KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karuinia-Nya kami
dapat menyelesaikan makalah tentang “Kasus Terkini Penerapan IT dalam Bidang Kebidanan”.
Dan kami juga berterima kasi kepad selaku dosen mata kuliah aplikasi komputer
dan IT dalam praktek kebidanan yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap
makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan dan pengetahuan kita
tentang standar-standar dalam melakukan pelayanan di kebidanan. Kami juga
menyadari dalam makalah ini terdapat banyak kekurangandan jauh dari kata
sempurna. Maka dari itu, kami berharap adanya kritik dan saran baik dari dosen
pembingbing dan teman-teman lainnya demi
makalah yang kami buat ini, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa
saran yang membangun.
Semoga makalah ini
dapat dipahami bagi siapapun yang membaca. Sekiranya makalah yang telah kami
susun ini dapat berguna baik bagi kami maupun orang yang membacanya. Sebelumnya
kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-yang yang kurang berkenan.
Yogyakarta, 25 Maret 2014
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR..................................................................................1
DAFTAR ISI.................................................................................................2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang.........................................................................................3
1.2 Rumusan
Masalah....................................................................................3
1.3 Tujuan......................................................................................................4
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian inkubator...............................................................................5
2.2 Cara kerja inkubator................................................................................6
2.3 Fungsi inkubator bagi bayi prematur.......................................................7
2.4 Kasus yang terjadi saat menggunakan
inkubat........................................9
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan ............................................................................................12
3.2 Saran.......................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................13
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Saat ini perkembangan teknologi sudah demikian pesat, dilihat dari
bermunculan aplikasi-aplikasi alat yang membantu mempermudah manusia. Demikian pula dengan peralatan di rumah sakit. Pengenalan alat-alat laboratorium
penting dilakukan untuk keselamatan kerja saat melakukan penelitian maupun
perawatan bagi pasien. Alat-alat laboratorium biasanya dapat rusak atau bahkan
berbahaya jika penggunaannya tidak sesuai dengan prosedur.
Oleh sebab itu kami membuat makalah ini sebagai pengenalan alat-alat
laboratorium khususnya inkubator yang dewasa ini banyak digunakan
sehubungan dengan makin meningkatnya tingkat angka kelahiran bayi.
Agar dapat diketahui cara-cara penggunaan alat tersebut dengan baik
dan benar, Sehingga kesalahan prosedur pemakaian alat dapat diminimalisir
sedikit mungkin. Hal ini penting supaya saat melakukan penelitian atau
perawatan, data yang diperoleh akan benar pula. Data-data yang tepat akan
meningkatkan kualitas penelitian seseorang
Penggunaan inkubator bayi sangat vital digunakan bagi bayi yang baru
lahir, penjagaan suhu yang pas sangat diperlukan bayi dikarenakan perubahan
suhu luar yang tidak stabil dan selalu berubah-ubah. Umumnya, setiap perawat
harus terus memantau perubahan suhu inkubator, apakah suhu yang diterima sudah
pas dengan suhu yang dibutuhkan.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1
Apa yang di maksud dengan inkubator?
1.2.2
Bagaimana cara kerja inkubator?
1.2.3
Apa fungsi inkubator bagi bayi prematur?
1.2.4
Apa saja kasus yang terjadi dalam
penggunaan inkubator?
1.3 Tujuan
1.3.1
Untuk nengetahui apa sebenarnya
pengertian dari inkubator.
1.3.2
Untuk memahami bagaimana cara kerja dari
inkubator.
1.3.3
Untuk mengetahui apa saja fungsi
inkubator bagi bayi prematur.
1.3.4
Untuk mengetahui apa saja kasus yang
terjadi dalam penggunaan inkubator.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Inkubator
Inkubator adalah alat yang digunakan untuk tumbuh
dan memelihara budaya mikrobiologi atau kultur sel. Inkubator mempertahankan
suhu optimal, kelembaban dan kondisi lain seperti karbon dioksida (CO2) dan
kandungan oksigen dari atmosfer di dalam. Inkubator sangat penting untuk banyak
pekerjaan eksperimental dalam biologi sel, mikrobiologi dan biologi molekuler
dan digunakan untuk kultur bakteri baik serta sel eukariotik.
Inkubator juga digunakan dalam industri perunggasan
untuk bertindak sebagai pengganti ayam. Ini sering mengakibatkan tingkat
menetas lebih tinggi karena kemampuan untuk mengendalikan suhu dan kelembaban.
Berbagai merek inkubator yang tersedia secara komersial untuk peternak.
Inkubator sederhana berbentuk kotak
dengan pemanas disesuaikan, biasanya naik ke 60 sampai 65 ° C (140-150 ° F),
meskipun beberapa incubator bisa memiliki suhu yang sedikit lebih tinggi
(umumnya tidak lebih dari 100 ° C). Yang paling umum digunakan adalah incubator
untuk bakteri seperti E. coli sering digunakan serta untuk sel mamalia adalah
sekitar 37 ° C, sebagai organisme ini tumbuh baik di bawah kondisi seperti itu.
Untuk organisme lain yang digunakan dalam eksperimen biologi, seperti
Saccharomyces cerevisiae ragi pemula, suhu pertumbuhan 30 ° C adalah optimal.
Inkubator yang lebih rumit juga dapat mencakup
kemampuan untuk menurunkan suhu (melalui pendinginan), atau kemampuan untuk
mengendalikan kelembaban atau tingkat CO2. Hal ini penting dalam budidaya sel
mamalia, dimana kelembaban relatif biasanya> 95% dan pH yang agak asam
dicapai dengan mempertahankan tingkat CO2 dari 5%.
Kebanyakan inkubator menggunakan timer, beberapa
juga dapat diprogram untuk siklus melalui temperatur yang berbeda, tingkat
kelembaban, dll. Inkubator dapat bervariasi dalam ukuran dari meja ke unit-unit
ukuran kamar kecil.
Inkubator adalah alat untuk
menginkubasi atau memeram mikroba pada suhu yang terkontrol (umumnya di atas
suhu ambient) serta dilengkapi dengan pengatur suhu dan pengatur waktu.
Ø Semakin
kecil ukuran inkubator maka semakin rentan perubahan suhunya saat pintu
inkubator dibuka.
Ø Perlu
dipertimbangkan pula keseragaman suhu yang ada didalam dengan memperhatikan
pola penempatan elemen pemanas atau terdapatnya kipas penyebar suhu. Pintu kaca
yang terdapat pada beberapa model dibiarkan tertutup saat melihat biakan secara
sekilas bertujuan supaya tidak terjadi penurunan suhu.
2.2
Cara Kerja Inkubator
Inkubator Bayi merupakan salah satu
alat medis yang berfungsi untuk menjaga suhu sebuah ruangan supaya suhu tetap
konstan atau stabil. Pada modifikasi manual-otomatis inkubator bayi , terdapat
sebuah boks kontrol yang dibagi menjadi 2 bagian (bagian atas dan bagian
bawah).
Boks bagian atas digunakan untuk
meletakkan sensor , display sensor , kontroler , rangkaian elektronik. Sedangkan
pada boks bagian bawah dibagi menjadi 3 ruangan yang dibatasi dengan sekat ,
yang digunakan untuk meletakkan heater , tempat atau wadah air dan kipas.
Sensor yang digunakan adalah sensor suhu (PT100) dan sensor kelembapan , dimana
sensor suhu PT100 dan sensor kelembapan diletakkan di dalam boks tidur bayi (di
luar boks kontrol).
Pada sensor suhu PT100 dan sensor
kelembapan terdapat display yang sekaligus sebagai driver sensor yang digunakan
untuk mengetahui serta
memberikan setting suhu dan kelembapan dalam ruangan boks tidur bayi. Yang menjadi actuator dari alat ini adalah heater dan kipas. Heater berfungsi sebagai pemanas ruangan , sedangkan kipas berfungsi untuk menyalurkan udara panas yang dipancarkan heater menuju ruangan tempat air dan menuju boks tidur bayi melalui selang.
memberikan setting suhu dan kelembapan dalam ruangan boks tidur bayi. Yang menjadi actuator dari alat ini adalah heater dan kipas. Heater berfungsi sebagai pemanas ruangan , sedangkan kipas berfungsi untuk menyalurkan udara panas yang dipancarkan heater menuju ruangan tempat air dan menuju boks tidur bayi melalui selang.
Inkubator berfungsi untuk menjaga
stabilitas suhu tubuh bayi. Suhu inkubator diatur sehingga cukup hangat
baginya, disesuaikan dengan berat lahir, atau usia kehamilan. Soal lamanya
diinkubator, tergantung pada kondisi bayi. “Semakin cepat lahir, dia harus
diinkubator kira-kira sampai cukup bulan dan bisa beradaptasi dengan dunia
luar. Jika saat dirawat ternyata terkena infeksi, bisa lebih lama lagi.
Lahir prematur bisa diperkirakan,
hal ini terlihat antara lain dari kontraksi sang ibu. Jika kontraksi terjadi
sebelum waktunya, bukan tak mungkin bayi akan lahir prematur. Perdarahan yang
disebabkan oleh plasenta yang tak bagus atau posisinya tak normal, membuat
dokter akan melakukan tindakan operasi untuk mengeluarkan bayi, demi keselamatan
bayi. Kelahiran secara prematur, bisa menimbulkan masalah baru pada bayi.
Selain kondisinya lebih rentan,
dibandingkan bayi yang lahir cukup bulan, bayi prematur juga biasanya mengidap
penyakit kuning. Sebab, sel darah merah pada bayi prematur jumlahnya lebih
banyak, daripada bayi yang lahir pada kondisi normal, dan lebih gampang pecah.
Sementara, fungsi hatinya belum bekerja sempurna. Sel pecah inilah yang menjadi
bilirubin (hasil pemecahan hemoglobin yang terkandung di dalam sel darah merah)
tinggi, dan menyebabkan bayi lahir kuning.
Kondisi ibu yang juga berpengaruh
pada bayi adalah suhu badan yang panas tinggi dan adanya infeksi
menjelang persalinan.Oleh sebab itu, menjaga kondisi, lingkungan,
serta peduli dengan segala masalah yang mungkin akan timbul selama masa
kehamilan dan persalinan, sangat perlu dilakukan oleh para calon ibu. Sehingga,
berbagai masalah serta penyakit yang akan terwarisi kepada sang bayi, dapat
dicegah dan diobati sedini mungkin.
2.3
Fungsi Inkubator Bagi Bayi Prematur.
Seperti bayi normal, bayi prematur juga memperoleh
kekebalan tubuh dari ibunya. Tapi, pada bayi prematur kekebalan yang
didapat Iebih sedikit dari pada bayi normal, karena sebelum daya tahan itu
terbentuk cukup, ia sudah harus dilahirkan. Inilah yang menyebabkan bayi
prematur sangat rentan terhadap penyakit infeksi. Di rumah sakit, bayi yang
lahir prematur akan diletakkan dalam alat khusus, yaitu inkubator. Inkubator
merupakan alat yang dilengkapi dengan pengatur suhu dan kelembaban udara
agar bayi selalu hangat. Bila bayi prematur lahir dengan berat badan di
bawah 2000 gram, maka suhu dalam inkubator harus berkisar antara 32 derajat
Celcius. Bila berat badannya kurang dari 2500gram, suhu inkubator harus sekitar
30 derajat Celcius. Suhu inkubator akan diturunkan secara bertahap
setiap 10-14 hari sebanyak satu derajat Celcius, sehingga akhirnya bayi bisa menyesuaikan
diri dengan lingkungan luarnya. Selain berfungsi sebagai penghangat, inkubator
juga berfungsi melindungi bayi dari bahaya infeksi. Di tempat ini, tersedia
juga alat penyinaran sinar biru bagi bayi prematur yang mengalami peningkatan
kadar bilirubin dalam darahnya (bayi kuning/jaundice) sebagai akibat hati bayi
yang belum bekerja sempurna. Biasanya, bayi dalam inkubator akan dibiarkan
telanjang untuk mempermudah pemantauan, yang bisa dilihat dari gerak pernafasan
serta warna kulit. Dengan demikian, bila ada kelainan, bisa
segera diketahui. Selain itu, bayi prematur juga mendapat bantuan pernafasan
dalam bentuk bantuan oksigen sejumlah tertentu. Hal ini pun harus dilakukan
dengan hati-hati, sebab keseimbangan kadar oksigen dan karbon dioksida bayi
prematur harus diperhatikan benar. Bila jumlah oksigen pada bayi prematur
terlalu sedikt, jumlah karbondioksidanya akan meningkat.
Akibatnya, pembuluh darah di otak akan melebar,
bahkan bisa pecah dan mengakibatkan pendarahan di otak. Sebaliknya, bila
oksigen terlalu banyak, maka pembuluh-pembuluh darah bisa menyempit yang mengakibatkan
sel-sel tubuh bayi kurang mendapat makanan. Bayi prematur juga akan menjalani
pemeriksaan darah untuk mengetahui fungsi mekanisme pertukaran zat dalam
tubuh. Selain dilakukan juga pemeriksaan dengan alat Ultra Sonografi(USG) untuk
melihat apakah terjadi kelainan di otak, seperti terjadi pendarahan, edema (pembengkakan)
otak, dan lain-lain. Lamanya pemantauan dan perawatan bayi prematur yang satu
dengan yang lain tidak sama. Itu karena, kematangan bayi prematur tidak
berdasarkan usia kandungan ketika ia dilahirkan atau lamanya perawatan,
melainkan dilihat dari perkembangan kemampuannya dalam bernafas, mempertahankan
suhu tubuh, mengisap dan menelan (sehingga orang tuanya bisa
langsungmenyusuinya), serta mampu mencerna makanan yang masuk dalam tubuhnya.
Dengan kata lain, bergantung dari kesiapan semua organ tubuhnya untuk
bekerja normal. Hal ini bisa diketahuimelalui pemantauan yang memang terus
menerus dilakukan petugas rumah sakit.
2.4 Kasus Yangg Terjadi Saat Menggunakan
Inkubator
Kasus
1
MAKASSAR -
Kasus bayi tewas terpanggang (Baca:
Bayi Terpanggang) di rumah sakit Bunda Makassar masih didalami jajaran
Polsek Panakukang Makassar. Polisi belum menetapkan satu pun tersangka dalam
kasus dugaan malapraktik ini.
Kapolsek Panakukang Makassar, Kompol Tri Hambodo, mengatakan pihaknya
masih menunggu hasil autopsi dan olah tempat kejadian perkara (TKP).
"Kami belum bisa menetapkan tersangka, karena kami masih proses
pemeriksaan saksi dan juga masih menunggu hasil otopsi dan olah TKP.
Mudah-mudahan bisa secepatnya," kata Hambodo , Selasa, (4/11/2014).
Sejauh ini, lanjut Kapolsek, pihak sudah memeriksa tujuh orang saksi di
antaranya ayah korban, tiga orang dari rumah sakit Bunda dan tiga orang dari
rumah sakit Catherinabut. "Namun ibu korban belum bisa kami periksa karena
masih mengalami trauma hingga saat ini," ujarnya.
Dia menambahkan, kemarin pihaknya bersama tim Labfor Polda Sulselbar
sudah melakukan olah TKP. Nantinya hasil olah TKP ini akan dikonfirmsi kembali
kepada tiga saksi dari RS Bunda untuk mencocokkan hasil temuan.
"Kami akan panggil kembali tiga orang saksi dari RS Bunda untuk
mencocokkan hasil temuan olah TKP, setelah itu kami juga akan memanggil saksi
ahli dari Dinas Kesehatan dan juga dari Labfor Polda," tambahnya.
"Kalau (tersangka) itu tentunya sudah ada, namun belum bisa kami
buka karena kami tunggu kelengkapan alat bukti, setelah itu kami akan segera
gelar perkara dan menetapkan tersangka," pungkasnya.
Kasus
2
Jakarta (ANTARA News) - Anggota Komisi IX DPR RI Aditya
Anugrah Moha meminta kasus meninggalnya bayi dalam perawatan inkubator di
sebuah rumah sakit di Kota Makasar, Sulawesi Selatan, segera diusut.
Ia mengatakan, kasus tersebut bisa berindikasi dugaan malpraktik dan kejadian semacam itu bukan kejadian yang bisa diabaikan, apalagi disepelekan. "Jadi penanganan dugaan malpraktik harus dilakukan sepantasnya dan sepatutnya serta tepat waktu," kata Aditya di Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat.
Dia menceritakan, kasus malpraktik pernah terjadi di rumah sakit di Manado yang dibawa ke pengadilan.
"Saya ingin masalah ini ikut juga dituntaskan di DPR, meski pihak keluarga sudah membawa urusan ini ke polisi dan komisi ombudsman," kata Aditya. Selain diusut tuntas, Komisi IX DPR RI akan memanggil pihak-pihak terkait terpanggangnya bayi dalam inkubator.
"Saya akan mengupayakan hal ini. Banyak detail kejadian yang masih perlu diperjelas duduk persoalanya. Jika sudah jelas, selanjutnya akan mudah dicari jalan keluar bersama," urainya lagi.
Menurutnya, rapat dengar pendapat akan juga ikut mengungkap siapa-siapa yang harus bertanggungjawab dalam kasus tersebut.
Ia mengatakan, kasus tersebut bisa berindikasi dugaan malpraktik dan kejadian semacam itu bukan kejadian yang bisa diabaikan, apalagi disepelekan. "Jadi penanganan dugaan malpraktik harus dilakukan sepantasnya dan sepatutnya serta tepat waktu," kata Aditya di Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat.
Dia menceritakan, kasus malpraktik pernah terjadi di rumah sakit di Manado yang dibawa ke pengadilan.
"Saya ingin masalah ini ikut juga dituntaskan di DPR, meski pihak keluarga sudah membawa urusan ini ke polisi dan komisi ombudsman," kata Aditya. Selain diusut tuntas, Komisi IX DPR RI akan memanggil pihak-pihak terkait terpanggangnya bayi dalam inkubator.
"Saya akan mengupayakan hal ini. Banyak detail kejadian yang masih perlu diperjelas duduk persoalanya. Jika sudah jelas, selanjutnya akan mudah dicari jalan keluar bersama," urainya lagi.
Menurutnya, rapat dengar pendapat akan juga ikut mengungkap siapa-siapa yang harus bertanggungjawab dalam kasus tersebut.
"Ini juga menyangkut SOP, terutama rapat akan mengirim
pesan dan tanda awas agar pihak-pihak yang terkait dengan pelayanan kesehatan
untuk bekerja dengan standar-standar SOP yang baik demi menghindari
malpraktik," pungkasnya.
Dua bayi, Fadhlan Khairy Al Faiq dan Fayyadh Zafram Al Faiq, meninggal dunia akibat terpanggang saat berada dalam inkubator (box penghangat bayi) di RS Catherin Both.
Dua bayi, Fadhlan Khairy Al Faiq dan Fayyadh Zafram Al Faiq, meninggal dunia akibat terpanggang saat berada dalam inkubator (box penghangat bayi) di RS Catherin Both.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Setelah kita ketahui pengertian,
manfaat dari inkubator dan cara kerja dari inkubator serta dengan melihat
kasus-kasus yang telah terjadi di beberapa tempat akibat penyalahgunaan
inkubator. Dari kasus yang terjadi di atas, kelompok kami mengambil kesimpulan
bahwa kurangnya pemahaman yang baik mengenai penggunaan inkubator secara baik, lalu
kurangnya ketelitian dari tenaga kesehatan itu sendiri saat mempersiapkan alat.
Sehingga menyebabkan kematian pada bayi, selain itu disaat penggunaan
inkubator, kurang adanya kontrol baik pada suhu inkubator, ataupun keadaan bayi
itu sendiri.
3.2 Kritik dan saran
Berdasarkan
kesimpulan dari makalah ini, maka penulis menyarankan agar selalu memahami dan
memperhatikan bagaimana cara kerja dan fungsi dari inkubator tersebut serta
dapat memahami kasus-kasus yang telah terjadi agar nantinya tidak ada lagi bayi
yang menjadi korban.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar