Selasa, 09 Juni 2015

penyakit terminal

BAB  I
PENDAHULUAN
A.                Latar Belakang
Death and Dying “Kematian dan Proses Menuju Kematian” adalah sebuah fenomena yang pasti akan terjadi atau akan dijumpai manusia dalam kehidupannya. Kematian memang sebuah rahasia Tuhan, akan tetapi proses menuju kematian adalah sebuah fenomena yang dapat dibahas dan didiskusikan, bahkan lingkungan dapat memberikan proses pembelajaran yang benar untuk menjalani proses menuju kematian yang lebih baik. Data di Poli Perawatan Paliatif RS Margono Soekarjo Purwokerto menyebutkan bahwa pasien di Poli Perawatan Paliatif RS Margono Soekarjo Purwokerto ini semakin hari Jumlah penderita gagal ginjal terminal (GGT) semakin meningkat akhir-akhir dari 3.962 pasien di tahun 1993 menjadi sekitar 4.298 di tahun 2001, meningkat 11,34%. Sekitar 26,14% pasien berusia 45-54 tahun dan 13,56% berusia 30-44 tahun, jadi sekitar 39,7% pasien Poli Perawatan Paliatif RS Margono Soekarjo Purwokerto adalah orang-orang yang berada pada usia produktif.
            Ketika seseorang didiagnosa sakit dengan sebuah sakit yang tergolong berat dan berstadium lanjut dimana pengobatan medis sudah tidak mungkin diterimakan kepada si pasien, maka kondisi pasien tersebut akan mengalami sebuah goncangan yang hebat. Kematian adalah salah satu jawaban pasti bagi para pasien penyakit teminal. Berjalannya waktu baik itu pendek atau panjang, bagi para pasien terminal penyakit  adalah  hari-hari yang sangat menyiksa karena mereka harus menantikan kematian sebagai jawaban pasti dengan penderitaan rasa nyeri yang sangat hebat. Berbagai macam peran hidup yang dijalani selama ini pasti akan menghadapi kendala baik itu disebabkan karena kendala fisik, psikologis, social, cultural maupun spiritual. Demikian pula, prognosis akan kematian pada para pasien penyakit terminal akan lebih memberikan dampak konflik psikologis, social, cultural maupun spiritual yang sangat unik. Sangat penting kita mempelajari konsep penyakit terminal karena,sebagai tenaga kesehatan kita dapat mengetahui cara menangani pasien yang menghadapi sakaratul maut. Inti dari penanganan pasien yang menghadapi sakaratul maut adalah dengan memberikan tenaga kesehatan yang tepat, seperti memberikan perhatian yang lebih kepada pasien sehingga pasien merasa lebih sabar dan ikhlas dalam menghadapi kondisi sakaratul maut.
B.                 Tujuan  Pembelajaran
1.      Tujuan Umum
Untuk mengetahui konsep penyakit terminal dan menjelang ajal serta adaptasinya
2.   Tujuan Khusus
a.       Mengetahui pengertian penyakit terminal
b.      Mengetahui tujuan keperawatan klien dengan kondisi terminal
c.       Mengetahui kriteria penyakit terminal
d.      Mengetahui jenis-jenis penyakit terminal
e.       Memahami masalah yang berkaitan dengan  penyakit teminal
f.       Mengetahui kebutuhan anak dengan penyakit terminal
g.      Mengetahui tingkat kesadaran terhadap kondisi penyakit terminal
h.      Memahami perawatan pada pasien dengan penyakit terminal.
i.        Memahami tahapan menuju kematian.
BAB II
TINJAUAN TEORI

A.    Pengertian atau Definisi
1.Penyakit
         Kondisi terminal adalah suatu proses yang progresif menuju kematian berjalan melalui suatu tahapan proses penurunan fisik, psikososial dan spiritual bagi individu (Kubler-Rosa, 1969).
         Penyakit terminal merupakan penyakit progresif yaitu penyakit yang menuju kearah kematian  contohnya  seperti penyakit jantung , dan kanker atau penyakit terminal ini dapat dikatakan harapan untuk hidup tipis ,tidak ada lagi obat-obatan ,tim medis sudah give up (menyerah) dan seperti yang dikatakan di atas tadi penyakit terminal ini mengarah kearah kematian (White,2002)
         Penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan tidak ada obatnya , kematian tidak dapat dihindari dalam waktu bervariasi ( Stuard& Sundeen , 1995)
         Penyakit pasda stadium lanjut ,penyakit utama tidak dapatr diobati, bersifat  progresif ,pengobatan hanya bersifat paliatif (mengurangi gejala dan keluhan, memperbaiki kualitas hidup (Tim medis RS Kanker Darmais,1996)

                 Pasien penyakit terminal adalah pasien yang sedang menderita sakit dimana tingkat sakitnya telah mencapai stadium lanjut sehingga pengobatan medis sudah tidak mungkin dapat menyembuhkan lagi.Oleh karena itu, pasien penyakit terminal harus mendapatkan perawatan paliatif yang bersifat meredakan gejala penyakit, namun tidak lagi berfungsi untuk menyembuhk

                 Jadi keadaan terminal adalah suatu keadaan sakit dimana menurut akal sehat tidak ada harapan lagi bagi yang sakit untuk sembuh. Keadaan sakit itu dapat disebabkan oleh suatu penyakit atau suatu kecelakaan.

a.       Perawatan Penyakit Terminal
Tujuan keperawatan klien dengan kondisi terminal secara umum:
1.      Menghilangkan atau mengurangi rasa kesendirian, takut dan depresi
2.      Mempertahankan rasa aman, harkat dan rasa berguna
3.      Membantu klien menerima rasa kehilangan
4.       Membantu kenyamanan fisik
5.       Mempertahankan harapan (faith and hope)
b.      Kriteria Penyakit terminal
1.      Penyakit yang tidak dapat disembuhkan lagi
2.      Mengarah pada kematian
3.      Diagnosa medis sudah jelas
4.      Tidak ada obat untuk menyembuhkan
5.      Prognosis jelek
6.      Bersifat progresif
c.       Jenis-Jenis Penyakit Terminal
Adapun yang dapat dikategorikan sebagai penyakit terminal adalah:
1.      Penyakit-penyakit kanker.
Kanker merupakan salah satu penyakit berbahaya yang ada. Diantara beberapa jenis kanker, kanker payudara adalah jenis kanker yang paling berbahaya dan paling sering terjadi. Kanker payudara sangat berbahaya dikarenakan kanker jenis ini menyerang organ reproduksi luar yaitu payudara dan dapat menyebar ke bagian tubuh lain.Kanker payudara juga dapat menyebabkan kematian. Kanker payudara yang dapat menyebabkan kematian adalah kanker payudara stadium IV. Pada kanker payudara stadium IV seseorang sudah menderita kanker payudara yang sangat parah atau bahkan tidak memiliki harapan hidup (terminal). Kondisi terminal pada penderita kanker payudara stadium IV tidak dapat dihindari dan ini pasti akan dialami oleh setiap penderita yang akan menjelang ajal.Pada kondisi terminal perubahan utama yang terjadi adalah perubahan psikologis yang menyertai pasien. Perubahan psikologis tersebut biasanya mengarah ke arah yang lebih buruk dan membuat pasien menjadi tidak koperatif. Disini peran perawat sangat dibutuhkan dan menjadi hal yang penting, dan untuk membuat klien merasa lebih nyaman dan mampu membuat klien menjadi tenang pada saat menjelang ajal.
2.      Penyakit-penyakit infeksi.
Meningitis merupakan infeksi pada selaput otak yang di sertai radang membran pelindung yang menyelubungi otak dan sumsum tulang belakang, yang mana keseluruhan tersebut di sebut meningen. Bahayanya adalah Apabila Meningitis telah masuk stadium terminal dan tidak ditangani segera, maka adanya resiko kematianlah yang akan terjadi dalam waktu kurang lebih 3 pekan.
3.      Congestif Renal Falure (CRF)
Chronic Renal Failure (CRF) merupakan gangguan fungsi ginjal yang berlangsung secara progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit menyebabkan uremia (retensi urin dan sampah nitrogen lain dalam tubuh). (Brunner and Suddarth , hal. 1448).
Patofisiologi terjadinya gagal ginjal kronik setelah berbagai macam penyakit yang merusak nefron ginjal sehingga menyebabkan fungsi ginjal turun dari 25% ban nefron-nefron sisa yang sehat mengambil alih fungsi nefron yang rusak. Nefron yang tersisa meningkatkan fungsi nefron yang masih normal, sisa yang normal akan terjadi hipertrofi sehingga kerusakan renal bertambah/jumlah nefron yang normal menurun dalam usaha untuk melaksanakan beban kerja ginjal, terjadi peningkatan filtrasi beban solut dan reabsorbsi dan berakibat pada diuresis osmotik, ketidakseimbangan cairan disertai poliuria dan haus yaitu peningkatan aliran kemih dan penurunan konsentrasi, maka penderita bisa menjadi dehidrasi dan cenderung terjadi retensi garam dan air yang normal diekskresikan dalam urine, di dalam aliran darah terjadi uremia yang mempengaruhi semua sistem tubuh, ketidakmampuan mengeluarkan urine (oliguria) menyebabkan kepekatan urine meningkat sehingga semakin banyak timbunan produk sampah maka gejala akan semakin besar namun gejala akan berkurang setelah dialisis (Hemodialilsa). Penyusutan progresif pada nefron-nefron terjadi pembentukan jaringan parut dan aliran darah ke ginjal berkurang. Pelepasan renin meningkat dan mengaktifkan sistem renin angiotensin aldosteron dan tahanan perifer meningkat dan berakibat hipertensi, dan gangguan pemekatan retensi garam akibatnya kelebihan cairan dapat menjurus ke gagal jantung kongestif (CHF). Dengan berkembangnya penyakit renal terjadi asidosis metabolik yang disebabkan ketidakmampuan ginjal mengekskresikan asam (H+) yang berlebihan. Penurunan sekresi asam terutama akibat ketidakmampuan tubulus ginjal mengekresi amonia (NH+) dan absorbsi natrium bikarbonat (HCO3). Penurunan ekskresi fosfat dan asam organik lain juga terjadi penderita uremia sering terjadi manifestasi gastrointestinal, meliputi nausea, muntah, anoreksia, foetor uremik dan pada uremia lanjut stomatitis esofagitis, manifestasi pada kardiovaskuler pada gagal ginjal kronis mencakup hipertensi akibat retensi cairan dan natrium dari aktivitas angiotensin aldosteron. Nyeri dada dan sesak napas akibat perikarditis, efusi perikardial, penyakit jantung koroner akibat arteriosklerosis dini, edema akibat penimbunan cairan, gejala hematologi, anemia disebabkan berkurangnya fungsi eritroprotein, sehingga rangsangan entropcoesis pada sumsum tulang menurun, hemolisis, defisiensi besi, masa perdarahan panjang, fagositosis, fungsi limfosit menurun. Gejala pada endokrin, gangguan seksual, libido/ereksi menurun, pada laki-laki impoten, ammenorrea pada wanita, gangguan toleransi glukosa, gangguan metabolik lemak. Gejala pada sistem saraf adalah retless leg syndrome, burning feet syndrome, dan enselofati metabolik, dan manifestasi pada kulit adalah kulit berwarna pucat, gatal, ekimosis, uremik frost, kulit tipis, kuku mudah rapuh, kusam dan rontok, gejala psikologi, cemas, penolakan, depresi.
4.      Stroke Multiple Sklerosis.
Multiple sclerosis (MS) adalah suatu penyakit dimana syaraf-syaraf dari sistim syaraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang atau spinal cord) memburuk atau degenerasi. Myelin , yang menyediakan suatu penutup atau isolasi untuk syaraf-syaraf, memperbaiki pengantaran (konduksi) dari impuls-impuls sepanjang syaraf-syaraf dan juga adalah penting untuk memelihara kesehatan dari syaraf-syaraf.Pada multiple sclerosis, peradangan menyebabkan myelin akhirnya menghilang.Sebagai konsekwensinya, impuls-impuls listrik yang berjalan sepanjang syaraf-syaraf memperlambat, yaitu menjadi lebih perlahan. Sebagai tambahan, syaraf-syaraf sendiri menjadi rusak. Ketika semakin banyak syaraf-syaraf yang terpengaruh, seorang pasien mengalami suatu gangguan yang progresif pada fungsi-fungsi yang dikontrol oleh sistim syaraf seperti penglihatan, kemampuan berbicara, berjalan, menulis, dan ingatan.
5.      Akibat kecelakaan fatal.
Cedera kepala telah menyebabkan banyak kematian dan cacat pada usia kurang dari 50 tahun. Otak bisa mengalami cedera meskipun tidak terdapat luka yang menembus tulang tengkorak. Berbagai cedera bisa disebabkan oleh percepatan mendadak yang memungkinkan terjadinya benturan atau karena perlambatan mendadak yang terjadi jika kepala membentur objek yang tidak bergerak. Kerusakan otak bisa terjadi pada titik benturan dan pada sisi yang berlawanan. Cedera ini disebut coup contrecoup (bahasa Perancis untuk hit-counterhit)
6.      AIDS ( Acquired Immunodeficiency Syndrome )
adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV atau infeksi virus-virus lain. Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.
d.      Masalah Yang Berkaitan Dengan Penyakit terminal
1.      Problem fisik
berkaitan dengan kondisi (penyakit terminalnya): nyeri, perubahan berbagai fungsi sistem tubuh, perubahan tampilan fisik.
2.      Problem psikologis (ketidakberdayaan)
kehilangan control, ketergantungan, kehilangan diri dan harapan.
3.      Problem social
isolasi dan keterasingan, perpisahan.
4.      Problem spiritual.

Kehilangan harapan dan Perencanaan saat ajal tiba

5.      Ketidak-sesuaian,
antara kebutuhan dan harapan dengan perlakuan yang didapat (dokter, perawat, keluarga, dsb).
e.       Kebutuhan Seseorang dengan Penyakit Terminal
Seseorang dengan penyakit terminal akan mengalami rasa berduka dan kehilangan. Sebagai seorang perawat kita harus mampu memahami hal tersebut. Komunikasi dengan klien penyakit terminal merupakan komunikasi yang tidak mudah. Perawat harus memiliki pengethauan tentang penyakit yang mereka alami serta pengetahuan tentang proses berduka dan kehilangan. Dalam berkomunikasi perewat menggunakan konsep komunikasi terapeutik.Saat berkomunikasi dengan klien dengan kondisi seperti itu bisa jadi akan timbul penolakan dari klien. Dalam menghadapi kondisi tersebut, perawat menggunakan komunikasi terapetik. Membangun hubungan saling percaya dan caring dengan klien dan keluarga melaui penggunaan komunikasi terapeutik membentuk dasar bagi intervensi pelayanan paliatif (Mok dan Chiu, 2004 dikutip dari Potter dan Perry 2010).
Dalam berkomunikasi, gunakan komunikasi terbuka dan jujur, tunjukkan rasa empati. Dengarkan dengan baik, tetap berpikiran terbuka, serta amati respon verbal dan nonverbal klien dan keluarga. Saat berkomunikasi mungkin saja klien akan menghindari topic pembicaraan, diam, atau mungkin saja menolak untuk berbicara. Hal tersebut adalah respon umum yang mungkin terjadi. Respon berduka yang normal seperti kesedihan, mati rasa, penyangkalan, marah, membuat komunikasi menjadi sulit. Jika klien memilih untuk tidak mendiskusikan penyakitnya saat ini, perawat harus mengizinkan dan katakana bahwa klien bisa kapan saja mengungkapkannya.Beberapa klien tidak akan mendiskusikan emosi karena alasan pribadi atau budaya, dan klien lain ragu – ragu untuk mengungkapkan emosi mereka karena orang lain akan meninggalkan mereka  (Buckley dan Herth, 2004 dikutip dari potter dan perry 2010). 
Memberi kebebasan klien memilih dan menghormati keputusannya akan membuat hubungan terapeutik dengan klien berkembang. Terkadang klien perlu mengatasi berduka mereka sendirian sebelum mendiskusikannya dengan orang lain.  Ketika klien ingin membicarakan tentang sesuatu, susun kontrak waktu dan tempat yang tepat.
f.       Tingkat Kesadaran Terhadap Kondisi  Penyakit Terminal
1.   Closed Awareness
Dalam hal ini klien dan keluarga tidak menyadari datangnya kematian, tidak tahu mengapa sakit dan percaya akan sembuh.
2.      Mutual Pretense
Dalam hal ini klien, keluarag, team kesehatan tahu bahwa kondisinya terminal tetapi merasa tidak nyaman untuk dan menghindari membicarakan kondisi yang dihadapi klien. Ini berat bagi klien karena tidak dapat mengekspresikan kekuatannya.
3.      Open Awareness
Pada kondisi ini klien dan orang disekitarnya tahu  bahwa dia berada diambang kematian sehingga tidak ada kesulitan untuk membicarakannya. Pada tahap ini klien dapat dilibatkan untuk proses intervensi keperawatan.
g.      Respon Klien Terhadap Penyakit Terminal
keadaan terminal dapat menimbulkan respon Bio-Psiko-Sosial-Spritual ini akan meliputi respon kehilangan. (Purwaningsih dan kartina, 2009)
1.   Kehilangan kesehatan
Respon yang ditimbulkan dari kehilangan kesehatan dapat berupa klien merasa takut, cemas dan pandangan tidak realistic, aktivitas terbatas.
2.      Kehilangan kemandirian
Respon yang ditimbulkan dari kehilangan kemandirian dapat ditunjukan melalui berbagai perilaku, bersifat kekanak-kanakan, ketergantungan
3.      Kehilangan situasi
Klien merasa kehilangan  situasi yang dinikmati sehari-hari bersama keluarga kelompoknya
4.      Kehilangan rasa nyaman
Gangguan rasa nyaman muncul sebagai akibat gangguan fungsi tubuh seperti panas, nyeri, dll
5.      Kehilangan fungsi fisik
Contoh dampak kehilangan fungsi organ tubuh seperti klien dengan gagal ginjal harus dibantu melalui hemodialisa
6.      Kehilangan fungsi mental
Dampak yang dapat ditimbulkan dari kehilangan fungsi mental seperti klien mengalami kecemasan dan depresi, tidak dapat berkonsentrasi dan berpikir efisien sehingga klien tidak dapat berpikir secara rasional
7.      Kehilangan konsep diri
Klien dengan penyakit  terminal merasa dirinya berubah mencakup bentuk dan fungsi sehingga klien tidak dapat berpikir secara rasional (bodi image) peran serta identitasnya. Hal ini dapat  akan mempengaruhi idealism diri dan harga diri rendah
8.      Kehilangan peran dalam kelompok dan keluarga
Contohnya : seseorang ayah yang memilikiki peran dalam keluarga mencari nafkah akibat  penyakit teminalnya , ayah tesebut tidak dapat menjalankan  peranya tersebut
h.      Adaptasi Dengan Penyakit Terminal
Bagaimana cara seseorang beradaptasi dengan penyakit terminal sesuai dengan umurnya   sebagai berikut:
1.  Anak 
Konsep kematian masih abstrak dan tidak dimengerti dengan baik oleh anak-anak. Sampai umur 5 tahun, anak masih berpikir bahwa kematian adalah hidup di tempat lain dan orang dapat datang kembali. Mereka juga percaya bahwa kematian bisa dihindari. Kematian adalah topik yang tidak mudah bagi orang dewasa untuk didiskusikan dan mereka biasanya menghindarkan anaknya dari realita akan kematian dengan mengatakan bahwa orang mati akan “pergi” atau “berada di surga” atau hanya tidur.Pada anak yang mengalami penyakit terminal kesadaran mereka akan muncul secara bertahap. Pertama, anak akan menyadari bahwa mereka sangat sakit tetapi akan sembuh. Kemudian mereka menyadari penyakitnya tidak bertambah baik dan belajar mengenai kematian dari teman seumurnya terutama orang yang memiliki penyakit mirip, lalu mereka menyimpulkan bahwa mereka juga sekarat.
Saat ini, para ahli percaya bahwa anak-anak seharusya mengetahui sebanyak mungkin mengenai penyakitnya agar mereka mengerti dan dapat mendiskusikannya terutama mengenai perpisahan dengan orang tua. Ketika anak mengalami terminal illness biasanya orang tua akan menyembunyikannya, sehingga emosi anak tidak terganggu. Untuk anak yang lebih tua, pendekatan yang hangat, jujur, terbuka, dan sensitif mengurangi kecemasan dan mempertahankan hubungan yang saling mempercayai dengan orang tuanya.
2.    Remaja atau Dewasa muda
Walaupun remaja dan dewasa muda berpikir bahwa kematian pada usia muda cukup tinggi, mereka memimpikan kematian yang tiba-tiba dan kekerasan. Jika mereka mengalami terminal illness, mereka menyadari bahwa kematian tidak terjadi semestinya dan merasa marah dengan “ketidakberdayaannya” dan “ketidakadilan” serta tidak adanya kesempatan untuk mengembangkan kehidupannya.
Pada saat seperti ini, hubungan dengan ibunya akan menjadi lebih dekat. Menderita penyakit terminal terutama pada pasien yang memiliki anak akan membuat pasien merasa bersalah tidak dapat merawat anaknya dan seolah-olah merasa bahagia melihat anaknya tumbuh. Karena kematian pada saat itu terasa tidak semestinya, dewasa muda menjadi lebih marah dan mengalami tekanan emosi ketika hidupnya diancam terminal illness.
3.    Dewasa madya dan dewasa tua
  Penelitian membuktikan bahwa dewasa muda menjadi semakin tidak takut dengan kematian ketika mereka bertambah tua. Mereka menyadari bahwa mereka mungkin akan mati karena penyakit kronis. Mereka juga memiliki masa lalu yang lebih panjang dibandingkan orang dewasa muda dan memberikan kesempatan pada mereka untuk menerima lebih banyak. Orang-orang yang melihat masa lalunya dan percaya bahwa mereka telah memenuhi hal-hal penting dan hidup dengan baik tidak begitu kesulitan beradaptasi dengan penyakit terminal
2.      Kematian (Dying)
a.       Definisi
Secara etimologi death berasal dari kata death atau deth yang berarti keadaan mati atau kematian. Sedangkan secara definitive, kematian adalah terhentinya fungsi jantung dan paru-paru secara menetap, atau terhentinya kerja otak secara permanen.
b.      Tahapan Penerimaan Terhadap Kematian (Kubler-ross’s)
Menurut Yosep iyus (2007,175) merumuskan lima tahap ketika seseorang dihadapkan pada kematian. Kelima tahap tersebut antara lain:
1.      Denial (penyangkalan)
Respon dimana klien tidak percaya atau menolak terhadap apa yang dihadapi atau yang sedang terjadi. Dan tidak siap terhadap kondisi yang dihadapi dan dampaknya. Ini memungkinkan bagi pasien untuk membenahi diri. Dengan berjalannya waktu, sehingga tidak refensif secara radikal.Penyangkalan merupakan reaksi pertama ketika seseorang didiagnosis menderita terminal illness. Sebagian besar orang akan merasa shock, terkejut dan merasa bahwa ini merupakan kesalahan. Penyangkalan adalah awal penyesuaian diri terhadap kehidupan yang diwarnai oleh penyakit dan hal tersebut merupakan hal yang
normal dan berarti.
2.       Marah
Fase marah terjadi pada saat fase denial tidak lagi bisa dipertahankan. Rasa kemarahan ini sering sulit dipahami oleh keluarga atau orang terdekat oleh karena dapat terpicu oleh hal-hal yang secara normal tidak menimbulkan kemarahan. Rasa marah ini sering terjadi karena rasa tidak berdaya, bisa terjadi kapan saja dan kepada siapa saja tetapi umumnya terarah kepada orang-orang yang secara emosional punya kedekatan hubungan.Pasien yang menderita penyakit terminal akan mempertanyakan keadaan dirinya, mengapa ia yang menderita penyakit dan akan meninggal. Pasien yang marah akan melampiaskan kebenciannya pada orang-orang yang sehat seperti teman, anggota keluarga, maupun staf rumah sakit. Pasien yang tidak dapat mengekspresikan kemarahannya misalnya melalui teriakan akan menyimpan sakit hati. Pasien yang sakit hati menunjukkan kebenciannya melalui candaan tentang kematian, mentertawakan penampilan atau keadaannya, atau berusaha melakukan hal yang menyenangkan yang belum sempat dilakukannya sebelum ia meninggal. Kemarahan merupakan salah satu respon yang paling sulit dihadapi keluarga dan temannya. Keluarga dapat bekerja sama dengan terapis untuk mengerti bahwa pasien sebenarnya tidak marah kepada mereka tapi pada nasibnya.
3.        Bargaining (menawar)
Klien mencoba untuk melakukan tawar menawar dengan tuhan agar terhindar dari kehilangan yang akan terjadi, ini bisa dilakukan dalam diam atau dinyatakan secara terbuka. Secara psikologis tawar menawar dilakukan untuk memperbaiki kesalahan atau dosa masa lalu. Pada tahap ini pasien sudah meninggalkan kemarahannya dalam berbagai strategi seperti menerapkan tingkah laku baik demi kesehatan, atau melakukan amal, atau tingkah laku lain yang tidak biasa dilakukannya merupakan tanda bahwa pasien sedang melakukan tawar-menawar terhadap penyakitnya.
4.       Depresi
Tahap keempat dalam model Kubler-Ross dilihat sebagai tahap di mana pasien kehilangan kontrolnya. Pasien akan merasa jenuh, sesak nafas dan lelah. Mereka akan merasa kesulitan untuk makan, perhatian, dan sulit untuk menyingkirkan rasa sakit atau ketidaknyamanan. Rasa kesedihan yang mendalam sebagai akibat kehilangan ( past loss & impending loss), ekspresi kesedihan ini verbal atau nonverbal merupakan persiapan terhadap kehilangan atau perpisahan abadi dengan apapun dan siapapun.Tahap depresi ini dikatakan sebagai masa ‘anticipatory grief’, di mana pasien akan menangisi kematiannya sendiri. Proses kesedihan ini terjadi dalam dua tahap, yaitu ketika pasien berada dalam masa kehilangan aktivitas yang dinilainya berharga, teman dan kemudian mulai mengantisipasi hilangnya aktivitas dan hubungan di masa depan
5.       Penerimaan (acceptance)
Pada tahap ini pasien sudah terlalu lemah untuk merasa marah dan memikirkan kematian. Beberapa pasien menggunakan waktunya untuk membuat perisapan, memutuskan kepunyaannya, dan mengucapkan selamat tinggal pada teman lama dan anggota keluarga.
Pada tahap menerima ini, klien memahami dan menerima keadaannya yang bersangkutan mulai kehilangan interest dengan lingkungannya,dapat menemukan kedamaian dengan kondisinya, dan beristirahat untuk menyiapkan dan memulai perjalanan panjang.
c.       Implikasi Keperawatan terhadap Respon Klien
1.      Tahap Denial
Beri dukungan pada fase awal karena ini berfungsi protektif dan memberi waktu bagi klien untuk melihat kebenaran. Bantu untuk melihat kebenaran dengan konfirmasi kondisi melalui second opinion.
2.       Tahap Anger
Bantu klien untuk memahami bahwa marah adalah respon normal akan kehilangan dan ketidakberdayaan. Siapkan bantuan berkesinambungan agar klien merasa aman.
3.      Tahap Bargaining
Asah kepekaan perawat bila fase tawar menawar ini dilakukan secara diam-diam. Bargaining sering dilakukan klien karena rasa bersalah atau ketakutan terhadap bayang-bayang dosa masa lalu. Bantu agar klien mampu mengekspresikan apa yang dirasakan, apabila perlu datangkan pemuka agama untuk pendampingan.
4.      Tahap Depresi
Klien perlu untuk merasa sedih dan beri kesempatan untuk mengekspresikan kesedihannya. Perawat hadir sebagai pendamping dan pendengar
5.      Tahap Menerima
Klien merasa damai dan tenang. Dampingi klien untuk mempertahankan rasa berguna (self worth). Berdayakan pasien untuk melakukan segala sesuatu yang masih mampu dilakukan dengan pendampingan. Fasilitasi untuk menyiapkan perpisahan abadi.






















BAB III
PENUTUP


A.    KESIMPULAN

Dari penjelasan di atas, dapatlah disimpulkan bahwa penyakit terminal adalah suatu penyakit yag tidak bisa disembuhkan lagi. Contohnya seperti penyakit jantung gagal ginjal ,dan kanker atau penyakit terminal ini dapat dikatakan harapan untuk hidup tipis, tidak ada lagi obat-obatan, tim medis sudah give up (menyerah) dan seperti yang di katakan di atas tadi penyakit terminal ini mengarah kearah kematian.Kematian adalah tahap akhir kehidupan. Kematian bisa datang tiba-tiba tanpa peringatan atau mengikuti priode sakit yang panjang.Terkadang kematian menyerang usia muda tetapi selalu menunggu yang tua.Perawatan pasien yang akan meninggal tetap harus dilakukan. Perawatan yang komprehensif tentang orang yang menjelang ajal sangat jarang menuntut lebih dari manajemen symptom yang hati-hati dan perhatian terhadap kebutuhan dasar fisik pasien secara perorangan sebagai pribadi dan keluarganya.

B.     Saran
1.      Perawat harus memahami apa yang dialami klien dengan kondisi terminal, tujuannya untuk dapat menyiapkan dukungan dan bantuan bagi klien.
2.      Ketika merawat klien menjelang ajal atau terminal, tanggung jawab perawat harus mempertimbangkan kebutuhan fisik, psikologis, dan social yang unik.
3.      Perawat harus lebih toleran dan rela meluangkan waktu lebih banyak dengan klien menjelang ajal, untuk mendengarkan klien mengekspresikan duka citanya dan untuk mempertahankan kualitas hidup pasien.
DAFTAR PUSTAKA


Potter & Perry. (2009).Fundamental keperawatan (7 th ed.).(vols 2.). dr Adrina &marina, penerjemah). Jakarta :EGC.
Kozier , Erb , Snyder.2010. Buku ajar Fundamental Keperawatan : Konsep , Proses dan praktiks.edisi 7 .Volume 2. Jakarta : EGC
Ferrell,B.R& Coyle,N.(Eds.).(2007).Textbook of Palliative nursing, 2nd ed.New York.NY:OxfordUniversity Press
KEPMENKES RI NOMOR:812/MENKES/SK/VII/2007 Tentang Kebijakan Perawatan Palliative Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Yosep ,Iyus .(2007).Keperawatan Jiwa.Bandung. Refika Aditama.


  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar