1. PERKEMBANGAN NILAI BUDAYA
Definisi Budaya
Budaya
adalah pengetahuan, cara hidup, kebiasaan, nilai dan norma serta perangkat
sosial yang dimiliki dan berkembang dalam sekelompok orang dan diwariskan dari
generasi ke generasi. Budaya ini dapat berupa materi abstrak, konkret
maupun fisik. Secara langsung maupun tidak langsung, budaya akan sangat
berpengaruh pada kesehatan masyarakat yang menganut suatu budaya. Hal ini
dikarenakan budaya sangat berkaitan dengan pola-pola hidup, pola pikir,
kebiasaan dan pandangan dalam suatu masyarakat.Indonesia yang yang terdiri
dari beragam etnis tentu memiliki banyak budaya dalam masyarakatnya. Terkadang,
budaya suatu etnis dengan etnis yang lain dapat berbeda jauh. Hal ini
menyebabkan suatu budaya yang positif, dapat dianggap budaya negatif di etnis
lainnya. Sehingga tidaklah mengherankan jika permasalahan kesehatan di
Indonesia begitu kompleksnya.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi perkembangan nilai budaya.
Menurut Munandar
Sulaiman (1992), faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan perkembangan nilai
budaya adalah :
a.
Jarak komunikasi antara kelompok
etnis.
Masih terdapat
jarak komunikasi antara kelompok etnis, hal yang sering menimbulkan konflik
budaya seseorang yang bergerak dari satu kelompiok etnis ke kelompok etnis yang
lain. Contoh migdrasi ke kelompok etnis yang berbeda mungkin menimbulkan
pergeseran sistem nilai budaya yang sudah ada di daerah kelompok etnis penduduk
asli, misalnya menganggap rendah status etnis pendatang (negatif), tetapi
mungkin juga etnis pendatang menjadi penggerak pembangunan di daerah kelompok
etnis penduduk asli (positif).
b.
Pelaksanaan pembangunan.
Pelaksanaan
pembangunan yang terus menerus akan dapat merubah sistem nilai ke arah yang
positif dan negatif.
Ø Pergeseran
sistem nilai yang mengarah ke perbaikan antara lain :
a)
Pola hidup tradisional, dan bertaraf
lokal yang berbau mistis, berubah menjadi pola hidup modern bertaraf
nasional-internasional yang berbasis ilmu pengetahuan dan teklnologi.
b)
Pola hidup sederhana yang hanya
bergantung pada alam lingkungan, meningkat menjadi pola hidup modern yang mampu
menguasai alam lingkungan dengan dukungan prasarana dan sarana serta teknologi.
Ø Pergeseran
sitem nilai yang mengarah negatif antara lain :
a) Penggusuran
hak milik seseorang untuk kepentingan pembangunan tanpa prosedur hukum yang
pasti dan tanpa ganti kerugian yang layak, bahkan tanpa ganti kerugian sama
sekali.
b) Mengurangi
atau meniadakan arti kemanusiaan seseorang memandang manusia sebagai obyek
sasaran yang selalu dikenai penertiban, serta hak asasinya tidak dihargai.
2. INIVIDU MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN
Individu
Individu berasal
dari kata latin individuum yang artinya tidak terbagi. Individu menekankan
penyelidikan kepada kenyataan-kenyataan hidup yang istimewa dan seberapa
mempengaruhi kehidupan manusia (Abu Ahmadi, 1991: 23). Individu bukan berarti
manusia sebagai suatu keseluruhan yang tidak dapat dibagi, melainkan sebagi
kesatuan yang terbatas, yaitu sebagai manusia perseorangan.
Individu adalah
seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan khas di dalam lingkungan
sosialnya,melainkan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku spesifik
dirinya. Terdapat tiga aspek yang melekat sebagai persepsi terhadap individu,
yaitu aspek organik jasmaniah, aspek psikis-rohaniah, dan aspek-sosial yang
bila terjadi kegoncangan pada suatu aspek akan membawa akibat pada aspek yang
lainnya. Individu dalam tingkah laku menurut pola pribadinya ada 3 kemungkinan:
pertama menyimpang dari norma kolektif kehilangan individualitasnya, kedua
takluk terhadap kolektif, dan ketiga memengaruhi masyarakat (Hartomo, 2004:
64).Individu tidak akan jelas identitasnya tanpa adanya suatu masyrakat yang
menjadi latar belakang keberadaanya. Individu berusaha mengambil jarak dan
memproses dirinya untuk membentuk perilakunya yang selaras dengan keadaan dan
kebiasaan yang sesuai dengan perilaku yang telah ada pada dirinya.
Manusia sebagai
individu salalu berada di tengah-tengah kelompok individu yang sekaligus
mematangkannya untuk menjadi pribadi yang prosesnya memerlukan lingkungan yang
dapat membentuknya pribadinya. Namun tidak semua lingkungan menjadi faktor
pendukung pembentukan pribadi tetapi ada kalanya menjadi penghambat proses
pembentukan pribadi.Pengaruh lingkungan masyarakat terhadap individu dan
khususnya terhadap pembentukan individualitasnya adalah besar, namun sebaliknya
individu pun berkemampuan untuk mempengaruhi masyarakat. Kemampuan individu
merupakan hal yang utama dalam hubungannya dengan manusia.
Keluarga
Keluarga adalah
sekelompok orang yang mendiami sebagian atau seluruh bangunan yang tinggal
bersama dan makan dari satu dapur yang tidak terbatas pada orang-orang yang
mempunyai hubungan darah saja, atau seseorang yang mendiami sebagian atau
seluruh bangunan yang mengurus keperluan hidupnya sendiri. Keluarga berasal
dari bahasa Sansekerta: kula dan warga “kulawarga” yang berarti “anggota”
“kelompok kerabat”. Keluarga adalah lingkungan di mana beberapa orang yang
masih memiliki hubungan darah, bersatu. Keluarga inti ”nuclear family” terdiri
dari ayah, ibu, dan anak-anak mereka.
Pengertian
Keluarga
Keluarga adalah
unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa
orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam
keadaan saling ketergantungan.(Menurut Departemen Kesehatan RI 1998).
Kumpulan
beberapa orang yang karena terikat oleh satu turunan lalu mengerti dan merasa
berdiri sebagai satu gabungan yang hakiki,esensial, enak dan berkehendak
bersama-sama memperteguh gabungan itu untuk memuliakan masing-masing
anggotanya. (Ki Hajar Dewantara)
Masyarakat
Dalam bahasa
inggris, masyarakat disebut society. Asal kata socius yang berarti
kawan. Adapun kata masyarakat berasal dari bahasa arab yang berarti berkumpul
dan bekerja sama. Adanya saling berkumpul dan bekerjasama ini karena adanya
bentuk-bentuk aturan hidup yang bukan disebabkan oleh manusia sebagai
perseorangan, melainkan oleh kekuatan lain dalam lingkungan sosial yang
merupakan kesatuan. Dengan menggunakan pikiran, naluri, perasaan, keinginan dsb
manusia memberi reaksi dan melakukan interaksi dengan lingkungannya. Pola
interaksi sosial dihasilkan oleh hubungan dalm suatu masyarakat.
Berikut dibawah
ini adalah beberapa pengertian masyarakat dari beberapa ahli sosiologi :
1.
Menurut Munandar Soelaeman masyarakat
merupakan kesatuan sosial yang mempunyai ikatan-ikatan kasih sayang yang erat.
Kesatuan sosial mempunyai kehidupan jiwa seperti adanya ungkapan jiwa rakyat,
kehendak rakyat, kesadaran masyarakat, dsb.
2.
Menurut Karl Marx masyarakat adalah
suatu struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan
akibat adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi secara
ekonomi.
3.
Menurut Emile Durkheim masyarakat
merupakan suatu kenyataan objektif pribadi-pribadi yang merupakan anggotanya.
4.
Menurut Paul B. Horton & C. Hunt
masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama
dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai
kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok atau
kumpulan manusia tersebut.
Dari pengertian
di atas dapat disimpulkan masyarakat adalah :
o
Kumpulan sekian banyak individu yang
terikat oleh satuan adat, hukum dan kehidupan bersama
o
Kesatuan sosial yang mempunyai hubungan
erat
o
Kumpulan individu-individu yang mandiri
dan hidup berdampingan dalam waktu yang cukup lama.
3. KONSEP NILAI, SISTEM NILAI, DAN SISTEM
SOSIAL
KONSEP
NILAI
Ada beberapa
pengertian tentang nilai, yaitu sebagai berikut :
Nilai adalah
sesuatu yang berharga, keyakinan yang dipegang sedemikian rupa oleh seseorang
sesuai denagn tututan hati nuraninya (pengertian secara umum). Nilai adalah
seperangkat keyakinan dan sikap-sikap pribadi seseorang tentang kebenaran,
keindahan, dan penghargaan dari suatu pemikiran, objek atau prilaku yang
berorientasi pada tindakan dan pemberian arah serta makna pada kehidupan
seseorang (simon,1973). Nilai adalah keyakinan seseorang tentang sesuatu yang
berharga, kebenaran atau keinginan mengenai ide-ide, objek, atau prilaku khusu
(Znowski, 1974)
Pancasila
merupakan sumber utama nilai – nilai di Indonesia. Adapun nilai nilai yang
terkandung pada pancasila antara lain:
a.
Nilai Ketuhanan
b.
Nilai Kemanusiaan
c.
Nilai Persatuan
d.
Nilai kerakyatan
e.
Nilai Keadilan
Nilai merupakan
suatu ciri, yaitu sebagai berikut:
o
Nilai-nilai membentuk dasar prilaku
seseorang
o
Nilai-nilai nyata dari seseorang
diperlihatkan melalui pola prilaku yang konsisten.
o
Nilai-nilai menjadi kontrol internal
bagi prilaku seseorang.
o
Nilai-nilai merupakan komponen
intelektual dan emosional dari seseorang yang secara intelektual diyakinkan
tentang sutu nilai serta memegang teguh dan mempertahan kannya.
SISTEM
NILAI
Tylor dalam Imran Manan (1989;19) mengemukakan moral termasuk
bagian dari kebudayaan, yaitu standar tentang baik dan buruk, benar dan salah,
yang kesemuanya dalam konsep yang lebih besar termasuk ke dalam ‘nilai’.
Hal ini di lihat dari aspek penyampaian pendidikan yang dikatakan bahwa
pendidikan mencakup penyampaian pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai.
Kedudukan nilai dalam setiap kebudayaan sangatlah penting, maka
pemahaman tentang sistem nilai budaya dan orientasi nilai budaya sangat penting
dalam konteks pemahaman perilaku suatu masyarakat dan sistem pendidikan yang
digunakan untuk menyampaikan sisitem perilaku dan produk budaya yang dijiwai
oleh sistem nilai masyarakat yang bersangkutan.
Sistem nilai budaya ini merupakan rangkaian dari konsep-konsep
abstrak yang hidup dalam masyarakat, mengenai apa yang dianggap penting dan
berharga, tetapi juga mengenai apa yang dianggap remeh dan tidak berharga dalam
hidup. Sistem nilai budaya ini menjado pedoman dan pendorong perilaku manusia
dalam hidup yang memanifestasi kongkritnya terlihat dalam tata kelakuan. Dari
sistem nilai budaya termasuk norma dan sikap yang dalam bentuk abstrak
tercermin dalam cara berfikir dan dalam bentuk konkrit terlihat dalam bentuk
pola perilaku anggota-anggota suatu masyarakat.
Kluckhohn mengemukakan kerangka teori nilai nilai yang mencakup
pilihan nilai yang dominan yang mungkin dipakai oleh anggota-anggota suatu
masyarakat dalam memecahkan 6 masalah pokok kehidupan.
SISTEM
SOSIAL
Menurut Talcot
Parson¢ Sistem = interdependensi antar bagian,
komponen
& proses yang mengatur hubungan-hubungan tersebut Interdepensi berarti tanpa 1 bagian/komponen
maka akan
mengalami guncangan. Suatu sistem akan terintegrasi ke suatu equilibrium Teori Sibenertika Parson: sistem sosial
merupakan¢
suatu sinergi antara berbagai sub sistem sosial yang saling mengalami
ketergantungan dan keterkaitan. Adanya
hubungan yang saling keterkaitan,¢ interaksi dan saling ketergantungan.
PERSYARATAN
SISTEM SOSIAL
Menurut TALCOTT
PARSON, ada 4 syarat fungsional agar sistem sosial bertahan:
1) ADAPTATION
(adaptasi)¢
2) GOAL
ATTAINMENT (pencapaian tujuan)¢
3) INTEGRATION
(integrasi)¢
4) LATENT
PATTERN MAINTENANCE (pemeliharaan pola¢ latent)
4. MORAL, ETIKA, NORMA, NILAI DAN AHKLAK
1. Pengertian
Moral, Akhlak, Nilai Dan Norma
A. Pengertian
Moral
Kata moral
berasal dari kata latin “mos”yang berarti kebiasaan. Moral berasal dari bahasa
latin yaitu Moralitas adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang
lainnya dalam tindakan yang mempunyai nilai positif. Manusia yang tidak
memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki
nilai positif dimata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal yang mutlak
yang harus dimiliki manusia. Moral secara umum adalah hal-hal yang berhubungan
dengan proses sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses
sosialisasi.
B. Pengertian
Akhlak
Dalam Kamus
Besar bahasa Indonesia, akhlak diartikan sebagai budi pekerti atau kelakuan.
Dalam Bahasa Arab kata akhlak (akhlaq) diartikan sebagai tabiat, perangai,
kebiasaan, bahkan agama. Meskipun kata akhlak berasal dari Bahasa Arab, tetapi
kata akhlak tidak terdapat di dalam Al Qur'an. Kebanyakan kata akhlak dijumpai
dalam hadis. Satu-satunya kata yang ditemukan semakna akhlak dalam al Qur'an
adalah bentuk tunggal, yaitu khuluq, tercantum dalam surat al Qalam ayat 4: Wa
innaka la'ala khuluqin 'adzim, yang artinya: Sesungguhnya engkau (Muhammad)
berada di atas budi pekerti yang agung. Sedangkan hadis yang sangat populer
menyebut akhlak adalah hadis riwayat Malik, Innama bu'itstu liutammima makarima
al akhlaqi, yang artinya: Bahwasanya aku (Muhammad) diutus menjadi Rasul tak
lain adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia.
Perjalanan keilmuan selanjutnya kemudian mengenal istilah-istilah adab (tatakrama), etika, moral, karakter disamping kata akhlak itu sendiri, dan masing-masing mempunyai definisi yang berbeda.
Menurut Imam Ghazali, akhlak adalah keadaan yang bersifat batin dimana dari sana lahir perbuatan dengan mudah tanpa dipikir dan tanpa dihitung resikonya (al khuluqu haiatun rasikhotun tashduru 'anha al afal bi suhulatin wa yusrin min ghoiri hajatin act_ fikrin wa ruwiyyatin. Sedangkan ilmu akhlak adalah ilmu yang berbicara tentang baik dan buruk dari suatu perbuatan. Dari definisi itu maka dapat difahami bahwa istilah akhlak adalah netral, artinya ada akhlak yang terpuji (al akhlaq al mahmudah) dan ada akhlak yang tercela (al akhlaq al mazmumah). Ketika berbicara tentang nilai baik buruk maka munculah persoalan tentang konsep baik buruk. Konsep baik buruk perspektip ilmu Akhlak berasal dari kata kholaqo yang artinya penciptaan, maka nilai kebaikan dari akhlaq basiknya adalah dari nilai kebaikan universal, yakni sifat-sifat kebaikan yang dimiliki oleh Tuhan Yang Maha Baik. Oleh karena itu sumber utama nilai akhlak adalah wahyu. Dari sinilah kemudian terjadi perbedaan konsep antara akhlak dengan etika.
Perjalanan keilmuan selanjutnya kemudian mengenal istilah-istilah adab (tatakrama), etika, moral, karakter disamping kata akhlak itu sendiri, dan masing-masing mempunyai definisi yang berbeda.
Menurut Imam Ghazali, akhlak adalah keadaan yang bersifat batin dimana dari sana lahir perbuatan dengan mudah tanpa dipikir dan tanpa dihitung resikonya (al khuluqu haiatun rasikhotun tashduru 'anha al afal bi suhulatin wa yusrin min ghoiri hajatin act_ fikrin wa ruwiyyatin. Sedangkan ilmu akhlak adalah ilmu yang berbicara tentang baik dan buruk dari suatu perbuatan. Dari definisi itu maka dapat difahami bahwa istilah akhlak adalah netral, artinya ada akhlak yang terpuji (al akhlaq al mahmudah) dan ada akhlak yang tercela (al akhlaq al mazmumah). Ketika berbicara tentang nilai baik buruk maka munculah persoalan tentang konsep baik buruk. Konsep baik buruk perspektip ilmu Akhlak berasal dari kata kholaqo yang artinya penciptaan, maka nilai kebaikan dari akhlaq basiknya adalah dari nilai kebaikan universal, yakni sifat-sifat kebaikan yang dimiliki oleh Tuhan Yang Maha Baik. Oleh karena itu sumber utama nilai akhlak adalah wahyu. Dari sinilah kemudian terjadi perbedaan konsep antara akhlak dengan etika.
C. Pengertian
Nilai
Pengertian nilai,
menurut Djahiri (1999), adalah harga, makna, isi dan pesan, semangat, atau jiwa
yang tersurat dan tersirat dalam fakta, konsep, dan teori, sehingga bermakna
secara fungsional. Disini, nilai difungsikan untuk mengarahkan, mengendalikan,
dan menentukan kelakuan seseorang, karena nilai dijadikan standar perilaku.
Sedangkan menurut Dictionary dalam Winataputra (1989), nilai adalah harga atau
kualitas sesuatu. Artinya, sesuatu dianggap memiliki nilai apabila sesuatu
tersebut secara instrinsik memang berharga.
D. Pengertian
Norma
Pengertian norma adalah
tolok ukur/alat untuk mengukur benar salahnya suatu sikap dan tindakan manusia.
Normal juga bisa diartikan sebagai aturan yang berisi rambu-rambu yang
menggambarkan ukuran tertentu, yang di dalamnya terkandung nilai benar/salah.
Norma yang berlaku dimasyarakat Indonesia ada lima, yaitu (1) norma agama, (2)
norma susila, (3) norma kesopanan, (4) norma kebiasan, dan (5) norma hukum,
disamping adanya norma-norma lainnya. Pelanggaran norma biasanya
mendapatkan sanksi, tetapi bukan berupa hukuman di pengadilan. Menurut anda apa
sanksi dari pelanggaran norma agama? Sanksi dari agama ditentukan oleh Tuhan.
Oleh karena itu, hukumannya berupa siksaan di akhirat, atau di dunia atas
kehendak Tuhan. Sanksi pelanggaran/ penyimpangan norma kesusilaan adalah moral
yang biasanya berupa gunjingan dari lingkungannya. Penyimpangan norma kesopanan
dan norma kebiasaan, seperti sopan santun dan etika yang berlaku di
lingkungannya, juga mendapat sanksi moral dari masyarakat, misalnya berupa
gunjingan atau cemooh. Begitu pula norma hukum, biasanya berupa aturan-aturan
atau undang-undang yang berlaku di masyarakat dan disepakati
bersama. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa norma
adalah petunjuk hidup bagi warga yang ada dalam masyarakat, karena norma
tersebut mengandung sanksi. Siapa saja, baik individu maupun kelompok, yang
melanggar norma dapat hukuman yang berwujud sanksi, seperti sanksi agama dari
Tuhan dan dapartemen agama, sanksi akibat pelanmggaran susila, kesopanan,
hukum, maupun kebiasaan yang berupa sanksi moral dari masyarakat.
2. Menganalisis
Perbedaan Moral, Akhlak, Nilai Dan Norma
Selain ada
persamaan antara akhlak, etika, moral dan susila sebagaimana diuraikan di atas
terdapat pula beberapa segi perbedaan yang menjadi ciri khas masing-masing dari
keempat istilah tersebut. Berikut ini adalah uraian mengenai segi-segi
perbedaan yang dimaksud: Akhlak merupakan istilah yang bersumber dari
Al-Qur’an dan al-Sunnah. Nilai-nilai yang menentukan baik dan buruk, layak atau
tidak layak suatu perbuatan, kelakuan, sifat, dan perangai dalam akhlak
bersifat universal dan bersumber dari ajaran Allah. Sementara itu, etika
merupakan filsafat nilai, pengetahuan tentang nilai-nilai, dan kesusilaan
tentang baik dan buruk. Jadi, etika bersumber dari pemikiran yang mendalam dan
renungan filosofis, yang pada intinya bersumber dari akal sehat dan hati
nurani. Etika besifat temporer, sangat tergantung kepada aliran filosofis yang
menjadi pilihan orang-orang yang menganutnya.
3. Pentingnya
Agama Sebagai Moral Dan Akhlak Dalam Kehidupan
Akhlak merupakan
garis pemisah antara yang berakhlak dengan orang yang tidak berakhlak. Akhlak
juga merupakan roh Islam yang mana agama tanpa akhlak samalah seperti jasad
yang tidak bernyawa, karena salah satu misi yang dibawa oleh Rasulullah saw
ialah membina kembali akhlak manusia yang telah runtuh sejak zaman para nabi
yang terdahulu mulai pada jaman penyembahan berhala oleh pengikutnya yang telah
menyeleweng.
Simpulan
Nilai
adalah suatu ukuran terhadap suatu objek tertentu. Moral adalah nilai-nilai dan
norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam
mengatur tingkah lakunya. Seseorang yang bersikap sesuai dengan nilai, akhlak,
norma dan moral yang diyakininya dan diaplikasikan dalam kehidupan akan
memperoleh kehidupan yang lebih baik. Jadi, Moral, akhlak, nilai dan
norma merupakan hal yang paling penting dalam pembentukan akhlakul karimah
seorang manusia
5. PANDANGAN NILAI MASYARAKAT TERHADAP
INDIVIDU KELUARGA DAN MASYARAKAT
A. Konsep
Individu dan Keluarga
Dalam ilmu
sosial, individu merupakan bagian terkecil dari kelompok masyarakat yang tidak
dapat dipisah lagi menjadi bagian yang lebih kecil. Keluarga sebagai kelompok
sosial yang terkecil yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak. Ayah merupakan
individu yang sudah tidak dapat dibagi lagi, demikian pula ibu. Anak masih
dapat dibagi, sebab dalam suatu keluarga jumlah anak dapat lebih dari satu.
Individu sebagai manusia perseorangan pada dasarnya dibentuk oleh tiga aspek,
yaitu aspek organ jasmaniah, psikis rohaniah, dan sosial.
Dalam
perkembangannya menjadi manusia sebagaimana kita ketahui bersama, individu
tersebut menjalani sejumlah bentuk sosialisasi. Sosialisasi tersebut membantu
individu mengembangkan ketiga aspek tersebut. Salah satu bentuk sosialisasi
adalah pola pengasuhan anak di dalam keluarga, sebab salah satu fungsi keluarga
adalah sebagai media transmisi nilai, norma, dan simbol yang di anut masyarakat
kepada anggotanya yang baru. Di masyarakat terdapat berbagai bentuk keluarga
yang dalam proses pengorganisasiannya mempunyai latar belakang, maksud, dan
tujuannya sendiri. Pranata keluarga ini bukan merupakan fenomena yang tetap,
melainkan sebuah fenomena yang berubah, karena di dalam pranata keluarga
terjadi sejumlah krisis. Krisis tersebut oleh sebagian kalangan dikhawatirkan
akan meruntuhkan pranata keluarga. Akan tetapi, bagi kalangan yang lain, apa
pun krisis yang terjadi, pranata keluarga ini akan tetap survive.
B. Konsep
Masyarakat dan Kebudayaan
Masyarakat
adalah sekumpulan individu yang mengadakan kesepakatan bersama untuk secara
bersama-sama mengelola kehidupan. Terdapat berbagai alasan mengapa
individu-individu tersebut mengadakan kesepakatan untuk membentuk kehidupan
bersama. Alasan tersebut meliputi alasan biologis, psikologis, dan sosial. Pembentuk
kehidupan bersama itu sendiri terjadi melalui beberapa tahapan, yaitu
interaksi, adaptasi, pengorganisasian tingkah laku, dan terbentuknya perasaan
kelompok. Setelah melewati tahapan tersebut, terbentuk apa yang dinamakan
masyarakat yang bentuknya, antara lain masyarakat pemburu dan peramu, peternak,
holtikultura, petani, industri, dan lain sebagainya. Di dalam tubuh masyarakat
itu sendiri terdapat unsur-unsur persekutuan sosial, pengendalian sosial, media
sosial, dan ukuran sosial. Pengendalian sosial di dalam masyarakat
dilakukan melalui beberapa cara yang pada dasarnya bertujuan mengontrol tingkah
laku warga masyarakat agar tidak menyeleweng dari apa yang telah disepakati
bersama. Walaupun demikian, tidak berarti bahwa apa yang telah disepakati bersama
tersebut tidak pernah berubah. Elemen-elemen di dalam tubuh masyarakat selalu
berubah yang cakupannya dapat bersifat mikro maupun makro. Apa yang menjadi
kesepakatan bersama warga masyarakat adalah kebudayaan, yang antara lain
diartikan sebagai pola-pola kehidupan di dalam komunitas. Kebudayaan disini
dimengerti sebagai fenomena yang dapat diamati yang wujud kebudayaannya adalah
sebagai suatu sistem sosial yang terdiri atas serangkaian tindakan yang berpola
yang bertujuan memenuhi keperluan hidup. Serangkaian tindakan berpola atau
kebudayaan dimiliki individu melalui proses belajar yang terdiri
atas proses internalisasi, sosialisasi, dan enkulturasi.
C. Konsep
Keluarga sebagai Masyarakat
Banyak ahli
menguraikan pengertian tentang keluarga sesuai dengan perkembangan sosial
masyarakat, berikut ini pengertian keluarga menurut beberapa ahli :
1. Bergess
(1962), yang dimaksud keluarga adalah kelompok orang yang mempunyai ikatan
perkawinan, keturunan/ hubungan sedarah atau hasil adopsi ; anggotanya tinggal
bersama dalam satu rumah, anggota berinteraksi dan berkomunikasi dalam peran
sosial, dan mempunyai kebiasaan/ kebudayaan yang berasal dari masyarakat,
tetapi mempunyai keunikan tersendiri.
2. WHO
(1969), keluarga adalah anggota rumah tangga yang saling berhubungan melalui
pertalian darah, adopsi, dan perkawinan.
Kesimpulan
Individu sebagai
manusia perseorangan pada dasarnya dibentuk oleh tiga aspek, yaitu aspek organ
jasmaniah, psikis rohaniah, dan social. Dalam perkembangannya menjadi manusa
sebagaimana kita ketahui bersama, individu tersebut menjalani sejumlah bentuk
sosialisasi.Sedangkan masyarakat adalah sekumpulan individu yang mengadakan
kesepakatan bersama untuk secara bersama-sama mengelola kehidupan.
Dalam suatu
keluarga ada beberapa fungsi yang dapat dijalankan keluarga, sebagai berikut
meliputi funsi biologis, psikologis, sosialis, pendidikan, ekonomi. Dan untuk
mengidentifikasikan lima fungsi dasar keluarga, yaitu fungsi afektif, fungsi
sosialisasi, fungsi reproduksi, fungsi ekonomi, dan fungsi perawatan
keluarga. Tugas kesehatan keluarga menurut friedman di kutip oleh balion
dan maglaya (1978) itu mengenal masalah kesehatan keluarga , membuat keputusan
tindakan kesehatan yang tepat, memberi perawatan pada anggota yang sakit, mempertahankan
suasana rumah yang sehat, dan menggunakan fasilitas kesehatan yang ada di
masyarakat.
6. KONSEP DASAR MASYARAKAT
Definisi Masyarakat
Kontjaraningrat (1990)
Masyarakat adalah sekumpulan
manusia yang saling bergaul, atau dengan istilah lain saling berinteraksi.
Kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat
tertentu yang bersifat kontinyu dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama.
(Effendy, N, 1998)
Soerdjono Soekanto (1982)
Masyarakat atau komunitas
adalah menunjuk pada bagian masyarakat yang bertempat tinggal di suatu wilayah
(dalam arti geografi) dengan batas-batas tertentu, dimana yang menjadi dasarnya
adalah interaksi yang lebih besar dari anggota-anggotanya, dibandingkan dengan
penduduk di luar batas wilayahnya.
Mac Iaver (1957)
Masyarakat adalah sekelompok
manusia yang mendiami territorial tertentu dan adanya sifat-sifat yang saling
tergantung, adanya pembagian kerja dan kebudayaan bersama.
Linton (1936)
Masyarakat merupakan
sekelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerja sama, sehingga dapat
mengorganisasikan diri dan berpikir tentang dirinya sebagai satu kesatuan
sosial dengan batas-batas tertentu.
Ciri-ciri Masyarakat
Dari berbagai pengertian di
atas maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat itu memiliki cirri-ciri sebagai
berikut:
1. Interaksi
diantara sesama anggota masyarakat
2. Menempati
wilayah dengan batas-batas tertentu
3. Saling
tergantung satu dengan lainnya
4. Memiliki
adat istiadat tertentu/kebudayaan
5. Memiliki
identitas bersama
Ciri-ciri Masyarakat Indonesia
Dilihat dari struktur sosial dan kebudayaan masyarakat Indonesia
dibagi dalam 3 kategori dengan ciri-ciri sebagai berikut:
Masyarakat desa
o
Hubungan keluarga dan masyarakat sangat
kuat
o
Hubungan didasarkan kepada adat istiadat yang
kuat sebagai organisasi sosial
o
Percaya kepada kekuatan-kekuatan gaib
o
Tingkat buta huruf relative tinggi
Masyarakat madya
o
Hubungan keluarga masih tetap kuat, dan hubungan kemasyarakatan
mulai mengendor
o
Adat istiadat masih dihormati, dan sikap masyarakat mulai
terbuka dari pengaruh luar
o
Timbul rasionalitas pada cara berpikir, sehingga kepercayaan
terhadap kekuatan-kekuatan gaib mulai berkurang dan akan timbul kembali apabila
telah kehabisan akal
o
Timbul lembaga pendidikan formal dalam masyarakat terutama
pendidikan dasar dan menengah
3. Ciri-ciri
masyarakat modern
a. Hubungan
antar manusia didasarkan atas kepentingan-kepentingan pribadi
b. Hubungan
antar masyarakat dilakuakn secara terbuka dalam suasana saling pengaruh mempengaruhi
c. Kepercayaan
masyarakat yang kuat terhadap manfaat ilmu pengetahuan dan teknologi sabagai
sarana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat
d. Strata
masyarakat digolongkan menurut profesi dan keahlian yang dapat dipelajari dan
ditingkatkan dalam lembaga-lembaga ketrampilan dan kejuruan
Di dalam sebuah masyarakat, terdiri dari
berbagai macam kelompok menurut fase tumbuh kembang yang dialami, yang mencakup
masa neonatus, bayi, toddler, prasekolah, sekolah, remaja, dewasa muda, tengah
baya, dewasa tua dan lansia (Hamid A, 1999),
7. PROSES PEMBENTUKAN MASYARAKAT
Terbentuknya
Masyarakat
Sejalan
dengan pemahaman masyarakat diatas maka menurut teori sibernetik tentang
General System Of Action (Ankie M.M.. Hoogvelt : 1985) menjelaskan bahwa suatu
masyarakat akan dapat dianalisis dari sudut syarat-syarat fungsionalnya yaitu .
1) Fungsi
mempertahankan pola (Pettern Maintenance)
Fungsi
ini berkaitan dengan hubungan antara masyarakat sebagai sistem sosial dengan
sub sistem kebudayaan. Hal itu berarti mempertahankan prinsip-prinsip tertinggi
dari masyarakat, oleh kerena diorientasikan realitas yang terakhir.
2) Fungsi
integrasi
Yang mana
mencakup jaminan terhadap koordinasi yang diperlukan antara unit-unit dari
suatu sistem sosial, khususnya yang berkaitan dengan kontribusinya pada
organisasi dan peranannya dalam keseluruhan sistem.
3) Fungsi
pencapaian tujuan (Goal Attaindment),
Hal
ini menyangkut hubungan antara masyarakat sebagai sistem sosial dengan sub
sistem aksi kepribadian. Fungsi ini menyangkut penentuan tujuan-tujuan yang
sangat penting bagi masyarakat, mobilisasi warga masyarakat untuk mencapai
tujuan-tujuan tersebut.
4) Fungsi
adaptasi
Yang
menyangkut hubungan antara masyarakat sebagai sistem sosial dengan sub sistem
organisme perilaku dan dengan dunia fisik organik. Hal ini secara umum
menyangkut penyesuaian masyarakat terhadap kondisi-kondisi dari lingkungan
hidupnya.
Menurut
Soekanto (1982), selama dalam suatu masyarakat ada sesuatu yang dihargai, dan
setiap masyarakat mempunyai sesuatu yang berharga, maka hal ini akan menjadi
bibit yang dapat menumbuhkan adanya sistem pelapisan dalam masyarakat. Sesuatu
yang dihargai didalam masyarakat itu mungkin berupa uang atau benda-benda yang
bernilai ekonomis, mungkin juga berupa tanah, kekuasaan, ilmu pengetahuan,
kesolehan dalam beragama atau mungkin juga keturunan dari keluarga yang
terhormat.
Tingkatan
dalam Masyarakat
Stratifikasi
sosial (Sosial Stratification) atau klasifikasi masyarakat merupakan
pembedaan penduduk atau masyarakat kedalam kelas-kelas secara bertingkat
(secara hierarkhis).
Sorokin
dalam Abdul Syani (1994) memperinci ciri umum adanya pelapisan dalam masyarakat
kedalam beberapa bagian, yaitu :
1. Pemilikan
atas kekayaan yang bernilai ekonomis dalam berbagai bentuk dan ukuran; artinya
strata dalam kehidupan masyarakat dapat dilihat dari nilai kekayaan seseorang
dalam masyarakat.
2. Status
atas dasar fungsi dalam pekerjaan, misalnya sebagai dokter, dosen, buruh atau
pekerja teknis dan sebagainya semua ini sangat menentukan status seseorang
dalam masyarakat.
3. Kesolehan
seseorang dalam beragama, jika seseorang sungguh-sungguh penuh dengan ketulusan
dalam menjalankan agamanya, maka status seseorang tadi akan dipandang lebih
tinggi oleh masyarakat.
4. Status
atas dasar keturunan, artinya keturunan dari orang yang dianggap terhormat
(ningrat) merupakan ciri seseorang yang memiliki status tinggi dalam masyarakat.
8.
MASYARAKAT
KOTA DAN DESA
Pada mulanya
masyarakat kota sebelumnya adalah masyarakat pedesaan, dan pada akhirnya
masyarakat pedesaan tersebut terbawa sifat-sifat masyarakat perkotaan, dan
melupakan kebiasaan sebagai masyarakat pedesaannya.
Perbedaan masyarakat
pedesaan dan masyarakat kota adalah bagaimana cara mereka mengambil sikap dan
kebiasaan dalam memecahkan suata permasalahan.
Karakteristik
umum masyarakat pedesaan yaitu masyarakat desa selalu memiliki ciri-ciri dalam
hidup bermasyarakat, yang biasa nampak dalam perilaku keseharian mereka. Pada
situasi dan kondisi tertentu, sebagian karakteristik dapat dicontohkan pada
kehidupan masyarakat desa di jawa. Namun dengan adanya perubahan sosial dan
kebudayaan serta teknologi dan informasi, sebagian karakteristik tersebut sudah
tidak berlaku. Berikut ini ciri-ciri karakteristik masyarakat desa, yang
terkait dengan etika dan budaya mereka yang bersifat umum.
1.
Sederhana
2.
Mudah curiga
3.
Menjunjung tinggi norma-norma yang
berlaku didaerahnya
4.
Mempunyai sifat kekeluargaan
5.
Lugas atau berbicara apa adanya
6.
Tertutup dalam hal keuangan mereka
7.
Perasaan tidak ada percaya diri terhadap
masyarakat kota
8.
Menghargai orang lain
9.
Demokratis dan religious
10.
Jika berjanji, akan selalu diingat
Pengertian desa/pedesaan
Desa adalah suatu
kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan
tersendiri, atau desa merupakan perwujudan atau kesatuan goegrafi ,sosial,
ekonomi, politik dan kultur yang terdapat ditempat itu (suatu daerah), dalam
hubungan dan pengaruhnya secara timbal balik dengan daerah lain. Suatu pedesaan
masih sulit umtuk berkembang, bukannya mereka tidak mau berkembang tapi suatu
hal yang baru terkadang bertentangan dengan apa yang leluhur hereka ajarkan
karna itu masyarakat pedasaan sangat tertutup dengan hal-hal yang baru karena
mereka masih memegang teguh adat-adat yang leluhur mereka ajarkan.
Ciri-ciri masyarakat
pedesaan
Ada beberapa ciri yang
menonjol pada masyarakat pedesaan yaitu :
Ø Kehidupan didesa
masyarakatnya masih memegang teguh keagamaan atau adat dari leluhur mereka.
Ø Warga pedesaan
lebih condong saling tolong-menolong tidak hidup individualisme
Ø Warga pedesaan
mayoritas memiliki pekerjaan sebagai petani.
Pengertian Kota
Kota adalah suatu
pemilihan yang cukup besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang
heterogen kedudukan sosialnya, apabila penghuni setempatnya dapat memenuhi
sebagian besar kebutuhan ekonominya dipasar. Dari beberapa pendapat secara
umum dapat dikatakan mempunyani ciri-ciri mendasar yang sama. Pengertian kota
dapat dikenakan pada daerah atau lingkungan komunitas tertentu dengan tingkatan
dalam struktur pemerintahan.
Ciri-ciri masyarakat
Perkotaan
Ada beberapa ciri yang
menonjol pada masyarakat perkotaan, yaitu :
Ø Kehidupan
keagamaannya berkurang, kadangkala tidak terlalu dipikirkan karena memang
kehidupan yang cenderung kearah keduniaan saja.
Ø Orang kota pada
umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus berdantung pada orang
lain (Individualisme).
Ø Pembagian kerja
diantara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang
nyata.
Ø Kemungkinan-kemungkinan
untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota.
9.
SUMBER DAYA SARANA
KESEHATAN PEDESAAN DAN PERKOTAAN
Sumber Daya di Desa
Tingkat kepercayaan masyarakat desa terhadap
petugas kesehatan masih rendah karena mereka masih percaya kepada dukun,
sehingga kita perlu untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat desa tentang
dunia medis.
Sarana Kesehatan
1. Puskesmas
Di desa untuk saat ini hampir 100% sudah
membangun puskesmas untuk mensejahterakan masyarakatnya. Secara konseptual,
puskesmas menganut konsep wilayah dan diharapkan dapat melayani sasaran jumlah penduduk
yang ada di wilayah masing-masing.
2. BPS (Bidan Praktek
Swasta)
Merupakan salah satu sumber daya yang dapat
mensejahterakan kesehatan ibu dan anak. Di BPS bidan dapat memberikan
penyuluhan yang dapat meningkatkan kesehatan ibu dan anak di wilayah tersebut,
khususnya di daerah pedesaan.
3. Sarana Kesehatan di
Desa Bersumber Daya Masyarakat
Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan
kesehatan kepada masyarakat berbagai upaya dilakukan dengan memanfaatkan
potensi dan sumber daya yang ada di masyarakat. Upaya kesehatan bersumber daya
masyarakat (UKBM) diantaranya adalah:
a.
Posyandu
b.
PKK
c.
Pos Obat
Desa (POD)
d.
Polindes
e.
Sarana Tenaga Kesehatan
f.
Bidan Desa
g.
Dukun
Bersalin
Sumber Daya di Kota
v Sarana Kesehatan
1. Puskesmas
2. Rumah Sakit
3. Klinik Bersalin
4. Sarana produksi dan distribusi sedian dan alat kesehatan
v Sarana Tenaga
Kesehatan
1. Dokter Kandungan
2. Bidan
3. Apoteker
4. Perawat
5. Ahli Gizi
6. Tenaga Kesehata Masyarakat
110. PERMASALAHAN SOSIAL MASYARAKAT PEDESAAN DAN PERKOTAAN
Pengertian
Masyarakat
Masyarakat
merupakan hubungan-hubungan dalam hidup bersama dan tidak dibatasi oleh
lingkungan, bangsa dan sebagainya. Masyarakat dalam arti sempit yaitu
sekelompok manusia yang dibatasi oleh aspek-aspek tertentu misalnya teritorial,
bangsa, golongan dsb.
*PERMASALAHAN
SOSIAL MASYARAKAT PERKOTAAN
Menurut Soerjono Soekanto masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.
Menurut Soerjono Soekanto masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.
Masalah
sosial muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam
masyarakat dengan realita yang ada. Yang dapat menjadi sumber masalah sosial
yaitu seperti proses sosial dan bencana alam. Adanya masalah sosial dalam
masyarakat ditetapkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan khusus seperti
tokoh masyarakat, pemerintah, organisasi sosial, musyawarah masyarakat, dan
lain sebagainya.
Masalah sosial dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) jenis faktor, yakni antara lain :
1.Faktor Ekonomi : Kemiskinan, pengangguran, dll.
2.Faktor Budaya : Perceraian, kenakalan remaja, dll.
3.Faktor Biologis : Penyakit menular, keracunan makanan, dsb.
4. Faktor Psikologis : penyakit syaraf, aliran sesat, dsb
*PERMASALAHAN
SOSIAL MASYARAKAT PEDESAAN
Masyarakat
Pedesaan (masyarakat tradisional)
A. Pengertian
desa/pedesaan
Yang dimaksud
dengan desa menurut Sutardjo Kartodikusumamengemukakan sebagai berikut:
Desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat
pemerintahan tersendiri
Contoh permasalahan
di pedesaan yaitu :
1.
Lemahnya posisi sumber daya alam
2.
Lemahnya posisi sumber daya manusia didalam pedesaan
3.
Kurangnya penguasaan teknologi yang menyebabkan masyarakat
pedesaan sukar mendapatkan informasi.
4.
Lemahnya infrastruktur dan lemahnya aspek kelembagaan didalam
pedesaan
5.
Sulit untuk mendapatkan pekerjaan
6.
Kurangnya pengetahuan sosial sehingga mudah ditipu oleh
masyarakat kota
7.
Konflik/pertengkaran yang biasanya berkisar dari masalah
sehari-hari/rumah tangga
8.
Kontroversi yang disebabkan dari perubahan konsep adat
istiadat dan kebudayaan
9.
Kompetisi dan persaingan yang negatif bila menunjukan sifat
iri
Dari semua hal diatas dapat kita ketahui
perbedaan-perbedaan permasalahan sosial didalam masyarakat perkotaan dan
pedesaan, sehingga dapat diketahui perbedaan permasalahan sosial dalam hal :
·
Jumlah dan kepadatan penduduk
·
Lingkungan hidup
·
Mata pencaharian
·
Corak kehidupan social
·
Stratifiksi social
·
Mobilitas social
·
Pola interaksi social
·
Solidaritas sosial
11. POLARISASI
DESA KOTA
Polarisasi Beragama Masyarakat Pedesaan
Modernisasi dan globalisasi
mempercepat proses polarisasi beragama masyarakat pedesaan. Kalau kita
menggunakan kategori Clifford Geertz untuk melihat varian keberagamaan
masyarakat Indonesia yaitu abangan-priyayi-santri, maka saat ini varian itu
sudah mengalami perubahan yang signifikan. Saat ini sulit untuk mendapatkan
varian keberagamaan seperti itu di masyarakat khususnya varian abangan dan
bahkan sudah banyak bergeser ke arah varian putihan (santri). Keberhasilan
dakwah Islam oleh berbagai organisasi agama di Indonesia baik yang konservatif,
tradisional, maupun yang modernis telah merubah secara signifikan varian
keberagamaan masyarakat; keberagamaan masyarakat Indonesia telah mengalami
polarisasi, demikian juga di masyarakat pedesaan. Demikian pula varian
masyarakat priyayi dan wong cilik-nya Kuntowijoyo juga sulit untuk ditemukan
dalam konteks kontemporer. Keberhasilan pembangunan dan dakwah Islam telah
mengaburkan disparitas masyarakat pedesaan baik secara sosial maupun keagamaan.
Pola keberagamaan masyarakat kontemporer termasuk di pedesaan tidak lagi bisa
dipisahkan berdasarkan organisasi Islam tertentu seperti Nahdhatul Ulama (NU)
atau Muhammadiyah, namun perpaduan antara keduanya dan juga varian-varian Islam
lain juga sudah semakin beragam muncul di masyarakat. Akhirnya muncul di
perkotaan maupun pedesaan berbagai aliran Islam, organisasi-organisasi Islam
hingga tokoh-tokoh agama dari berbagai varian Islam. Banyak hal yang
menyebabkan polarisasi (sosial) masyarakat pedesaan. Pertama, semakin melemahnya
tradisi atau sistem adat di masyarakat pedesaan. Seiring dengan menguatnya
struktur pemerintah modern, maka sistem adat mulai berkurang secara signifikan.
Ini bisa terlihat dengan jelas dengan semakin turunnya pamor ketua adat atau
pemimpin tradisional masyarakat pedesaan. Contoh konkrit dalam hal ini adalah
berkurangnya lembaga-lembaga lokal seperti paguyuban dll. Kedua, globalisasi
dan dakwah Islam. Globalisasi telah mengaburkan nilai-nilai lokal dan hal ini
didukung oleh dakwah Islam yang semakin giat dilakukan oleh berbagai organisasi
Islam baik nasional maupun trans-nasional. John Naisbitt menggambarkan dengan
sangat baik bahwa low tech menyebabkan high touch dan high tech menyebabkan low
touch.
12. UBRANISASI DAN UBRANISME
Urbanisasi adalah
perpindahan penduduk dari desa ke kota.
Urbanisasi adalah masalah yang cukup serius bagi kita semua. Persebaran
penduduk yang tidak merata antara desa dengan kota akan menimbulkan berbagai
permasalahan kehidupan sosial kemasyarakatan. Jumlah peningkatan penduduk kota
yang signifikan tanpa didukung dan diimbangi dengan jumlah lapangan pekerjaan,
fasilitas umum, aparat penegak hukum, perumahan, penyediaan pangan, dan lain
sebagainya tentu adalah suatu masalah yang harus segera dicarikan jalan
keluarnya.
Untuk mendapatkan suatu niat untuk hijrah atau
pergi ke kota dari desa, seseorang biasanya harus mendapatkan pengaruh yang
kuat dalam bentuk ajakan, informasi media massa, impian pribadi, terdesak
kebutuhan ekonomi, dan lain sebagainya.
Pengaruh-pengaruh tersebut bisa dalam bentuk
sesuatu yang mendorong, memaksa atau faktor pendorong seseorang untuk
urbanisasi, maupun dalam bentuk yang menarik perhatian atau faktor penarik. Di
bawah ini adalah beberapa atau sebagian contoh yang pada dasarnya dapat
menggerakkan seseorang untuk melakukan urbanisasi perpindahan dari pedesaaan ke
perkotaan.
Penyebab urbanisasi atau perpindahan penduduk perdesaan ke perkotaan terjadi
karena adanya daya tarik (pull factors) dari perkotaan dan daya dorong (push factors) dari perdesaan. Faktor Pendorong dari
Desa:
·
Faktor pendorong dan desa yang menyebabkan terjadinya urbanisasi
sebagai beriikut.
·
Terbatasnya kesempatan kerja atau lapangan kerja di desa.
·
Tanah pertanian di desa banyak yang sudah tidak subur atau
mengalami kekeringan.
·
Kehidupan pedesaan lebih monoton (tetap/tidak berubah) daripada
perkotaan.
Faktor Penarik dari
Kota
·
Faktor penarik dan kota yang menyebabkan terjadinya urbanisasi
sebagai berikut.
·
Kesempatan kerja lebih banyak dibandingkan dengan di desa.
·
Upah kerja tinggi.
·
Tersedia beragam fasilitas kehidupan, seperti fasilitas
pendidikan, kesehatan, transportasi, rekreasi, dan pusat-pusat perbelanjaan.
Adapun dampak negatif urbanisasi bagi desa
sebagai berikut:
·
Desa kekurangan tenaga kerja untuk mengolah pertanian.
·
Perilaku yang tidak sesuai dengan norma setempat sering
ditularkan dan kehidupan kota.
·
Desa banyak kehilangan penduduk yang
berkualitas.
Dampak negatif urbanisasi bagi kota sebagai
berikut.
·
Timbulnya pengangguran.
·
Munculnya tunawisma dan gubuk-gubuk liar di tengah-tengah kota.
·
Meningkatnya kemacetan lalu lintas.
·
Meningkatnya kejahatan, pelacuran, perjudian, dan bentuk masalah
sosial lainnya.
Pengertian
Urbanisme
Dalam kepustakaan geografi pandangan seorang geografiwan terhadap “urbanisasi” ini ialah sebuah kota sebagai sesuatu yang integral, dan untuk memiliki pengaruh atau merupakan unsure yang dominan dalam system keruangan yang lebih luas tanpa mengabaikan adanya jalinan yang erat antara aspek politik, social dan aspek ekonomi dengan wilayah disekitarnya.
Dalam kepustakaan geografi pandangan seorang geografiwan terhadap “urbanisasi” ini ialah sebuah kota sebagai sesuatu yang integral, dan untuk memiliki pengaruh atau merupakan unsure yang dominan dalam system keruangan yang lebih luas tanpa mengabaikan adanya jalinan yang erat antara aspek politik, social dan aspek ekonomi dengan wilayah disekitarnya.
Konsep
urbanisme
Pendekatan pragmatis terhadap urbanisme
mempromosikan tindakan di atas refleksi. Pragmatisme menekankan budaya inklusi
di dalam kota di mana kontradiksi dan bekerja perselisihan untuk membangun
kebenaran kuat. Inti dari pragmatisme tetap dalam kehidupan sehari-hari
kontemporer di daerah perkotaan sebagai bahan filosofis utama. Meskipun
ekspresi telah digunakan selama lebih dari satu abad, itu bukanlah konsep
tetap. Sementara dunia bahwa gerakan berakar di memiliki banyak perubahan,
sebagai bingkai untuk melihat dunia, pragmatisme juga mengalami berbagai
tingkat modifikasi. Perubahan tersebut sangat relevan dengan perkembangan kota
dan tema dasar pragmatisme dapat diterapkan pada urbanisme bahkan lebih kuat.
Menurut Bernstein, “tema ini juga aplikasi
dasar urbanisme.” Sebagai pragmatisme berbagi sejarah perkembangan dengan
kota-kota modern, baik pragmatis dan praktisi perkotaan telah mempengaruhi satu
sama lain. Dewey mengatakan bahwa interaksi adalah pengalaman manusia. “Untuk
hidup ada pawai terganggu seragam atau aliran Ini adalah hal sejarah,
masing-masing dengan plot sendiri, awal sendiri dan gerakan menuju penutupan,
masing-masing memiliki gerakan yang berirama tertentu sendiri; masing-masing
dengan kualitas yang tidak berulang sendiri meresapi ke seluruh. ”
13.
DASAR DAN SIFAT STRATIFIKASI
Stratifikasi sosial akan selalu ditemukan
dalam masyarakat selama dalam masyarakat ada sesuatu yang dihargai. Adapun
dasar atau ukuran yang biasa dipakai untuk menggolongkan anggota msyarakat ke
dalam suatu lapisan sosial adalah sebagai berikut.
Ukuran
kekayaan
Ukuran
kekuasaan
Ukuran
kehormatan
Ukuran
ilmu pengetahuan
Keempat ukuran di atas bukanlah bersifat
limitif, artinya masih ada ukuran lain yang dapat dipergunakan dalam kriteria
penggolongan pelapisan sosial dalam masyarakat, namun ukuran di ataslah yang
paling banyak digunakan sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial.
Faktor-faktor
penyebab Terbentuknya stratifikasi sosial Faktor-faktor penyebab Terbentuknya
stratifikasi sosial dalam masyarakat didukung oleh: a. Perbedaan ras dan
kebudayaan b. Adanya spesialisasi dalam bidang pekerjaan. c. Adanya kelangkaan
dalam masyarakat menyangkut pembagian hak dan kewajiban. 1.3 Dasar-dasar
stratifikasi sosial Kriteria untuk menggolongkan masyarakat ke golongan
tertentu ditentukan oleh: a. Kekayaan. b. Kekuasaan. c. Kehormatan. d. Pendidikan/pengetahuan.
1.4 Unsur-unsur stratifikasi sosial Stratifikasi sosial memiliki dua unsur
yaitu: a. Status b. Peran Status Adalah posisi seseorang
dalam suatu kelompok sosial. 3 cara memperoleh
status:
·
Ascribe Status, merupakan kedudukan yang
di peroleh seseorang melalui kelahiran.
·
Achived Status, merupakan status atau
kedudukan seseorang yang diperoleh melalui usaha-usaha yang disengaja.
·
Assigned Status, merupakan status atau
kedudukan yang diberikan.
Peran Adalah
perilaku yang sesungguhnya dari orang yang melakukan
peranan. Menurut Soerjono Soekanto di dalam
peran mengandung tiga hal:
·
Norma-norma di dalam masyarakat.
·
Konsep tentang yang dilakukan
·
Perilaku individu
Sifat-sifat
stratifikasi sosial Stratifikasi memiliki sifat, yaitu:
Stratifikasi
Terbuka Adalah Setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk naik ke
pelapisan sosial yang lebih tinggi karena kemampuan dan kecakapannya sendiri,
atau turun ke pelapisan sosial yang lebih rendah bagi mereka yang tidak cakap
dan tidak beruntung. Contoh Masyarakat di negara industri maju atau masyarakat
pertanian yang telah mengalami gelombang modernisasi.
Stratifikasi
Campuran Adalah Stratifikasi gabungan antara stratifikasi terbuka dan tertutup.
Contoh Kehidupan masyarakat Bali, walaupun budaya masyarakatnya tertutup,
tetapi secara ekonomi sistem pelapisan sosialnya bersifat terbuka.
14.
CIRI ADANYA STRATIFIKASI
Ciri-ciri
Stratifikasi Sosial
Adanya stratifikasi sosial membuat sekelompok orang memiliki ciri-ciri yangberbeda
dalam hal kedudukan, gaya hidup, dan perolehan sumber daya. Ketigaciri
stratifikasi sosial adalah sebagai berikut.1)Perbedaan Kemampuan Anggota masyarakat dari kelas (strata) tinggi memiliki kemampuan lebihtinggi
dibandingkan dengan anggota kelas sosial di bawahnya. Misalnya, orangkaya
tentu mampu membeli mobil mewah, rumah bagus, dan membiayaipendidikan anaknya
sampai jenjang tertinggi. Sementara itu, orang miskin,harus bejuang keras untuk
biaya hidup sehari-hari.2)Perbedaan Gaya HidupGaya hidup meliputi
banyak hal, seperti mode pakaian, model rumah, seleramakanan, kegiatan
sehari-hari, kendaraan, selera seni, cara berbicara, tata kramapergaulan,
hobi (kegemaran), dan lain-lain. Orang yang berasal dari kelas atas(pejabat
tinggi pemerintahan atau pengusaha besar) tentu memiliki gaya
hidup yang berbeda dengan orang kelas bawah. Orang kalangan atas biasanyaberbusana
mahal dan bermerek, berlibur ke luar negeri, bepergian denganmobil mewah atau
naik pesawat, sedangkan orang kalangan bawah cukupberbusana dengan bahan
sederhana, bepergian dengan kendaraan umum, danberlibur di tempat-tempat wisata
terdekat.3)Perbedaan Hak dan Perolehan Sumber DayaHak adalah sesuatu yang
dapat diperoleh atau dinikmati sehubungan dengankedudukan seseorang, sedangkan
sumber daya adalah segala sesuatu yangbermanfaat untuk mendukung kehidupan
seseorang. Semakin tinggi kelas sosialseseorang maka hak yang diperolehnya
semakin besar, termasuk kemampuanuntuk memperoleh sumber daya. Misalnya, hak
yang dimiliki oleh seorangdirektur sebuah perusahaan dengan hak yang dimiliki
para karyawan tentuberbeda. Penghasilannya pun berbeda. Sementara itu, semakin
besarpenghasilan seseorang maka semakin besar kemampuannya untuk
memperolehhal-hal lain.
Kesimpulan
Stratifikasi sosial adalah strata
atau pelapisan orang-orang yang berkedudukan sama dalam rangkaian kesatuan
status sosial dan memiliki sikap, nilai-nilai dan gaya hidup yang sama.
Esensi dari stratifikasi sosial
adalah setiap individu memiliki beberapa posisi sosial dan masing-masing orang
memerankan beberapa peran untuk mengklasifikasikan individu-individu tersebut
ke dalam kategori status-peran. Cara mempelajari stratifikasi sosial yaitu
dengan Pendekatan Obyekti, Pendekatan Subyektif dan Pendektan Reputasional.
Proses terjadinya stratifikasi sosial yaitu terjadi secara otomatis, karena
faktor-faktor yang dibawa individu sejak lahir.
15. UNSUR-UNSUR STRATIFIKASI SOSIAL
1.
Kedudukan (status)
Kedudukan
adalah sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial,
sehubungan dengan orang lain dalam kelompok tersebut. Sedangkan kedudukan
sosial adalah tempat seseorang secara umum dalam masyarakat sehubungan dengan
orang lain, dalam arti lingkungan pergaulannya, prestisenya, hak-hak serta
kewajiban-kewajibannya. Kedudukan sosial tidak hanya kumpulan kedudukan
kedudukan seseorang dalam kelompok yang berbeda, tetapi kedudukan sosial
mempengaruhi kedudukan orang tadi dalam kelompok sosial yang berbeda.
Menurut Pitirim Sorokin, untuk mengukur status dapat dilihat dari :
- Jabatan
/ pekerjaan
- Ilmu
pengetahuan
- Kekayaan
- Agama
- Politis
, keturunan
Menurut
Soerjono Soekanto , dimensi stratifikasi sosial meliputi :
- Kekayaan
- Kekuasaan
- Ilmu
pengetahuan
- Kehormatan
- Kes
2. Peran (role)
Peran
merupakan aspek dinamis dari kedudukan artinya, seseorang telah menjalankan hak
dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya. Peran menyangkut 3 hal :
1. Peran
meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan kedudukan seseorang dalam
masyarakat
2. Peran
merupakan suatu konsep tentang apa yang dilakukan individu dalam masyarakat
- Peran
merupakan sebagai perilaku indidvidu yang penting dalam struktur sosial
Macam-macam
peran (atas dasar pelaksanaannya):
- Peran
yang diharapkan
Contoh :
hakim, diplomatik, protokoler, dll
2. Peran yang disesuaikan
Peran
yang disesuaikan mungkin tidak cocok dengan situasi setempat. Peran ini
sifatnya lebih luwes
Macam-macam
peran (atas dasar cara memperolehnya):
- Peran
bawaan (ascribed roles)
Yaitu,
peran yang diperoleh secara otomatis tanpa melalui usaha.
Contoh :
peran ayah , peran ibu
2. Peran pilihan (achieved Roles)
Yaitu ,
peran yang diperoleh atas dasar keputusan sendiri
Contoh :
seseorang yang memutuskan untuk kuliah di UNAIR
Tidak ada komentar:
Posting Komentar