehamilan Ektopik
Tokoh  :
·         Ni Putu Maydayanti sebagai Bu Hesti
·         Maria Merelis NN sebagai Pak Herman
·         Muthohharoh Putri Rakhma Latifah Sahid sebagai Oma Sahid
·         Maria Tersiana Linda sebagai Bidan Tere
·         Nurhana Muktiningtyassebagai masyarakat (Bu Nurul)
·         Yunita sebagai masyarakat (Bu marica)
·         Resi dian Puranama Sari sebagai narator

Di sebuah desa, terdapat sebuah keluarga yang terdiri dari Pak Herman, Bu Hesti dan Oma Sahid yang merupakan mertua dari Bu Hesti. Bu Hesti sedang mengandung untuk kedua kalinya. Pada kehamilan yang pertama Bu Hesti mengalami kehamilan diluar janin dan merelakan janinnya untuk diangkat, maka dari itu Oma Sahid sangat berhati-hati dalam memperlakukan menantunya. Suatu hari Bu Hesti hendak membersihkan rumah, namun Oma Sahid melarangnya.
Oma Sahid      : aduh nduk, kamu ini ngeyel. Ibu bilang istirahat malah bersih-bersih rumah.
Bu Hesti          : ngga apa bu, saya bosan diam terus.
Oma Sahid      : namanya juga hamil, harus dijaga kandungannya. Sudah diam saja..nggak usah bersih-bersih.
Bu Hesti          : iya bu...

Bu Hesti pergi kekamarnya. Sore harinya saat Bu Hesti hendak mandi tiba-tiba Bu Hesti mengalami flek-flek coklat muda yang keluar dari vaginanya. Awalnya bu Hesti berfikir  flek-flek itu hanya sehari dan akan hilang keesokan harinya. Tetapi flek-flek tersebut berlangsung lama dan semakin lama warna flek menjadi coklat tua. Bu hesti merasa khawatir dan memanggil suaminya.
Bu Hesti          : mas... mas...
Pak Herman    : kenapa dik ?
Bu Hesti          : mas antar aku bidan ya. Aku mengalami flek-flek lagi mas.
Pak Herman    : iya dik, sana siap-siap dulu.

Pak Herman dan Bu Hesti bergegas pergi kerumah bidan.
Pak Herman    : bu bidan....bu bidan....
Bidan Tere      : iya pak. Mari pak,bu silahkan masuk.
Pak Hermnan  : bu bidan, istri saya mengalami flek-flek sudah seminggu lebih. Saya  khawatir, soalnya pada kehamilan sebelumnya istri saya mengalami kehamilan diluar janin dan gejalanya sama seperti yang sekarang bu.
Bidan Tere      : baiklah pak, saya akan memeriksa ibu terlebih dahulu. Bapak tunggu sebentar ya.

Bidan yang dibantu dengan dokter  mulai memeriksa Bu Hesti. Tidak disangka hasil pemeriksaan menyatakan jika tidak ada janin yang berkembang dirahim Bu Hesti, lalu bidan menyarankan Bu Hesti untuk melakukan testpack ulang untuk memastikan apakah Bu Hesti positif hamil atau tidak.
Bidan Tere      : bu, besok pagi tolong ibu teskpack ulang ya, sorenya ibu kesini lagi dan       jangan lupa membawa hasil testnya.  
Bu Hesti          : baik bu...

Pada pagi harinya Bu Hesti melakukan testpack ulang dan hasil testpacknya positif. Bu Hesti merasa sedikit lega. Pak Herman berangkat kerja, Bu Hesti langsung bersih-bersih ringan lalu makan dan istirahat. Tiba-tiba Bu Hesti mengalami nyeri didaerah perut bagian bawah dan mengalami perdarahan.
Bu Hesti          : ibu... ibu... (memanggil mertuanya ).
Oma Sahid      : astaga nduk! Kamu kenapa ?

Oma Sahid panik dan mencari bantuan keluar. Kebetulan saat itu Bu Nurul dan Bu Marica lewat didepan rumah Pak Herman.
Oma Sahid      : Bu Nurul, Bu Ica tolong menantu saya
Bu Nurul         : kenapa bu ?
Oma sahid       : tolong bu... tolong....

Mereka masuk kedalam rumah dan bergegas membawa Bu Hesti ke bidan. Setibanya disana, bidan langsung melakukan pemeriksaan dan Oma Sahid segera menelepon pak Herman. Beberapa saat kemudian bidan keluar.
Bidan Tere      : maaf oma, seperti yang saya duga sebelumnya Bu Hesti mengalami kehamilan ektopik atau kehamilan diluar rahim,  posisi janinnya berada disaluran telur ibunya. Sekarang janin yang sedang dikandung Bu hesti harus diangkat kalau tidak keadaan ini dapat membahayakan Bu Hesti.
Oma Sahid      : saya tidak mau, saya sudah lama menantikan kehadiran bayi ini. Dengan mudahnya ibu ingin membunuh calon cucu saya.
Bidan Tere      : bukan seperti itu oma. Jika tidak dilakukan pengangkatan janin, kondisi ini akan membahayakan ibunya. Memang sebaiknya dilakukan pengangkatan janin ini oma.

Tiba-tiba Pak Herman datang.
Pak Herman    : bu bidan,ada apa dengan istri saya ?
Bidan Tere      : begini pak, Bu Hesti mengalami kehamilan diluar rahim lagi. Sebaiknya dilakukan pengangkatan janin agar tidak membahayakan kondisi istri bapak.
Oma Sahid      : ibu tidak mau Man. Ibu sudah lama menunggu cucu ibu. Pokonya ibu tidak mau.
Pak Herman    : mau bagaimana lagi bu ?
Oma Sahid      : pokoknya ibu nggak mau. Ibu nggak mau kehiangan cucu ibu lagi (sambil menangis).
Bidan Tere      : tapi oma, jika tidak dilakukan pengangkatan pun janin yang dikandung menantu oma juga tidak akan berkembang.
Oma Sahid      : anda ini bidan, disini juga ada dokter, masa masalah seperti ini tidak bisa anda tangani. Bukankah anda sudah mengetahui banyak hal, kenapa hanya untuk menyelamatkan cucu saya anda tidak bisa? Tolong mengerti perasaan saya!
Bidan Tere      : oma tolong mengerti, ini bukan hal biasa. Ini akan membahayakan menantu oma. Bukannya saya tidak bisa oma, tapi memang kondisinya seperti ini,janin itu harus segera diangkat. (dengan nada yang sedikit keras).
Oma Sahid      : pokoknya saya tidak mau!

Pak Herman dan Bidan Tere berusaha memberikan pengertian kepada Oma Sahid. Namun Oma Sahid tetap tidak mau mendengarkan penjelasan bidan. Sementara itu Bu Nurul dan Bu Marica sibuk berbincang-bincang diruang tunggu.
Bu Marica       : kasihan Bu Hesti, sudah dua kali dia mengalami hal seperti ini.
Bu Nurul         : iya Bu. Kasihan Oma juga. Harusnya bu bidan mengerti dengan perasaan oma. Apa dia tega membunuh  janin yang di kandung Bu Hesti, itu sama saja seperti melakukan aborsi kan ? itu juga dosa, dilarang agama.
Bu Marica       : hhuussss...........nggak boleh ngomong gitu. Mungkin memang seperti itu jalan satu-satunya.
Bu Nurul         : tapi gosipnya juga udah gitu. Kehamilan Bu Hesti yang pertama kan dia yang menyarankan untuk mengangkat janinnya. Selain itu si Mawar juga merelakan janinnya diangkat gara-gara saran dia. Itu sama aja dia membunuh janinnya, dia juga bertanggung jawab toh.
Bu Marica       : kamu ini, dia bidan, dia yang lebih tahu dari pada kita. Kita hanya lulusan SMP jangan banyak berkomentar.
Bu Nurul         : emang benar seperti itu gosipnya.
Bu Marica       : dasar tukang gosip.

Setelah beberapa lama memberi penjelasan kepada oma, akhirnya oma mengerti dan merelakan janin yang di kandung Bu Hesti diangkat.
Pak Herman    : ibu, mungkin ini sudah jalannya. Ikhlaskan saja bu. Semoga nanti tidak terjadi  hal seperti ini lagi.
Oma Sahid      : berat rasanya Man. Cucu yang sudah lama ibu nantikan harus diangkat lagi.
Pak Herman    : sabar buu sabar...

Operasi pengangkatan janin pun dilakukan. Selain melakukan operasi pengangkatan janin dilakukan pemotongan saluran telur  sebelah kiri, karena disaluran telur tersebut janin melekat dan jika dibiarkan maka pertumbuhan janin akan menyebabkan saluran telur membengkak atau pecah. Tuhan mengabulkan doa Bu Hesti dan keluarga. Ibu Hesti hamil pasca operasi. Hamil dengan ovarium satu. Dan tentunya kehamilan yang sekarang merupakan kehamilan yang normal.






Dilemanya       : ibu bidan merasa bingung antara menuruti kemauan oma untuk tetap mempertahankan janin atau menyelamatkan ibu karena akan membahayakan kondisi ibu. Selain itu bidan juga merasa bingung menjelaskan kepada kepada oma tentang bahaya kehamilan ektopik ini, apakah dengan cara yang halus atau cara yang lebih tegas lagi mengingat kondisi ibu sekarang.

Issue                : masyarakat berfikir pengangkatan janin yang dilakukan merupakan tindakan aborsi karena mereka tidak memahami tentang masalah kehamilan ektopik tersebut. Jadi dimasyarakat beredar issue bahwa bidan Tere sering memberi saran kepada ibu hamil yang mengalami khasus yang sama seperti Bu Hesti untuk menggugurkan kandungannya.

Konflik           : konflik terjadi saat Bidan Tere memberi penjelasan kepada Oma Sahid, karena Oma Sahid bersikeras mempertahankan kandungan Bu Hesti. Disini Oma Sahid mengatakan bidan Tere adalah bidan yang tidak becus dan tidak berkompeten.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar