PNEUMONIA
PENGERTIAN PNEUMONIA
Pneumonia adalah inflamatori parenkim paru yang umumnya disebabkan oleh agens infeksius. Pneumonia adalah penyakit infeksius yang sering menyebabkan kematian di amerika serikat. dengan pria menduduki peringkat ke empat pria dan wanita peringkat ke lima sebagai akibat hospitalisasi. penyakit ini juga diobati secara luas dibagian rawat jalan.
Pneumonia dikelompokkan berdasarkan agen penyebabnya dan dikategorikan sebagai pneumonia bakterialis dan pneumonia atipikal. Pneumonia juga mungkin disebabkan oleh terapi radiasi, bahan kimia, dan aspirasi. Pneumonia radiasi dapat menyertai terapi radiasi untuk kangker payudara atau paru, biasanya 6 minggu atau lebih setelah pengobatan selesai. Pneumonia kimiawi atau pneumonia terjadi setelah mencerna kerosin atau inhalasi gas yang mengiritasi.
jika suatu bagian substansi dari satu lobus atau lebih yeng terkena, penyakit ini disebut sebagai pneumonia lobaris. istilah bronkopneumonia digunakan untuk menggambarkan pneumonia yang mempunya pola penyebaran berbercak, teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi di dalam bronki dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan disekitarnya. bronkopneumonia lebih umum terjadi dibandingkan pneumonia lobaris.
ETIOLOGI
Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme, yaitu bakteri, virus, jamur dan protozoa. Dari kepustakaan pneumonia komuniti yang diderita oleh masyarakat luar negeri banyak disebabkan bakteri Gram positif, sedangkan pneumonia di rumah sakit banyak disebabkan bakteri Gram negatif sedangkan pneumonia aspirasi banyak disebabkan oleh bakteri anaerob. Akhir-akhir ini laporan dari beberapa kota di Indonesia menunjukkan bahwa bakteri yang ditemukan dari pemeriksaan dahak penderita pneumonia komuniti adalah bakteri Gram negatif.
PENCEGAHAN DAN FAKTOR RESIKO
Dengan memiliki pengetahuan tentang faktor-faktor dan situasi yang umumnya menjadi predisposisi individu terhadap pneumonia akan membantu untuk mengidentifikasi pasien-pasien yang beresiko terhadap pneumonia. memberikan perawat antisipasi dan preventif adalah tindakan keperawatan yang penting.
· setiap kondisi yang menghasilkan lendir atau obstruksi bronkial dan mengganggu drinase normal paru (mis., kanker, penyakit obstruksi paru menahun (ppom)) meningkatkan kerentana pasien terhadap pneumonia. Tindaka preventif : tingkatkan batung dan pengeluaran sekresi.
· pasien imunosupresif dan mereka dengan jumlah neutrofil rendah (neutropeni) adalah mereka yang beresiko. tindakan preventif : lakuakan tindakan kewaspadaan khusus infeksi.
· individu yang erokok beresiko, karena asap rokok menggangu baik aktivitas mukosiliari dan makrofag. tindakan preventif : anjurkan individu untuk berhenti merokok.
· setiap individu pasien yang diperbolehkan berbaring secara pasif di tempat tidur dalam waktu yang lama, yang secara relatif imobil dan bernapas dangkal, beresiko terhadap pneumonia. tidakan preventif : sering mengubah posisi
· setiap individu yangmengalami depresi refleks batuk (karena medikasi, keadaan yang melemahkan, atau otot-otot pernafasan lemah), telah mengaspirasi benda-benda asing ke dalam paru-paru selam periode tidak sadar (cedera kepala, anastesia) atau mempunyai mekanisme menelan abnormal adalah mereka yang hampir pasti mengalami bronkopeneumonia. tindakan preventif : mengisap trakeobronkial, sering mengubah posisi, bijaksana dala memberikan obat-obat yang meningkatkan resiko aspirsi dan terapi fisik dada.
· setiap pasien yang dirawat dengan regimen NPO (dipuasakan) atau mereka yang mendapat antibiotik mengalami penigkatan kolonisasi organisme faring dan beresiko. pada individu yang sakit sangat parah, hampir pasti terdapat kolonisasi bakteri gram negatif pada orofaringnya. tindakan preventif : tingkatkan higine oral yang teratur.
· individu yang sering mengalami intoksikasi terutama rentan terhadap pneumonia, karena alkohol menekan refleks-refleks tubuhmobilisasi sel darah putih, dan gerakan siliaris trakeobronkial, tindakan preventif : memberikan dorongan pada individu untuk mengurangi masukan alkohol
· setiap individu yang menerima sedatif atau opioid dapat mengalami depresi pernapasan, yang mencetuskan pengumpulan sekresi bronkial dan selanjutnya mengalami pneumonia. tindakan preventif : obserfasi frekuensi pernapasan dan kedalaman pernapasan sebelum memberikan obat-obatan. jika tampak depresi pernapasan, tunda pemberian obat dan laporkan masalah ini.
· pasien yang tidak sadar atau yang memiliki reflek batuk dan menelan yang buruk adalah mereka yang beresiko terhadapa pneumonia akibat penumpukan sekresi atau aspirasi. tindakan preventif : sering lakukan tindakan pengisapan sekresi
· individu lansia terutama mereka yang rentan terhadap pneumonia akibat depresi refleks batuk dan glotis. pneumonia pascaoperatif seharusnya dapat diperkirakan terjadi pada lansia. tindakan preventif : sering mobilisasi, batuk efektif, dan latihan pernapasan.
· setiapa orang yang menerima pengobatan dengan peralatan terapi pernapasan dapat mengalami pneumonia jika peralatan tersebut tidak dibersihkan dengan tepat. tindaka preventif : pastikan peralatan pernapasan sudah dibersihkan dengan tepat.
MANIFESTASI KLINIS
Pneumonia bakterial (pneumokokus) secara khas diawali dengan awitan menggigil, demam yang timbul dengan cepat 939,5°C – 40,5°C) dan nyeri dada yang terasa ditusuk-tusuk yang dicetuskan oleh bernafas dan batuk. pasien sangat sakit dengan takipnea sangat jelas (25-45 kali/menit) dan disertai dengan pernafasan mendengkur, pernafasan cuping hidung, dan menggunakan otot-otot aksesoris pernafasan.
Pneumonia atipikal beragam dalam gejalanya, tergantung pada organisme penyebab. banyak pasien mengalami infeksi saluran pernapasan atas (kongesti nasal, sakit tenggorokan) dan awitan gejala pneumonianya bertahap. gejala menonjol adalah sakit kepala, demam tingkat rendah, nyeri pleuritis, mialgia, ruam, dan faringitis. setelah beberapa hari, seputum mukoid atau mukopurulen dikeluarkan.
Nadi cepat dan bersambung (bounding). nadi biasanya meningkat sekitar 10x/menit untuk setiap kenaikan 1°C. bradikardi relatif untuk suatu demam tingkat tertentu dapat menandakan infeksi virus, infeksi miycoplasma, atau infeksi dengan spesies legionella.
Pada pasien lansia atau mereka dengan PPOM, gejala-gejala dapat berkembang secara tersembunyi. sputum purulen mungkin menjadi satu-satunya tanda pneumoni pada pasien ini. sangat sulit sulit untuk mendeteksi perubahn yang halus pada kondisi mereka karena telang mengalami gangguan paru yang serius.
EVALUASI DIAGNOSTIK
Diagnosis pneumonia ditegakkan dengan mengumpulkan riwayat kesehatan (teritama infeksi saluran pernafasan yang baru saja dialami), pemeriksaan fisik, rontgen dada, kultur darah (invasi aliran darah, yang disebut bakteremia, sering terjadi) dan pemeriksaan sputum.
· Untuk mendapatkan sempel sputum yang adekuat pasien membilas mulut dengan air untuk meminimalkan kontaminasi oleh flora normal mulut. kemudian pasien diminta untuk napas dalam beberapa kali kemudian dengan dalam membatukkan sputum yang keluar kedalam wadah seteril.
Sputum dapat juga dikumpulkan melalui aspirasi trastrakeal atau bronkoskopi serat optik pada pasien yang tidak dapat mengeluarkan sputm atau mereka yang tidak sadar, mempunyai mekanisme imun abnormal, atau mengalami pneumonia setelah minum antibiotik atau ketika dirawat di rumah sakit.
PENETALAKSANAAN MEDIS
Konsolidasi atau area yang menebal dalm paru-paru yang akan tampak pada rontgen dada mencangkup are berbecak atau keseluruhan lobus (pneumonia lobaris). pada pemeriksaan fisik, temuan akan beragam tergantung pada keparahan pneumonia. temuan tersebut dapat mencangkup bunyi napas bronkovaskuler atau bronkial, krekles, peningkatan fremitus, egofoni positif, dan pekak pada perkusi.
pengobatan pneumonia termasuk pemberian antibiotik yang sesuai seperti yang dtetapkan oleh ahli pewarnaan Gram. penisilin G merupakan antibiotik pilihan untuk infeksi oleh S. pneumonia. medikasi efektif lainnya termasuk eritromisin, klindamisin, sefalosparin generasi kedua dan ketiga., penisilin lainnya, dan trimetriprim sulfameroksazol (bactrium).pikal lainnya mempunyai penyebab virus
pneumonia mikoplasma memberikan respon terhadap eritromisin, tetrasiklin, dan derivat tertrrasiklin (doksisiklin). pneumonia atipikal lainnya mempunyai penyebab virus dan kebanyakan tidak memberikan respons terhadap anti mikroba. pneumocytis carinii meberikan respon terhadap pentamidin dan trimetoprim-sulfametok-sazol (bactrim, TPM-SMZ). inhalansi lembab, hangat sangat membantu dalam menghilangkan iritaso bronkhial. asuhan keperawatan dan pengobatan (dengan pengecualian terapi anti mikrobial) sama dengan yang diberikan untuk pasien yang mengalami pneumonia akibat bakteri.
pasien menjalani tirah baring dampai infeksi menunjukkan tanda-tanda penyembuhan. jika di rawat di rumah sakit, pasien diamati secara cermat dan secara kontinu sampai kondisi klinis membaik.
PERTIMBANGAN GERONTOLOGI
pneumonia pada lansia dapat terjadi secara sepontan atau sebagai komplikasi proses penyakit kronis. infeksi paru pada lansia sering sulit untuk di obati dan berkaitan dengan angka kematian yang lebih tiggi dibandingkan infeksi yang sama yang terjadi pada pasien yang berusia lebih muda. awitan pneumonia mungkin ditandai dengan kemunduran kesehatans ecara umum, kelemahan, gejala-gejala abdomen, anoreksia, konfusi, takikardi, dan takipnea. diagnosa pneumonia mungkin tidak terdeteksi karena gejala-gejala klasik batuk, nyeri dada, pembentukan seputum, dan demanm sering tidak tampak pada pasien lansia.
Terdapatnya beberaa tanda mungkin akan menyesatkan. Bunyi napas abnormal, misalnya bisa karena mikroatelektasis yang terjadi bersamaan penuaan. karena gagal jantung kongestif (CHF) sering tampak pada lansia, mungkin diperlukan pemeriksaan rontgen dada untuk membandingkan CHF dengan pneumonia sebagai penyebab tanda-tanda dan gejala klinis.
Pengobatan suportif termsuk meningkatkan masukan cairan (dengan kewaspadaan dan pengkajian sering dalam mengamati resiko kelebihan cairan pada lansia) terapi oksigen, dan bantuan dengan napas dalam batuk, pembentukan sputum, dan perubahan posisi yang kesemuanya penting dalam asuhan keperawatan apsien lansia dengan pneumonia.
Untuk mengurangi atau mencegah komplikasi serius dari pneumonia pada lansia, vaksinasi terhadap infeksi pneumokokus dan virus influensa telah dianjurkan untuk individu yang berusia lebih dari 50 tahun, penghuni rumah perawatan, pasien-pasien yang lemah, dan mereka dengan penyakit kardiovaskular. vaksin memberikan pencegahan terhadpa pneumonia yang disebabkan oleh organisme spesifik.
Vaksin pneumokokus dianjurkan untuk kelompok risiko tinggi, juga untuk pasien yang telah menjalani splenektomi dan mereka yang menderita penyakit sel sabit atau pecandu alkohol.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar