Selasa, 09 Juni 2015

kasus penerapan IT dalam kebidanan

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karuinia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang “Kasus Terkini Penerapan IT dalam Bidang Kebidanan”. Dan kami juga berterima kasi kepad selaku dosen mata kuliah aplikasi komputer dan IT dalam praktek kebidanan yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan dan pengetahuan kita tentang standar-standar dalam melakukan pelayanan di kebidanan. Kami juga menyadari dalam makalah ini terdapat banyak kekurangandan jauh dari kata sempurna. Maka dari itu, kami berharap adanya kritik dan saran baik dari dosen pembingbing dan teman-teman lainnya  demi makalah yang kami buat ini, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah ini dapat dipahami bagi siapapun yang membaca. Sekiranya makalah yang telah kami susun ini dapat berguna baik bagi kami maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-yang yang kurang berkenan.

           
Yogyakarta, 25 Maret 2014



Penulis





DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................1
DAFTAR ISI.................................................................................................2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang.........................................................................................3
1.2  Rumusan Masalah....................................................................................3
1.3  Tujuan......................................................................................................4
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian inkubator...............................................................................5
2.2 Cara kerja inkubator................................................................................6
2.3 Fungsi inkubator bagi bayi prematur.......................................................7
2.4 Kasus yang terjadi saat menggunakan inkubat........................................9
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan ............................................................................................12
3.2 Saran.......................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................13











BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Saat ini perkembangan teknologi sudah demikian pesat, dilihat dari bermunculan aplikasi-aplikasi alat yang membantu mempermudah manusia. Demikian pula dengan peralatan di rumah sakit. Pengenalan alat-alat laboratorium penting dilakukan untuk keselamatan kerja saat melakukan penelitian maupun perawatan bagi pasien. Alat-alat laboratorium biasanya dapat rusak atau bahkan berbahaya jika penggunaannya tidak sesuai dengan prosedur.
Oleh sebab itu kami membuat makalah ini sebagai pengenalan alat-alat laboratorium khususnya inkubator yang dewasa ini banyak digunakan sehubungan dengan makin meningkatnya tingkat angka kelahiran bayi. Agar  dapat diketahui cara-cara penggunaan alat tersebut dengan baik dan benar, Sehingga kesalahan prosedur pemakaian alat dapat diminimalisir sedikit mungkin. Hal ini penting supaya saat melakukan penelitian atau perawatan, data yang diperoleh akan benar pula. Data-data yang tepat akan meningkatkan kualitas penelitian seseorang
 Penggunaan inkubator bayi sangat vital digunakan bagi bayi yang baru lahir, penjagaan suhu yang pas sangat diperlukan bayi dikarenakan perubahan suhu luar yang tidak stabil dan selalu berubah-ubah. Umumnya, setiap perawat harus terus memantau perubahan suhu inkubator, apakah suhu yang diterima sudah pas dengan suhu yang dibutuhkan.

1.2  Rumusan Masalah
1.2.1        Apa yang di maksud dengan inkubator?
1.2.2        Bagaimana cara kerja inkubator?
1.2.3        Apa fungsi inkubator bagi bayi prematur?
1.2.4        Apa saja kasus yang terjadi dalam penggunaan inkubator?


1.3  Tujuan
1.3.1         Untuk nengetahui apa sebenarnya pengertian dari inkubator.
1.3.2         Untuk memahami bagaimana cara kerja dari inkubator.
1.3.3         Untuk mengetahui apa saja fungsi inkubator bagi bayi prematur.
1.3.4        Untuk mengetahui apa saja kasus yang terjadi dalam penggunaan inkubator.

























BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Inkubator
Inkubator adalah alat yang digunakan untuk tumbuh dan memelihara budaya mikrobiologi atau kultur sel. Inkubator mempertahankan suhu optimal, kelembaban dan kondisi lain seperti karbon dioksida (CO2) dan kandungan oksigen dari atmosfer di dalam. Inkubator sangat penting untuk banyak pekerjaan eksperimental dalam biologi sel, mikrobiologi dan biologi molekuler dan digunakan untuk kultur bakteri baik serta sel eukariotik.
Inkubator juga digunakan dalam industri perunggasan untuk bertindak sebagai pengganti ayam. Ini sering mengakibatkan tingkat menetas lebih tinggi karena kemampuan untuk mengendalikan suhu dan kelembaban. Berbagai merek inkubator yang tersedia secara komersial untuk peternak.
Inkubator sederhana berbentuk kotak dengan pemanas disesuaikan, biasanya naik ke 60 sampai 65 ° C (140-150 ° F), meskipun beberapa incubator bisa  memiliki suhu yang sedikit lebih tinggi (umumnya tidak lebih dari 100 ° C). Yang paling umum digunakan adalah incubator untuk bakteri seperti E. coli sering digunakan serta untuk sel mamalia adalah sekitar 37 ° C, sebagai organisme ini tumbuh baik di bawah kondisi seperti itu. Untuk organisme lain yang digunakan dalam eksperimen biologi, seperti Saccharomyces cerevisiae ragi pemula, suhu pertumbuhan 30 ° C adalah optimal.
Inkubator yang lebih rumit juga dapat mencakup kemampuan untuk menurunkan suhu (melalui pendinginan), atau kemampuan untuk mengendalikan kelembaban atau tingkat CO2. Hal ini penting dalam budidaya sel mamalia, dimana kelembaban relatif biasanya> 95% dan pH yang agak asam dicapai dengan mempertahankan tingkat CO2 dari 5%.
Kebanyakan inkubator menggunakan timer, beberapa juga dapat diprogram untuk siklus melalui temperatur yang berbeda, tingkat kelembaban, dll. Inkubator dapat bervariasi dalam ukuran dari meja ke unit-unit ukuran kamar kecil.
Inkubator adalah alat untuk menginkubasi atau memeram mikroba pada suhu yang terkontrol (umumnya di atas suhu ambient) serta dilengkapi dengan pengatur suhu dan pengatur waktu.
Ø Semakin kecil ukuran inkubator maka semakin rentan perubahan suhunya saat pintu inkubator dibuka.
Ø Perlu dipertimbangkan pula keseragaman suhu yang ada didalam dengan memperhatikan pola penempatan elemen pemanas atau terdapatnya kipas penyebar suhu. Pintu kaca yang terdapat pada beberapa model dibiarkan tertutup saat melihat biakan secara sekilas bertujuan supaya tidak terjadi penurunan suhu.
2.2  Cara Kerja Inkubator
Inkubator Bayi merupakan salah satu alat medis yang berfungsi untuk menjaga suhu sebuah ruangan supaya suhu tetap konstan atau stabil. Pada modifikasi manual-otomatis inkubator bayi , terdapat sebuah boks kontrol yang dibagi menjadi 2 bagian (bagian atas dan bagian bawah).
Boks bagian atas digunakan untuk meletakkan sensor , display sensor , kontroler , rangkaian elektronik. Sedangkan pada boks bagian bawah dibagi menjadi 3 ruangan yang dibatasi dengan sekat , yang digunakan untuk meletakkan heater , tempat atau wadah air dan kipas. Sensor yang digunakan adalah sensor suhu (PT100) dan sensor kelembapan , dimana sensor suhu PT100 dan sensor kelembapan diletakkan di dalam boks tidur bayi (di luar boks kontrol).
Pada sensor suhu PT100 dan sensor kelembapan terdapat display yang sekaligus sebagai driver sensor yang digunakan untuk mengetahui serta
memberikan setting suhu dan kelembapan dalam ruangan boks tidur bayi. Yang menjadi actuator dari alat ini adalah heater dan kipas. Heater berfungsi sebagai pemanas ruangan , sedangkan kipas berfungsi untuk menyalurkan udara panas yang dipancarkan heater menuju ruangan tempat air dan menuju boks tidur bayi melalui selang.
Inkubator berfungsi untuk menjaga stabilitas suhu tubuh bayi. Suhu inkubator diatur sehingga cukup hangat baginya, disesuaikan dengan berat lahir, atau usia kehamilan. Soal lamanya diinkubator, tergantung pada kondisi bayi. “Semakin cepat lahir, dia harus diinkubator kira-kira sampai cukup bulan dan bisa beradaptasi dengan dunia luar. Jika saat dirawat ternyata terkena infeksi, bisa lebih lama lagi.
Lahir prematur bisa diperkirakan, hal ini terlihat antara lain dari kontraksi sang ibu. Jika kontraksi terjadi sebelum waktunya, bukan tak mungkin bayi akan lahir prematur. Perdarahan yang disebabkan oleh plasenta yang tak bagus atau posisinya tak normal, membuat dokter akan melakukan tindakan operasi untuk mengeluarkan bayi, demi keselamatan bayi. Kelahiran secara prematur, bisa menimbulkan masalah baru pada bayi.
Selain kondisinya lebih rentan, dibandingkan bayi yang lahir cukup bulan, bayi prematur juga biasanya mengidap penyakit kuning. Sebab, sel darah merah pada bayi prematur jumlahnya lebih banyak, daripada bayi yang lahir pada kondisi normal, dan lebih gampang pecah. Sementara, fungsi hatinya belum bekerja sempurna. Sel pecah inilah yang menjadi bilirubin (hasil pemecahan hemoglobin yang terkandung di dalam sel darah merah) tinggi, dan menyebabkan bayi lahir kuning.
Kondisi ibu yang juga berpengaruh pada bayi adalah suhu badan yang panas tinggi dan adanya infeksi menjelang persalinan.Oleh sebab itu, menjaga kondisi, lingkungan, serta peduli dengan segala masalah yang mungkin akan timbul selama masa kehamilan dan persalinan, sangat perlu dilakukan oleh para calon ibu. Sehingga, berbagai masalah serta penyakit yang akan terwarisi kepada sang bayi, dapat dicegah dan diobati sedini mungkin.

2.3 Fungsi Inkubator Bagi Bayi Prematur.
Seperti bayi normal, bayi prematur juga memperoleh kekebalan tubuh dari ibunya. Tapi, pada bayi prematur kekebalan yang didapat Iebih sedikit dari pada bayi normal, karena sebelum daya tahan itu terbentuk cukup, ia sudah harus dilahirkan. Inilah yang menyebabkan bayi prematur sangat rentan terhadap penyakit infeksi. Di rumah sakit, bayi yang lahir prematur akan diletakkan dalam alat khusus, yaitu inkubator. Inkubator merupakan alat yang dilengkapi dengan pengatur suhu dan kelembaban udara agar bayi selalu hangat. Bila bayi prematur lahir dengan berat badan di bawah 2000 gram, maka suhu dalam inkubator harus berkisar antara 32 derajat Celcius. Bila berat badannya kurang dari 2500gram, suhu inkubator harus sekitar 30 derajat Celcius. Suhu inkubator akan diturunkan secara bertahap setiap 10-14 hari sebanyak satu derajat Celcius, sehingga akhirnya bayi bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan luarnya. Selain berfungsi sebagai penghangat, inkubator juga berfungsi melindungi bayi dari bahaya infeksi. Di tempat ini, tersedia juga alat penyinaran sinar biru bagi bayi prematur yang mengalami peningkatan kadar bilirubin dalam darahnya (bayi kuning/jaundice) sebagai akibat hati bayi yang belum bekerja sempurna. Biasanya, bayi dalam inkubator akan dibiarkan telanjang untuk mempermudah pemantauan, yang bisa dilihat dari gerak pernafasan serta warna kulit. Dengan demikian, bila ada kelainan, bisa segera diketahui. Selain itu, bayi prematur juga mendapat bantuan pernafasan dalam bentuk bantuan oksigen sejumlah tertentu. Hal ini pun harus dilakukan dengan hati-hati, sebab keseimbangan kadar oksigen dan karbon dioksida bayi prematur harus diperhatikan benar. Bila jumlah oksigen pada bayi prematur terlalu sedikt, jumlah karbondioksidanya akan meningkat.
Akibatnya, pembuluh darah di otak akan melebar, bahkan bisa pecah dan mengakibatkan pendarahan di otak. Sebaliknya, bila oksigen terlalu banyak, maka pembuluh-pembuluh darah bisa menyempit yang mengakibatkan sel-sel tubuh bayi kurang mendapat makanan. Bayi prematur juga akan menjalani pemeriksaan darah untuk mengetahui fungsi mekanisme pertukaran zat dalam tubuh. Selain dilakukan juga pemeriksaan dengan alat Ultra Sonografi(USG) untuk melihat apakah terjadi kelainan di otak, seperti terjadi pendarahan, edema (pembengkakan) otak, dan lain-lain. Lamanya pemantauan dan perawatan bayi prematur yang satu dengan yang lain tidak sama. Itu karena, kematangan bayi prematur tidak berdasarkan usia kandungan ketika ia dilahirkan atau lamanya perawatan, melainkan dilihat dari perkembangan kemampuannya dalam bernafas, mempertahankan suhu tubuh, mengisap dan menelan (sehingga orang tuanya bisa langsungmenyusuinya), serta mampu mencerna makanan yang masuk dalam tubuhnya. Dengan kata lain, bergantung dari kesiapan semua organ tubuhnya untuk bekerja normal. Hal ini bisa diketahuimelalui pemantauan yang memang terus menerus dilakukan petugas rumah sakit.

2.4  Kasus Yangg Terjadi Saat Menggunakan Inkubator
Kasus 1
MAKASSAR - Kasus bayi tewas terpanggang (Baca: Bayi Terpanggang) di rumah sakit Bunda Makassar masih didalami jajaran Polsek Panakukang Makassar. Polisi belum menetapkan satu pun tersangka dalam kasus dugaan malapraktik ini.
Kapolsek Panakukang Makassar, Kompol Tri Hambodo, mengatakan pihaknya masih menunggu hasil autopsi dan olah tempat kejadian perkara (TKP).
"Kami belum bisa menetapkan tersangka, karena kami masih proses pemeriksaan saksi dan juga masih menunggu hasil otopsi dan olah TKP. Mudah-mudahan bisa secepatnya," kata Hambodo , Selasa, (4/11/2014).
Sejauh ini, lanjut Kapolsek, pihak sudah memeriksa tujuh orang saksi di antaranya ayah korban, tiga orang dari rumah sakit Bunda dan tiga orang dari rumah sakit Catherinabut. "Namun ibu korban belum bisa kami periksa karena masih mengalami trauma hingga saat ini," ujarnya.
Dia menambahkan, kemarin pihaknya bersama tim Labfor Polda Sulselbar sudah melakukan olah TKP. Nantinya hasil olah TKP ini akan dikonfirmsi kembali kepada tiga saksi dari RS Bunda untuk mencocokkan hasil temuan.
"Kami akan panggil kembali tiga orang saksi dari RS Bunda untuk mencocokkan hasil temuan olah TKP, setelah itu kami juga akan memanggil saksi ahli dari Dinas Kesehatan dan juga dari Labfor Polda," tambahnya.
"Kalau (tersangka) itu tentunya sudah ada, namun belum bisa kami buka karena kami tunggu kelengkapan alat bukti, setelah itu kami akan segera gelar perkara dan menetapkan tersangka," pungkasnya.

Kasus 2
Jakarta (ANTARA News) - Anggota Komisi IX DPR RI Aditya Anugrah Moha meminta kasus meninggalnya bayi dalam perawatan inkubator di sebuah rumah sakit di Kota Makasar, Sulawesi Selatan, segera diusut.

Ia mengatakan, kasus tersebut bisa berindikasi dugaan malpraktik dan kejadian semacam itu bukan kejadian yang bisa diabaikan, apalagi disepelekan. "Jadi penanganan dugaan malpraktik harus dilakukan sepantasnya dan sepatutnya serta tepat waktu," kata Aditya di Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat.

Dia menceritakan, kasus malpraktik pernah terjadi di rumah sakit di Manado yang dibawa ke pengadilan.

"Saya ingin masalah ini ikut juga dituntaskan di DPR, meski pihak keluarga sudah membawa urusan ini ke polisi dan komisi ombudsman," kata Aditya. Selain diusut tuntas, Komisi IX DPR RI akan memanggil pihak-pihak terkait terpanggangnya bayi dalam inkubator.

"Saya akan mengupayakan hal ini. Banyak detail kejadian yang masih perlu diperjelas duduk persoalanya. Jika sudah jelas, selanjutnya akan mudah dicari jalan keluar bersama," urainya lagi.

Menurutnya, rapat dengar pendapat akan juga ikut mengungkap siapa-siapa yang harus bertanggungjawab dalam kasus tersebut.
"Ini juga menyangkut SOP, terutama rapat akan mengirim pesan dan tanda awas agar pihak-pihak yang terkait dengan pelayanan kesehatan untuk bekerja dengan standar-standar SOP yang baik demi menghindari malpraktik," pungkasnya.

Dua bayi, Fadhlan Khairy Al Faiq dan Fayyadh Zafram Al Faiq, meninggal dunia akibat terpanggang saat berada dalam inkubator (box penghangat bayi) di RS Catherin Both.





















BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Setelah kita ketahui pengertian, manfaat dari inkubator dan cara kerja dari inkubator serta dengan melihat kasus-kasus yang telah terjadi di beberapa tempat akibat penyalahgunaan inkubator. Dari kasus yang terjadi di atas, kelompok kami mengambil kesimpulan bahwa kurangnya pemahaman yang baik mengenai penggunaan inkubator secara baik, lalu kurangnya ketelitian dari tenaga kesehatan itu sendiri saat mempersiapkan alat. Sehingga menyebabkan kematian pada bayi, selain itu disaat penggunaan inkubator, kurang adanya kontrol baik pada suhu inkubator, ataupun keadaan bayi itu sendiri.
3.2 Kritik dan saran
Berdasarkan kesimpulan dari makalah ini, maka penulis menyarankan agar selalu memahami dan memperhatikan bagaimana cara kerja dan fungsi dari inkubator tersebut serta dapat memahami kasus-kasus yang telah terjadi agar nantinya tidak ada lagi bayi yang menjadi korban.











DAFTAR PUSTAKA





Tidak ada komentar:

Posting Komentar