KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
rahmat dan karuinia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang “Sistem Banjar
di Bali”. Dan kami juga berterima kasi kepada Ibu Vitrianingsih selaku dosen
mata kuliah Ilmu Sosial Budaya dasar yang telah memberikan tugas ini kepada
kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan dan pengetahuan kita tentang sistem banjar di Bali. Kami juga menyadari
dalam makalah ini terdapat banyak kekurangandan jauh dari kata sempurna. Maka
dari itu, kami berharap adanya kritik dan saran baik dari dosen pembingbing dan
teman-teman lainnya demi makalah yang
kami buat ini, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang
membangun.
Semoga makalah ini dapat dipahami bagi siapapun yang membaca. Sekiranya
makalah yang telah kami susun ini dapat berguna baik bagi kami maupun orang
yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan
kata-yang yang kurang berkenan.
Yogyakarta, 05
April 2015
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................................1
DAFTAR ISI.............................................................................................................................2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...................................................................................................................3
1.2 Rumusan Masalah..............................................................................................................3
1.3 Tujuan................................................................................................................................3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sistem Banjar...................................................................................................4
2.2 Macam-macam Banjar.......................................................................................................5
2.3 Cara Pendekatan Sistem Banjar di Bali.............................................................................6
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan........................................................................................................................7
3.2 Saran..................................................................................................................................7
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................8
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Budaya adalah
suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok
orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari
banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas,pakaian, bangunan, dan karya seni.
Agama yang dianut
oleh sebagian orang Bali adalah agama Hindu sekitar 95%, dari jumlah penduduk
Bali, sedangkan sisanya 5% adalah penganut agama Islam, Kristen, Katholik, Budha,
dan Kong Hu Cu. Tujuan hidup ajaran Hindu adalah untuk mencapai keseimbangan
dan kedamaian hidup lahir dan batin.orang Hindu percaya adanya 1 Tuhan dalam
bentuk konsep Trimurti, yaitu wujud Brahmana (sang pencipta), wujud Wisnu (sang
pelindung dan pemelihara), serta wujud Siwa (sang perusak). Tempat beribadah
dibali disebut pura. Tempat-tempat pemujaan leluhur disebut sangga. Kitab suci
agama Hindu adalah weda yang berasal dari India.
Kehidupan sosial
budaya masyarakat Bali sehari-hari hampir semuanya dipengaruhi oleh keyakinan
mereka kepada agama Hindu Darma yang mereka anut sejak beberapa abad yang lalu.
Oleh karena itu studi tentang masyarakat dan kebudayaan Bali tidak bisa
dilepaskan dari pengaruh sistem religi Hindu.
Berdasarkan uraian
di atas, penulis tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang sistem organisasi
dan kemasyarakatan di Bali.
1.2 Rumusan
Masalah
1.2.1 Apa yang
dimaksud dengan sistem banjar ?
1.2.2 Apa saja
macam-macam banjar ?
1.2.3 Bagaimana
cara-cara pendekatan sistem banjar di Bali ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan sistem banjar.
1.3.2 Untuk mengetahui macam-macam banjar.
1.3.3 Untuk mengetahui cara-cara pendekatan sistem banjar di Bali.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian sistem banjar.
Di samping kelompok-kelompok
kerabat patrilineal yang mengikat orang Bali berdasarkan atas prinsip
keturunan. Ada pula bentuk kesatuan-kesatuan social yang didasarkan atas
kesatuan wilayah, ialah desa.
Kesatuan-kesatuan
social serupa itu kesatuan yang diperkuat oleh kesatuan adat dan
upacara-upacara kegamaan yang keramat. Pada umumnya tampak beberapa perbedaan
antara desa adat di pegunungan dan desa adat di tanah datar. Desa-desa adat
dipegununggan biasanya sifatnya lebih kecil dan keanggotaannya terbatas pada
orang asli yang lahir didesa itu juga.
Sesudah kawin,
orang itu langsung menjadi warga desa adat (karma desa) dan mendapat tempat
duduk yang khas dib alai desa yang disebut bale agung, dan berhak mengikuti
rapat-rapat desa yang diadakan secara teratur pada hari-hari yang tetap.
Desa-desa adat di tanah datar. Desa-desa adat di pegunungan biasanya sifatnya
lebih kecil dan keanggotaannya terbatas pada orang asli yang lahir didesa itu
juga.
Sesudah kawin,
orang itu langsung menjadi warga desa adat (krama desa ) dan mendapat tempat
duduk yang khas di balai desa yang disebut bale agung, dan berhak mengikuti
rapat-rapat desa yang diadakan secara teratur pada hari-hari tatap. Desa-desa
adat di tanah datar biasanya sifatnya besar dan meliputi daerah yang tersebar
luas. Demikian sering terdapat differensisasi kedalam kesatuan-kesatuan adat
yang khusus didalamnya, yang disebut banjar. Sifat keanggotaan banjar tidak
tertutup dan terbatas kepada orang-orang asli yang lahir di dalam banjar itu
juga.
Demikian kalau ada
orang-orang dari wilayah-wilayah lain atau yang lahir di banjar lain, yang
kebetulan tinggal di sekitar wilayah banjar yang bersangkutan, mau menjadi
warga, hal itu bisa saja. Pusat dari banjar adalah bale banjar dimana para
warga banjar saling bertemu dan berapat pada hari-hari yang tetap. Banjar di
kepalai oleh seorang kepala yang disebut kelian banjar (kliang). Ia pilih untuk
suatu masa jabatan yang tertentu oleh warga banjar. Tugasnya tidak hanya
menyangkut segala urusan dalam lapangan kehidupan sosial dari banjar sbagai
satu komuniti, tetepi juga lapangan kehidupan keagamaan. Kecuali itu, ia sering
kali harus juga memecahkan hal-hal yang menyangkut hukum adat tanah dan
dianggap ahli dalam adat banjar pada umumnya.
Adapun soal-soal
yang bersngkutan dengan irigasi dan pertanian. Biasanya berada diluar
wewenangnya. Hal itu adalah wewenang organisasi irigasi subak, yang telah
tersebut diatas. Walaupun demikian, di dalam rangka tugas administratif: dimana
ia bertanggung jawab kepada pemerintah di atasnya, ia bahkan tak dapat
melepaskan diri sama sekali dari soal-soal irigasi danp pertanian di banjarnya.
Disamping mengurus persoalan ibadat, baik mengenai banjar sendiri, maupun warga
banjar, klian banjarjuga mengurus hala-hal yang sifatnya administratif
pemerintahan.
2.2 Macam-macam
banjar
2.2.1 Banjar Adat
Banjar Adat adalah suatu
organisasi sosial yang dimiliki oleh setiap desa adat dibali. Karena salah satu
syarat terbentuknya desa adat harus memiliki beberapa banjar adat. Banjar adat
memiliki ikatan satu khayangan tiga dalam desa adat itu sendiri. Setiap banjar
adat wajib memiliki Kelian Adat sebagai pemimpin banjar adat itu sendiri.
Anggota banjar adat itu sendiri merupakan warga asli diwilayah tersebut.
Sifat-sifat banjar adat yaitu :
·
Keanggotaan bersifat
homogen yaitu beragama sama (Hindu).
·
Kegiatan sosialnya
meliputi pasuka-dukaan (suka-duka).
·
Diikat dengan
awig-awig.
·
Dipimpin oleh klian
adat.
·
Bersifat otonom.
2.2.2 Banjar Dinas
Banjar Dinas adalah suatu organisasi sosial yang boleh atau
tidak dimiliki oleh setiap desa adat (tidak diwajibkan) di Bali. Banjar dinas
hanya mengikuti kegiatan atau peraturan dinas di dalam desa adat tersebut,
seperti pengurusan KTP, domisili atau hal dinas lainnya. Anggota banjar dinas
merupakan orang – orang yang tidak asli dari desa adat tersebut. Angoota banjar
dinas berasal dari orang – orang luar yang merantau atau sudah lama tinggal di
dalam desa adat tersebut.
Sifat-sifat banjar dinas yaitu :
·
Keanggotaannya
bersifat heterogen.
·
Kegiatan
sosialnya tergantung dari program pemerintah.
·
Diikat
oleh peraturan atau undang-undang dari pemerintah.
·
Dipimpin
oleh klian dinas.
2.3
Cara pendekatan sistem banjar di Bali.
Dalam kelompok-kelompok yang
mengikat orang bali berdasarkan atas prinsip keturunan ada pula bentuk
kesatuan-kesatuan sosial yang berdasarkan kesatuan wilayah,ialah desa.
Kesatuan-kesatuan sosial serupa itu kesatuan yang diperkuat oleh adat dan
upacara-upacara. Keagamaan yang keramat. Pada umumnya tampak beberapa
perbedaan antara desa dipegunungan dan desa di tanah datar. Menjadi warga desa
adat dan mendapat tempat duduk yang khas dibalai desa yang disebut bale
agung,dan berhak mengikuti rapat-rapat desa yang di adakan secara teratur pada
hari-hari tetap.
CARA-CARA
PENDEKATAN BIDAN DALAM WILAYAH DI BANJAR BALI.
Para
bidan mempunyai berbagai cara untuk pendekatan diantaranya :
1. Menggerakan dan membina peran serta masyarakat dalam
bidang kesehatan contohnya memberikan penyuluhan sesuai dengan kebutuhan dan
permasalahan kesehatan setempat.
2. Pemerintah memberikan,menerapkan,dan menjalankan
PosKesDes(pos kesehatan desa),yang ditunjukan kepada seluruh masyarakat.
3. Guna penyuluhan masyarakat bertujuan untuk dapat
menghasilkan perubahan perilaku yang lestari untuk keluarganya,individu
keluarga dan masyarakat itu sendiri.
4. Penyuluhan kesehatan masyarakat ditujukan untuk
memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
5. Membina dan memberikan bimbingan dan tekhnis kepada
kader termaksud dukun,(peran bidan sebagai pendidik).bersama kelompok dan
masyarakat menanggulangi masalah kesehatan yang berhubungan dengan kesehatan
para ibu,anak,dan KB.
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Agama yang dianut
oleh sebagian orang Bali adalah agama Hindu sekitar 95%, dari jumlah penduduk
Bali, sedangkan sisanya 5% adalah penganut agama Islam, Kristen, Katholik,
Budha, dan Kong Hu Cu. Kehidupan sosial budaya masyarakat Bali sehari-hari
hampir semuanya dipengaruhi oleh keyakinan mereka kepada agama Hindu Darma yang
mereka anut sejak beberapa abad yang lalu.
Perkawinan
merupakan suatu saat yang amat penting dalam kehidupan orang Bali, karena pada
saat itulah ia dapat dianggap sebagai warga penuh dari masyarakat, dan baru
sesudah itu ia memperoleh hak-hak dan kewajiban seorang warga komuniti dan
warga kelompok kerabat. Menurut anggapan adat lama yang amat dipengaruhi oleh
sistem klen-klen (dadia) dan sistem kasta (wangsa), maka perkawinan itu sedapat
mungkin dilakukan diantara warga se-klen, atau setidak-tidaknya antara orang
yang dianggap sederajat dalam kasta.
Sistem
kemasyarakatan orang Bali ialah banjar, subak, sekaha, gotong royong
Pola perkampungan/
permukiman orang Bali dari segi strukturnya dibedakan atas dua jenis, yaitu:
pola perkampungan mengelompok padat dan pola perkampungan menyebar.
3.2
SARAN
Sebagai generasi
muda, hendaknya kita turut serta dalam melestariikan budaya bangsa. Sistem
organisasi dan kemasyarakatan di bali merupakan salah satu kebudayaan yang
patut kita lestarikan. masih banyak lagi kebudayaan-kebudayaan lain yang
membuthkan perhatian dari kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar