Selasa, 09 Juni 2015
PERSALINAN NORMAL
PERSALINAN NORMAL
A. Pengertian
Partus adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar. (Hanifa Wikjno Sastro)
Partus biasa atau partus normal atau partus spontan adalah bila bayi lahir dengan presentasi belakang kepala tanpa memakai alat-alat atau pertolongan istimewa serta tidak melukai ibu dan bayi dan umumnya berlangsung dalam waktu kurang sai 24 jam (WHO).
Intra natal (persalinan) adalah dimana terjadi proses membuka dan menipisnya serviks yang diikuti serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi yang cukup bulan/ hampir bulan disusul dengan pengeluaran plasenta dan selanjutnya janin (Sarwono Prawirohardjo, 2000)
B. Penyebab Terkadinya Persalinan
Penyebab terjadinya persalinan dapat yaitu :
1. Penurunan kadar progesteron
2. Keregangan otot-otot rahim
3. Pengaruh janin
4. Teori prostaglandin meningkat kontraksi
C. Tanda-tanda Permulaan Persalinan
Sebelum terjadinya persalinan sebenarnya , beberapa minggu sebelumnya wanita memasuki bulannya atau minggu atau harinya yang disebut kala pendahuluan ini memberikan tanda sebagai berikut :
1. Lightening atau setting atau pendahuluan yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul terutama pada primigravida pada multipara tidak begitu jelas.
2. Perut kelihatan lebih lebar, fundus uteru turun
3. Perasaan sering susah kencing (polakisuria) karena kandung kencing tertekan oleh bagian bawah janin.
4. Perasaan sakit di perut dan pinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi lemah dan uterus kadang disebut “false labor pains”.
5. Serviks menjadi lebih lembek mulai mendatar sekresinya bertambah bias bercampur darah (blow show)
D. Tanda-tanda Inpartu
1. Rasa sakit oleh adanya HIS yang datang lebih sering dan kuat serta teratur dengan jarak kontraksi yang semakin pendek
2. Keluar lendir bercampur darah (show) yang lebih banyak karena robekan-robekan kecil pada serviks.
3. Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya.
4. Pada pemeriksaan dalam dijumpai perubahan serviks, perlunakan serviks, pendataran serviks dan terjadinya pembukaan serviks.
E. Faktor-Faktor yang Berperan dalam Persalinan
Berlangsungnya persalinan dibagi menjadi 4 kala yaitu :
1. Kala I
Dimulai saat kontraksi uterus berjalan teratur, keluar lendir darah blood show dan pada serviks akan terjadi pendataran, penipisan atau attachment dan akhirnya terjadi pembukaan pada multigravida pendataran dan penipisan berlangsung bersama-sama sebelum pembukaan sehingga dijumpai serviks pada multigravida selalu terbuka.
a. Fase laten dalam lebih kurang 3 jam pembukaan 2 cm
b. Fase aktif
- Akselerasi pembukaan 3-4 cm selama 2 jam
- Dilatasi maksimal pembukaan 4-9 cm selama 2 jam
- Dilatasi pembukaan 9-10 cm selama 2 jam
Pada primigravida kala I lebih kurang 16-18 jam
Pada multigravida kala I lebih kurang 8-12 jam
2. Kala II
Dimulai saat pembukaan serviks lengkap sampai bayi lahir. Tanda dan gejala kala II persalinan :
- Ibu merasakan ingin mengejan bersamaan dengan terjadinya kontraksi
- Ibu merasakan semakin meningkatnya tekanan pada rektum dan atau vaginanya.
- Perineum terlihat lebih menonjol
- Peningkatan pengeluaran lendir dan darah
- Pembukaan serviks telah lengkap dan terlihat bagian kepala bayi pada introitus vagina.
3. Kala III
Dari bayi lahir sampai keluarnya plasenta. Sebab terlepasnya plasenta karena adanya kontraksi uterus dan dari dalam hematom retro plasenta pada tempat menempelnya plasenta.
Cara pelepasan plasenta ada 2 macam yaitu :
a. Schulze mulai terlepasnya dari bagian tengah
b. Duncan mulai terlepas dari bagian pinggir
4. Kala IV
Adalah kala pengeluaran setelah 2 jam anak lahir untuk mengamati keadaan ibu terutama bahaya perdarahan kala IV ditandai dengan TFU 2 jari dibawah pusat ada pengeluaran darah sedikit dan kontraksi uterus.
|
21.26 (1 menit yang lalu)
![]() | ![]() ![]() | ||
| ||||
LAPORAN PENDAHULUAN
PERSALINAN NORMAL
A. Pengertian
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks dan janin turun ke dalam jalan lahir. (Prawirohardjo, 2001).
Kelahiran adalah proses dimana janin dan ketuban di dorong keluar melalui jalan lahir. (Prawirohardjo, 2001).
Pesalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin. (Prawirohardjo, 2001).
Pesalinan normal (partus spontan) adalah proses lahirnya bayi pada letak belakang kepala yang dapat hidup dengan tenaga ibu sendiri dan uri,tanpa alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam melalui jalan lahir.
Persalinan dibagi dalam 4 kala, yaitu :
· Kala I : Dimulai dari saat persalinan mulai sampai pembukaan lengkap (10 cm). Proses ini terbagi dalam 2 fase : Fase Laten (8 jam) serviks membuka sampai 3 cm dan Fase aktif (7 jam) serviks membuka dari 3 cm sampai 10 cm. Kontraksi lebih kuat dan sering selama Fase aktif.
· Kala II : Dimulai dari pembukaan lengkap (10 cm) sampai bayi lahir. Proses ini biasanya berlangsung 2 jam pada primi dan 1 jam pada multi.
· Kala III : Dimulai segera setelah lahir sampai lahirnya plasenta, yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit.
· Kala IV : Dimulai saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama postpartum
B. Penyebab
Penyebab timbulnya persalinan sampai sekarang belum diketahui secara pasti/jelas. Terdapat beberapa teori antara lain : (Rustam Muchtar, 1998).
(1) Penurunan kadar progesteron :
Progesteron menimbulkan relaksasi otot-otot rahim, sebaliknya Estrogen meninggikan kerentanan otot rahim. Selama kehamilan terdapat keseimbangan antara kadar Progesteron dan Estrogen di da;lam darah, tetapi pada akhir kehamilan kadar Progesteron menurun sehingga timbul his.
(2) Teori oxytocin :
Pada akhir kehamilan kadar oxytocin bertambah. Oleh karena itu timbul kontraksi otot-otot rahim.
(3) Keregangan otot-otot :
Seperti halnya dengan kandung kencing dan lambung bila dindingnya teregang oleh karena isinya bertambah maka timbul kontraksi untuk mengeluarkan isinya.
Demikian pula dengan rahim, maka dengan majunya kehamilan makin teregang otot-otot dan otot-otot rahim makin rentan.
(4) Pengaruh janin :
Hypofise dan kelenjar suprarenal janin rupa-rupanya juga memegang peranan oleh karena pada anencephalus kehamilan sering lebih lama dari biasa.
(5) Teori Prostaglandin :
Prostaglandin yang dihasilkan oleh decidua, disangka menjadi salah satu sebab permulaan persalinan. Hasil dari percobaab menunjukkan bahwa Prostaglandin F2 dan E2 yang diberikan secara intra vena, intra dan extraamnial menimbulkan kontraksi myometrium pada setiap umur kehamilan. Hal ini juga di sokong dengan adanya kadar Prostaglandin yang tinggi baik dalam air ketuban maupun darah perifer pada ibu-ibu hamilsebelum melahirkan atau selama persalinan.
Secara skematis dikaitkan dengan gangguan pemenuhan kebutuhan dasar sebagai berikut :
Prostaglandin ¯
¯
Sintesa Prostaglandin di chorio amnion
¯
Kontraksi Uterus
|
Kadar Oxytocin
¯
Permiabilitas Na dalam Myometrium
¯
Cairan intra sel
¯
Kontraksi Uterus
|
Fetus cortisol
¯
Aktivasi Hormon Hypofise dan Intra renal
¯
Fetus normal
cukup/hampir cukup bulan
¯
Kontraksi Uterus
|
Prostaglandin
¯
Prostaglandin
Estroge ¯
¯
Aktivasi phospholipase dalam selaput ketuban
¯
Kontraksi Myometrium
|
Peregangan otot rahim
¯
Sintesa
¯
Kontraksi Myometrium
¯
Prostaglandin
|
His : Kontraksi otot rahim yang terasa nyeri dan yang dapat menimbulkan pembukaan servix pada persalinan.
His : Kontraksi otot rahim yang terasa nyeri dan yang dapat menimbulkan pembukaan servix pada persalinan.
Kala I
Dimulai dari saat persalinan mulai sampai pembukaan lengkap (10 cm). Proses ini terbagi dalam 2 fase :
v Fase Laten (8 jam) serviks membuka sampai 3 cm
Ø Ansietas
Ø Kurang pengetahuan
Ø Kurangnya volume cairan
Ø Koping individu tidak efektif
Ø Infeksi
Ø Cedera (janin)
v Fase aktif (7 jam) serviks membuka dari 3 cm sampai 10 cm. Kontraksi lebih kuat dan sering selama Fase aktif.
Ø Nyeri
Ø Perubahan eliminasi urin
Resiko tinggi
Ø Cedera (ibu)
Ø Gangguan pertukaran gas
Ø CO ¯
Ø Kurangnya volume cairan
Ø Kelelahan
|
Kala II
Dimulai dari pembukaan lengkap (10 cm) sampai bayi lahir. Proses ini biasanya berlangsung 2 jam pada primi dan 1 jam pada multi.
Ø Nyeri (Akut)
Resiko tinggi
Ø CO ¯
Ø Gangguan pertukaran gas
Ø Kerusakan integritas kulit/jaringan
Ø Kurangnya volume cairan
Ø Infeksi
Ø Cedera (janin)
Ø Kelelahan
|
Kala III
Dimulai segera setelah lahir sampai lahirnya plasenta, yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit.
Resiko tinggi
Ø Kurangnya volume cairan
Ø Cedera (ibu)
Ø Kurang pengetahuan
Ø Nyeri
Ø Perubahan proses keluarga
|
Kala IV
Dimulai saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama postpartum.
|
· Ibu merasakan ingin mengejan bersamaan dengan terjadinya kontraksi.
· Ibu merasakan semakin meningkatnya tekanan pada rektum dan atau vaginanya.
· Perineum terlihat lebih menonjol
· Peningkatan pengeluaran lendir dan darah
· Pembukaan serviks telah lengkap dan terlihat bagian kepala bayi pada introitus vagina.
3. Kala III
Dari bayi lahir sampai keluarnya plasenta. Sebab terlepasnya plasenta karena adanya kontraksi uterus dan dari dalam hematom retro plasenta pada tempat menempelnya plasenta. Cara pelepasan plasenta ada 2 macam yaitu :
· Schulze mulai terlepasnya dari bagian tengah
· Duncan mulai terlepas dari bagian pinggir
4. Kala IV
Adalah kala pengeluaran setelah 2 jam anak lahir untuk mengamati keadaan ibu terutama bahaya perdarahan kala IV ditandai dengan TFU 2 jari dibawah pusat ada pengeluaran darah sedikit dan kontraksi uterus.
F. Mekanisme Persalinan (Cunningham, Mac Donald & Gant, 1995)
Mekanisme Persalinan adalah proses keluarnya bayi dari uterus ke dunia luar pada saat persalinan.
Gerakan utama pada Mekanisme Persalinan :
1. Engagement
· Diameter biparietal melewati PAP
· Nullipara terjadi 2 minggu sebelum persalinan
· Multipara terjadi permulaan persalinan
· Kebanyakan kepala masuk PAP dengan sagitalis melintang pada PAP-Flexi Ringan.
2. Descent (Turunnya Kepala)
· Turunnya presentasi pada inlet
Disebabkan oleh 4 hal :
a. Tekanan cairan ketuban
b. Tekanan langsung oleh fundus uteri
c. Kontraksi diafragma dan otot perut (kala II)
d. Melurusnya badan janin akibat kontraksi uterus.
· Synclitismus dan Asynclitismus
· Synclitismus
q Sutura sagitalis terdapat di tengah-tengah jalan lahir tepat antara symplusis dan promotorium.
q Os Parietal depan dan belakang sama tinggi.
§ Asynclitismus
Jika Sutura sagitalis agak ke depan mendekati symplusis atau agak kebelakang mendekati promotorium.
q Asynclitismus Posterior
Sutura sagitalis mendekati simplusis, Os parietal belakang lebih rendah dari Os parietal depan.
q Asynclitismus Anterior
Sutura sagitalis mendekati promotorium sehingga Os parietal depan > Os parietal belakang.
3. Flexion
Majunya kepala ® mendapat tekanan dari servix, dinding panggul atau dasar panggul ® Flexi (dagu lebih mendekati dada).
Keuntungan : Ukuran kepala yang melalui jalan lahir lebih kecil
(D. SOB = 9,5 cm) ® Outlet.
4. Internal Rotation
· Bagian terrendah memutar ke depan ke bawah symphisis
· Usaha untuk menyesuaikan posisi kepala dengan bentuk jalan lahir (Bidang tengah dan PBP)
· Terjadinya bersama dengan majunya kepala
· Rotasi muka belakang secara lengkap terjadi setelah kepala di dasar panggul.
5. Extension
· Defleksi kepala
· Karena sumbu PBP mengarah ke depan dan atas
· Dua kekuatan kepala
§
|
§ Tahanan dasar panggul menolak ke atas
· Setelah sub occiput tertahan pada pinggir bawah symphisis sebagai Hypomoclion ® lahir lewat perinium = occiput, muka dagu.
6. External Rotation
· Setelah kepala lahir ® kepala memutar kembali ke arah panggul anak untuk menghilangkan torsi leher akibat putaran paksi dalam
· Ukuran bahu menempatkan pada ukuran muka belakang dari PBP.
7. Expulsi
· Bahu depan di bawah symphisis ® sebagai Hypomoklion ® lahir ® bahu belakang, bahu depan ® badan seluruhnya.
PNEUMONIA
PNEUMONIA
PENGERTIAN PNEUMONIA
Pneumonia adalah inflamatori parenkim paru yang umumnya disebabkan oleh agens infeksius. Pneumonia adalah penyakit infeksius yang sering menyebabkan kematian di amerika serikat. dengan pria menduduki peringkat ke empat pria dan wanita peringkat ke lima sebagai akibat hospitalisasi. penyakit ini juga diobati secara luas dibagian rawat jalan.
Pneumonia dikelompokkan berdasarkan agen penyebabnya dan dikategorikan sebagai pneumonia bakterialis dan pneumonia atipikal. Pneumonia juga mungkin disebabkan oleh terapi radiasi, bahan kimia, dan aspirasi. Pneumonia radiasi dapat menyertai terapi radiasi untuk kangker payudara atau paru, biasanya 6 minggu atau lebih setelah pengobatan selesai. Pneumonia kimiawi atau pneumonia terjadi setelah mencerna kerosin atau inhalasi gas yang mengiritasi.
jika suatu bagian substansi dari satu lobus atau lebih yeng terkena, penyakit ini disebut sebagai pneumonia lobaris. istilah bronkopneumonia digunakan untuk menggambarkan pneumonia yang mempunya pola penyebaran berbercak, teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi di dalam bronki dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan disekitarnya. bronkopneumonia lebih umum terjadi dibandingkan pneumonia lobaris.
ETIOLOGI
Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme, yaitu bakteri, virus, jamur dan protozoa. Dari kepustakaan pneumonia komuniti yang diderita oleh masyarakat luar negeri banyak disebabkan bakteri Gram positif, sedangkan pneumonia di rumah sakit banyak disebabkan bakteri Gram negatif sedangkan pneumonia aspirasi banyak disebabkan oleh bakteri anaerob. Akhir-akhir ini laporan dari beberapa kota di Indonesia menunjukkan bahwa bakteri yang ditemukan dari pemeriksaan dahak penderita pneumonia komuniti adalah bakteri Gram negatif.
PENCEGAHAN DAN FAKTOR RESIKO
Dengan memiliki pengetahuan tentang faktor-faktor dan situasi yang umumnya menjadi predisposisi individu terhadap pneumonia akan membantu untuk mengidentifikasi pasien-pasien yang beresiko terhadap pneumonia. memberikan perawat antisipasi dan preventif adalah tindakan keperawatan yang penting.
· setiap kondisi yang menghasilkan lendir atau obstruksi bronkial dan mengganggu drinase normal paru (mis., kanker, penyakit obstruksi paru menahun (ppom)) meningkatkan kerentana pasien terhadap pneumonia. Tindaka preventif : tingkatkan batung dan pengeluaran sekresi.
· pasien imunosupresif dan mereka dengan jumlah neutrofil rendah (neutropeni) adalah mereka yang beresiko. tindakan preventif : lakuakan tindakan kewaspadaan khusus infeksi.
· individu yang erokok beresiko, karena asap rokok menggangu baik aktivitas mukosiliari dan makrofag. tindakan preventif : anjurkan individu untuk berhenti merokok.
· setiap individu pasien yang diperbolehkan berbaring secara pasif di tempat tidur dalam waktu yang lama, yang secara relatif imobil dan bernapas dangkal, beresiko terhadap pneumonia. tidakan preventif : sering mengubah posisi
· setiap individu yangmengalami depresi refleks batuk (karena medikasi, keadaan yang melemahkan, atau otot-otot pernafasan lemah), telah mengaspirasi benda-benda asing ke dalam paru-paru selam periode tidak sadar (cedera kepala, anastesia) atau mempunyai mekanisme menelan abnormal adalah mereka yang hampir pasti mengalami bronkopeneumonia. tindakan preventif : mengisap trakeobronkial, sering mengubah posisi, bijaksana dala memberikan obat-obat yang meningkatkan resiko aspirsi dan terapi fisik dada.
· setiap pasien yang dirawat dengan regimen NPO (dipuasakan) atau mereka yang mendapat antibiotik mengalami penigkatan kolonisasi organisme faring dan beresiko. pada individu yang sakit sangat parah, hampir pasti terdapat kolonisasi bakteri gram negatif pada orofaringnya. tindakan preventif : tingkatkan higine oral yang teratur.
· individu yang sering mengalami intoksikasi terutama rentan terhadap pneumonia, karena alkohol menekan refleks-refleks tubuhmobilisasi sel darah putih, dan gerakan siliaris trakeobronkial, tindakan preventif : memberikan dorongan pada individu untuk mengurangi masukan alkohol
· setiap individu yang menerima sedatif atau opioid dapat mengalami depresi pernapasan, yang mencetuskan pengumpulan sekresi bronkial dan selanjutnya mengalami pneumonia. tindakan preventif : obserfasi frekuensi pernapasan dan kedalaman pernapasan sebelum memberikan obat-obatan. jika tampak depresi pernapasan, tunda pemberian obat dan laporkan masalah ini.
· pasien yang tidak sadar atau yang memiliki reflek batuk dan menelan yang buruk adalah mereka yang beresiko terhadapa pneumonia akibat penumpukan sekresi atau aspirasi. tindakan preventif : sering lakukan tindakan pengisapan sekresi
· individu lansia terutama mereka yang rentan terhadap pneumonia akibat depresi refleks batuk dan glotis. pneumonia pascaoperatif seharusnya dapat diperkirakan terjadi pada lansia. tindakan preventif : sering mobilisasi, batuk efektif, dan latihan pernapasan.
· setiapa orang yang menerima pengobatan dengan peralatan terapi pernapasan dapat mengalami pneumonia jika peralatan tersebut tidak dibersihkan dengan tepat. tindaka preventif : pastikan peralatan pernapasan sudah dibersihkan dengan tepat.
MANIFESTASI KLINIS
Pneumonia bakterial (pneumokokus) secara khas diawali dengan awitan menggigil, demam yang timbul dengan cepat 939,5°C – 40,5°C) dan nyeri dada yang terasa ditusuk-tusuk yang dicetuskan oleh bernafas dan batuk. pasien sangat sakit dengan takipnea sangat jelas (25-45 kali/menit) dan disertai dengan pernafasan mendengkur, pernafasan cuping hidung, dan menggunakan otot-otot aksesoris pernafasan.
Pneumonia atipikal beragam dalam gejalanya, tergantung pada organisme penyebab. banyak pasien mengalami infeksi saluran pernapasan atas (kongesti nasal, sakit tenggorokan) dan awitan gejala pneumonianya bertahap. gejala menonjol adalah sakit kepala, demam tingkat rendah, nyeri pleuritis, mialgia, ruam, dan faringitis. setelah beberapa hari, seputum mukoid atau mukopurulen dikeluarkan.
Nadi cepat dan bersambung (bounding). nadi biasanya meningkat sekitar 10x/menit untuk setiap kenaikan 1°C. bradikardi relatif untuk suatu demam tingkat tertentu dapat menandakan infeksi virus, infeksi miycoplasma, atau infeksi dengan spesies legionella.
Pada pasien lansia atau mereka dengan PPOM, gejala-gejala dapat berkembang secara tersembunyi. sputum purulen mungkin menjadi satu-satunya tanda pneumoni pada pasien ini. sangat sulit sulit untuk mendeteksi perubahn yang halus pada kondisi mereka karena telang mengalami gangguan paru yang serius.
EVALUASI DIAGNOSTIK
Diagnosis pneumonia ditegakkan dengan mengumpulkan riwayat kesehatan (teritama infeksi saluran pernafasan yang baru saja dialami), pemeriksaan fisik, rontgen dada, kultur darah (invasi aliran darah, yang disebut bakteremia, sering terjadi) dan pemeriksaan sputum.
· Untuk mendapatkan sempel sputum yang adekuat pasien membilas mulut dengan air untuk meminimalkan kontaminasi oleh flora normal mulut. kemudian pasien diminta untuk napas dalam beberapa kali kemudian dengan dalam membatukkan sputum yang keluar kedalam wadah seteril.
Sputum dapat juga dikumpulkan melalui aspirasi trastrakeal atau bronkoskopi serat optik pada pasien yang tidak dapat mengeluarkan sputm atau mereka yang tidak sadar, mempunyai mekanisme imun abnormal, atau mengalami pneumonia setelah minum antibiotik atau ketika dirawat di rumah sakit.
PENETALAKSANAAN MEDIS
Konsolidasi atau area yang menebal dalm paru-paru yang akan tampak pada rontgen dada mencangkup are berbecak atau keseluruhan lobus (pneumonia lobaris). pada pemeriksaan fisik, temuan akan beragam tergantung pada keparahan pneumonia. temuan tersebut dapat mencangkup bunyi napas bronkovaskuler atau bronkial, krekles, peningkatan fremitus, egofoni positif, dan pekak pada perkusi.
pengobatan pneumonia termasuk pemberian antibiotik yang sesuai seperti yang dtetapkan oleh ahli pewarnaan Gram. penisilin G merupakan antibiotik pilihan untuk infeksi oleh S. pneumonia. medikasi efektif lainnya termasuk eritromisin, klindamisin, sefalosparin generasi kedua dan ketiga., penisilin lainnya, dan trimetriprim sulfameroksazol (bactrium).pikal lainnya mempunyai penyebab virus
pneumonia mikoplasma memberikan respon terhadap eritromisin, tetrasiklin, dan derivat tertrrasiklin (doksisiklin). pneumonia atipikal lainnya mempunyai penyebab virus dan kebanyakan tidak memberikan respons terhadap anti mikroba. pneumocytis carinii meberikan respon terhadap pentamidin dan trimetoprim-sulfametok-sazol (bactrim, TPM-SMZ). inhalansi lembab, hangat sangat membantu dalam menghilangkan iritaso bronkhial. asuhan keperawatan dan pengobatan (dengan pengecualian terapi anti mikrobial) sama dengan yang diberikan untuk pasien yang mengalami pneumonia akibat bakteri.
pasien menjalani tirah baring dampai infeksi menunjukkan tanda-tanda penyembuhan. jika di rawat di rumah sakit, pasien diamati secara cermat dan secara kontinu sampai kondisi klinis membaik.
PERTIMBANGAN GERONTOLOGI
pneumonia pada lansia dapat terjadi secara sepontan atau sebagai komplikasi proses penyakit kronis. infeksi paru pada lansia sering sulit untuk di obati dan berkaitan dengan angka kematian yang lebih tiggi dibandingkan infeksi yang sama yang terjadi pada pasien yang berusia lebih muda. awitan pneumonia mungkin ditandai dengan kemunduran kesehatans ecara umum, kelemahan, gejala-gejala abdomen, anoreksia, konfusi, takikardi, dan takipnea. diagnosa pneumonia mungkin tidak terdeteksi karena gejala-gejala klasik batuk, nyeri dada, pembentukan seputum, dan demanm sering tidak tampak pada pasien lansia.
Terdapatnya beberaa tanda mungkin akan menyesatkan. Bunyi napas abnormal, misalnya bisa karena mikroatelektasis yang terjadi bersamaan penuaan. karena gagal jantung kongestif (CHF) sering tampak pada lansia, mungkin diperlukan pemeriksaan rontgen dada untuk membandingkan CHF dengan pneumonia sebagai penyebab tanda-tanda dan gejala klinis.
Pengobatan suportif termsuk meningkatkan masukan cairan (dengan kewaspadaan dan pengkajian sering dalam mengamati resiko kelebihan cairan pada lansia) terapi oksigen, dan bantuan dengan napas dalam batuk, pembentukan sputum, dan perubahan posisi yang kesemuanya penting dalam asuhan keperawatan apsien lansia dengan pneumonia.
Untuk mengurangi atau mencegah komplikasi serius dari pneumonia pada lansia, vaksinasi terhadap infeksi pneumokokus dan virus influensa telah dianjurkan untuk individu yang berusia lebih dari 50 tahun, penghuni rumah perawatan, pasien-pasien yang lemah, dan mereka dengan penyakit kardiovaskular. vaksin memberikan pencegahan terhadpa pneumonia yang disebabkan oleh organisme spesifik.
Vaksin pneumokokus dianjurkan untuk kelompok risiko tinggi, juga untuk pasien yang telah menjalani splenektomi dan mereka yang menderita penyakit sel sabit atau pecandu alkohol.
Laporan Pendahuluan Kanker Payudara
LAPORAN PENDAHULUAN
KANKER PAYUDARA (CA MAMAE)
A. Pengertian
Suatu keadaan di mana sel kehilangan kemampuannya dalam mengendalikan kecepatan pembelahan dan pertumbuhannya. Normalnya, sel yang mati sama dengan jumlah sel yang tumbuh. Apabila sel tersebut sudah mengalami malignansi/ keganasan atau bersifat kanker maka sel tersebut terus menerus membelah tanpa memperhatikan kebutuhan, sehingga membentuk tumor atau berkembang “tumbuh baru” tetapi tidak semua yang tumbuh baru itu bersifat karsinogen. (Adjie, 2010)
Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus tumbuh berlipar ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk benjol di payudara. Jika benjolan kanker itu tidak di buang atau terkontrol, sel-sel kanker bisa menyebar (metastase) pada bagian tubuh lain dan nantinya dapat mengakibatkan kematian. Metastase bisa terjadi pada kelenjar getah bening (limfe) ketiak ataupun di atas tulang belikat. Selain itu sel-sel kanker bisa bersarang di tulang, paru-paru, kulit. Akibat penyakit ini, penderita bisa merasakan nyeri, fungsi organ-organ yang terserang menurun hingga bisa mengakibatkan kematian. (Agustiani, 2012)
Kanker payudara adalah tumor ganas pada salah satu kelenjar kulit di sebelah luar rongga dada. Kelenjar limfe ketiak membentuk sistem pengaliran limfe bagi kedua kuadran atas tubuh, selain payudara termasuk disini juga kedua lengan. Jumlah kelenjar limfe ini bervariasi, meluas dari sisi luar atas kelenjar payudara sampai di bawah dan belakang tulang selangka. Di sini berhubungan dengan kelenjar limfe leher terbawah selain berhubungan dengan sistem pembuluh balik, jalan bagi metastasis hematogen berjarak. Apabila pengaliran keluar limfe tertutup oleh diseksi kelenjar limfe, pertumbuhan masuk dari kanker, penyinaran atau kombinasi sebab-sebab ini, terjadi edema ( sembab, pembengkakan) limfe yang ditakuti dari lengan dan tangan. Pada penyebaran kanker secara limfogen, kelenjar satu persatu terkena. (Mudiarsa, 2012)
B. Anatomi dan Fisiologi
Anatomi dan fisiologi payudara menurut mudiarsa (2012)
1. Anatomi payudara
Secara fisiologi anatomi payudara terdiri dari alveolusi, duktus laktiferus, sinus laktiferus, ampulla, pori pailla, dan tepi alveolan. Pengaliran limfa dari payudara kurang lebih 75% ke aksila. Sebagian lagi ke kelenjar parasternal terutama dari bagian yang sentral dan medial dan ada pula pengaliran yang ke kelenjar interpektoralis.
2. Fisiologi payudara
Payudara mengalami tiga perubahan yang dipengaruhi hormon. Perubahan pertama ialah mulai dari masa hidup anak melalui masa pubertas, masa fertilitas, sampai ke klimakterium dan menopause. Sejak pubertas pengaruh ekstrogen dan progesteron yang diproduksi ovarium dan juga hormon hipofise, telah menyebabkan duktus berkembang dan timbulnya asinus.
a. Perubahan kedua adalah perubahan sesuai dengan daur menstruasi. Sekitar hari kedelapan menstruasi payudara jadi lebih besar dan pada beberapa hari sebelum menstruasi berikutnya terjadi pembesaran maksimal. Kadang-kadang timbul benjolan yang nyeri dan tidak rata. Selama beberapa hari menjelang menstruasi payudara menjadi tegang dan nyeri sehingga pemeriksaan fisik, terutama palpasi, tidak mungkin dilakukan. Pada waktu itu pemeriksaan foto mammogram tidak berguna karena kontras kelenjar terlalu besar. Begitu menstruasi mulai, semuanya berkurang.
b. Perubahan ketiga terjadi waktu hamil dan menyusui. Pada kehamilan payudara menjadi besar karena epitel duktus lobul dan duktus alveolus berproliferasi, dan tumbuh duktus baru.
c. Sekresi hormon prolaktin dari hipofisis anterior memicu laktasi. Air susu diproduksi oleh sel-sel alveolus, mengisi asinus, kemudian dikeluarkan melalui duktus ke puting susu.
C. Insiden
Setiap tahun di diagnosis 183.000 kasus baru kanker payudara di amerika serikat. Bukan hanaya kanker payudara saja lebih banyak mengenai wanita dari pada pria. Pada usia 85 satu dari sembilan wanita akan mengalami kanker payudara. Kemampuan pasien yang di diagnosis kanker payudara bertahan hidup masih mencapai 5 tahun sejak awal di diagnosis kanker payudara sekitar 93 %. Jika kanker telah menyebar secara regional saat di diagnosis kemampuan bertahan hidup selama 5 tahun menjadi 72 % dan untuk seseorang dengan metastasis yang luas saat di diagnosis kemampuan bertahan hidupnya hanya 18 %. (Adjie, 2010)
D. Etiologi
Penyebab Ca Mammae menurut Adjie (2010) :
1. Genetika
- Adanya kecendrungan pada keluarga tertentulebih banyak kanker payudara daripada keluarga yang lain.
- Pada kembar monozygote, terdapat kanker yang sama
- Terdapat kesamaan lateralisasi kanker buah dada pada keluarga dekat dari penderita kanker payudara
- Seorang dengan klinifelter akan mendapat kemungkinan 66 kali dari pria normal atau angka kejadiannya 2%.
2. Hormon
- Kanker payudara umumnya pada wanita, dan pada laki-laki kemungkinannya sangat kecil.
- Insiden akan lebih tinggi pada wanita diatas 35 tahun.
- Saat ini pengobatan dangan menggunakan hormon hasilnya sangat memuaskan
3. Virogen
Baru dilakukan percobaan pada manusia dan belum terbukti pada manusia
4. Makanan
Terutama makanan yang banyak mengandung lemak
5. Radiasi daerah dada
Sudah lama diketahui, radiasi dapat menyebabkan mutagen.
E. Faktor-faktor resiko
Faktor resiko untuk kanker payudara menurut Agustiani (2012) meliputi:
- Usia di atas 40 tahun.
- Ada riwayat kanker payudara pada individu atau keluarga.
- Menstruasi pada usia yang muda/ usia dini.
- Manopause pada usia lanjut.
- Tidak mempunyai anak atau mempunyai anak pertama pada usia lanjut.
- Penggunaan esterogen eksogen dengan jangka panjang.
- Riwayat penyakit fibrokistik.
- Kanker endometrial, ovarium atau kanker kolon.
Akan tetapi hanya 25 % wanita yang mengalami kanker payudara mempunyai beberapa faktor resiko ini. Karena itu salah satu faktor resiko yang paling penting adalah sangat sederhana yaitu wanita. Beberapa penelitian telah menunjukkan hubungan diet di antara masukan tinggi lemak, kegemukan dan terjadinya kanker payudara, tetapi hubungan ini belum di ciptakan secara pasti.
Faktor Predisposisi ca mammae menurut Mudiarsa (2012)
1. Tinggi melebihi 170cm
Menjadi tinggi adalah idaman setiap wanita. Namun penelitian yang masih berlangsung mengungkapkan suatu hasil yang mungkin kurang begitu menyenangkan. Wanita yang kurang begitu menyenangkan. Wanita yang tingginya melebihi 170cm ternyata memiliki resiko terkena kanker payudara dan kanker usus besar yang lebih besar. Meskipun belum jelas sepenuhnya mekanismenya, diduga pertumbuhan yang lebih cepat saat usia anak dan remaja membuat adanya perubahanstruktur genetik (DNA) pada sel tubuh yang diantaranya dapat berubah ke arah sel yang ganas.
2. Masa Reproduksi yang relatif panjang
Masa reproduksi yang ditandai dengan datang bulan atau hamil yang lebih panjang, meningkatkan resiko memperoleh kanker payudara. Masa reproduksi ini relatif memanjang jika:
a. Wanita memperoleh haid pertama (menarche) padfa usia muda (kurang dari 10 tahun). Menarche umumnya diperoleh pada usia 13 tahun.
b. Wanita yang terlambat memasuki menopause (lebih dari usia 60 tahun). Umumnya pada usia 55 tahun, perempuan akan mengalami henti haid atau menopause. Pada beberapa orang, menopause bisa datang pada usia yang lebih dari itu bahkan ada yang lebih dari 60 tahun.
c. Wanita yang belum mempunyai anak kandung .teorinya, kenapa kaum wanita yang mengalami hal di atas beresiko lebih besar memperileh kanker payudara adalah karena terpapar dengan hormon estrogen relatuf lebih lama dibandingkan dengan wanita-wanita lain.
3. Kehamilan dan menyusui Wanita yang mel;ahirkan pada usia tua (>35 tahun) juga memiliki resiko lebih tinggi terkena kanker payudara. Begitu juga dengan mereka yang melahirkan lebih dari dua kali. Namun resiko kanker payudara bisa ditekan jika wanita tersebut menyusui sedikitnya selama satu tahun untuk setiap kelahiran anak. Hal ini berkaitan erat dengan parubahan sel kelenjar payudra saat menyusui.
4. Wanita yang gemuk Bagi wanita yang kurang bisa menjaga berat badannya, dikatakan memiliki resiko terkena kanker payudara lebih tinggi. Dengan menurunkan berat badan, biasanya level estrogen tubuh akan turun pula. Estrogen yang tinggi, terutama pada usia menopause dapat menyebabkan sel pada payudara berubah menjadi sel ganas. Bagi orang indonesia, dikatakan kelebihan berat badan jika IMT>23kg/m2 dan menjadi obesitas jika IMT>25kg/m2. Indek masa Tubuh atau Body Mass Index dihitung berdasarkan berat badan dalam kilogram dibagi tinggi dalam meter pangkat dua. Selengkapnya mengenai hal ini bisa dibaca pada buku Seri Kesehatan Keluarga dari Elexmedia Komputindo dengan judul Penyakit Degeneratif.
5. Alkohol Konsumsi alkohol lebih dari satu kaleng bir atau satu gelas anggur (200-300 cc) bisa meningkatkan resiko kanker usu besar. Penyebabnya adalah kerena alkohol bisa meningkatkan estrogen tubuh.
6. Preparat hormon estrogen Penggunaan preparat yang mengandung hormon estrogen meningkatkan resiko mengidap kanker payudara. Untuk itu evaluasi perlu dilakukan bagi mereka yang telah menggunakan preparat ini selama lebih dari 5 tahun.
7. Faktor turunana / genetik Adanya riwayat, seperti cerita di awal tulisan ini, bahwa salah satu payudara telah terkena kanker payudara pada sisi yang lain. Dengan adanya riwayat terkena kanker kanker payudara pada keluarga atau bahkan diri sendiri, resiko terjadi kanker pauyudarakembali menjadi lebih tinggi. Hal yang sama berlaku juga untuk wanita yang pernah menderita tumor jinak payudara yang merupakan jenis hiperplasi.
8. Bahan kimia Beberapa penelitian telah menyebutkan pemaparan bahan kimia yang menyerupai estrogen (yang terdapat di dalam pestisida dan produk industri lainnya) mungkin meningkatkan risiko terjadinya kanker payudara.
F. Klasifikasi
Klasifikasi Ca Mamma menurut Adjie (2010)
1. Karsinoma in situ
Karsinoma in situ artinya adalah kanker yang masih berada pada tempatnya, merupakan kanker dini yang belum menyebar atau menyusup keluar dari tempat asalnya.
2. Karsinoma duktal
Karsinoma duktal berasal dari sel-sel yang melapisi saluran yang menuju ke puting susu. Sekitar 90% kanker payudara merupakan karsinoma duktal. Kanker ini bisa terjadi sebelum maupun sesudah masa menopause. Kadang kanker ini dapat diraba dan pada pemeriksaan mammogram, kanker ini tampak sebagai bintik-bintik kecil dari endapan kalsium (mikrokalsifikasi). Kanker ini biasanya terbatas pada daerah tertentu di payudara dan bisa diangkat secara keseluruhan melalui pembedahan. Sekitar 25-35% penderita karsinoma duktal akan menderita kanker invasif (biasanya pada payudara yang sama).
3. Karsinoma lobuler
Karsinoma lobuler mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, biasanya terjadi setelah menopause. Kanker ini tidak dapat diraba dan tidak terlihat pada mammogram, tetapi biasanya ditemukan secara tidak sengaja pada mammografi yang dilakukan untuk keperluan lain. Sekitar 25-30% penderita karsinoma lobuler pada akhirnya akan menderita kanker invasif (pada payudara yang sama atau payudara lainnya atau pada kedua payudara).
4. Kanker invasif
Kanker invasif adalah kanker yang telah menyebar dan merusak jaringan lainnya, bisa terlokalisir (terbatas pada payudara) maupun metastatik (menyebar ke bagian tubuh lainnya). Sekitar 80% kanker payudara invasif adalah kanker duktal dan 10% adalah kanker lobuler.
5. Karsinoma meduler
Kanker ini berasal dari kelenjar susu.
6. Karsinoma tubuler Kanker ini berasal dari kelenjar susu
Staging (Penentuan Stadium Kanker) menurut Agustiani (2010)
Penentuan stadium kanker penting sebagai panduan pengobatan, follow-up dan menentukan prognosis. Staging kanker payudara (American Joint Committee on Cancer):
- Stadium 0 : Kanker in situ dimana sel-sel kanker berada pada tempatnya di dalam jaringan payudara yang normal
- Stadium I : Tumor dengan garis tengah kurang dari 2 cm dan belum menyebar keluar payudara
- Stadium IIA : Tumor dengan garis tengah 2-5 cm dan belum menyebar ke kelenjar getah bening ketiak atau tumor dengan garis tengah kurang dari 2 cm tetapi sudah menyebar ke kelenjar getah bening ketiak
- Stadium IIB : Tumor dengan garis tengah lebih besar dari 5 cm dan belum menyebar ke kelenjar getah bening ketiak atau tumor dengan garis tengah 2-5 cm tetapi sudah menyebar ke kelenjar getah bening ketiak
- Stadium IIIA : Tumor dengan garis tengah kurang dari 5 cm dan sudah menyebar ke kelenjar getah bening ketiak disertai perlengketan satu sama lain atau perlengketah ke struktur lainnya; atau tumor dengan garis tengah lebih dari 5 cm dan sudah menyebar ke kelenjar getah bening ketiak
- Stadium IIIB : Tumor telah menyusup keluar payudara, yaitu ke dalam kulit payudara atau ke dinding dada atau telah menyebar ke kelenjar getah bening di dalam dinding dada dan tulang dada
- Stadium IV : Tumor telah menyebar keluar daerah payudara dan dinding dada, misalnya ke hati, tulang atau paru-paru. Selain stadium kanker, terdapat faktor lain yang mempengaruhi jenis pengobatan dan prognosis:
· Jenis sel kanker
· Gambaran kanker
· Respon kanker terhadap hormon
Kanker yang memiliki reseptor estrogen tumbuh secara lebih lambat dan lebih sering ditemukan pada wanita pasca menopause.
· Ada atau tidaknya gen penyebab kanker payudara.
G. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala ca mammae menurut Agustiani (2012)
Fase awal kanker payudara asimptomatik (tanpa ada tanda dan gejala). Tanda awal yang paling umum terjadi adalah adanya benjolan atau penebalan pada payudara. Kebanyakan 90 % ditemukan oleh wanita itu sendiri, akan tetapi di temukan secra kebetulan, tidak dengan menggunakan pemeriksaan payudara sendiri (sarari), karena itu yayasan kanker menekankan pentingnya melakukan sarari.
Tanda dan gejal lanjut dari kanker payudara meliputi kulit sekung (lesung), retraksi atau deviasi putting susu, dan nyeri, nyeri tekan atau rabas khususnya berdarah, dari putting. Kulit Peau d’ orange, kulit tebal dengan pori-pori yang menonjol sama dengan kulit jeruk, dan atau ulserasi pada payudara keduanya merupakan tanda lanjut dari penyakit.
Tanda dan gejala metastasis yang luas meliputi nyeri pada daerah bahu, pinggang, punggung bagian bawah, atau pelvis, batuk menetap, anoreksi atau berat badan yang turun, gangguan pencernaan, pusing, penglihatan yang kabur dan sakit kepala.
Menurut Agustiani (2012) Tanda dan gejala ca mamae antara lain :
- Ada benjolan yang keras di payudara
- Bentuk puting berubah ( bisa masuk kedalam, atau terasa sakit terus-menerus), mengeluarkan cairan / darah
- Ada perubahan pada kulit payudara diantaranya berkerut, iritasi, seperti kulit jeruk
- Adanya benjolan-benjolan kecil
- Ada luka dipayudara yang sulit sembuh
- Payudara terasa panas, memerah dan bengkak
- Terasa sakit / nyeri (bisa juga ini bukan sakit karena kanker, tapi tetap harus diwaspadai)
- Terasa sangat gatal didaerah sekitar puting • Benjolan yang keras itu tidak bergerak (terfiksasi). dan biasanya pada awal-awalnya tidak terasa sakit
- Apabila benjolan itu kanker, awalnya biasanya hanya pada 1 payudara
H. Patofisiologi
Kanker payudara bukan satu-satunya penyakit , tapi banyak tergantung pada jaringan payudara yang terkena. Ketergantungan estrogen pada usia permulaanya. Penyakit payudara ganas sebelum menapouse berbeda dengan penyakit payudara ganas sesudah menpaouse. Respon dan prognosis penanganannya berbeda dengan berbagai penyakit berbahaya lainnya. Beberapa tumor yang dikenal sebagai “estrogen dependent” mengandung reseptor yang mengikat estradiol, suatu tipe ekstrogen, dan pertumbuhannya dirangsang oleh estrogen. Ada beberapa tumor yang dikenal sebagai estrogen dependent. Mengandung reseptor yang mengikat estradiol dan pertumbuhannya dirangsang oleh estrogen. Reseptor ini tidak muncul pada jaringan payudara normal atrau dalam jaringan dysplasia. Reseptor ini tidak manual pada jarngan payudara normal atau dalam jaringan dengan dysplasia. Kehadiran tumor “Estrogen Receptor Assay (ERA)” pada jaringan lebih tinggi dari kanker-kanker payudara hormone dependent. Kanker-kanker ini memberikan respon terhadap hormone treatment (endocrine chemotherapy, oophorectomy, atau adrenalectomy). (Mudiarsa, 2012)
I. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang untuk diagnosa medis ca mammae menurut Mudiarsa (2012) antara lain :
1. SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri)
Jika SADARI dilakukan secara rutin, seorang wanita akan dapat menemukan benjolan pada stadium dini. Sebaiknya SADARI dilakukan pada waktu yang sama setiap bulan. Bagi wanita yang masih mengalami menstruasi, waktu yang paling tepat untuk melakukan SADARI adalah 7-10 hari sesudah hari 1 menstruasi. Bagi wanita pasca menopause, SADARI bisa dilakukan kapan saja, tetapi secara rutin dilakuka setiap bulan (misalnya setiap awal bulan).
2. Mammografi.
Pada mammografi digunakan sinar X dosis rendah untuk menemukan daerah yang abnormal pada payudara. Para ahli menganjurkan kepada setiap wanita yang berusia diatas 40 tahun untuk melakukan mammogram secara rutin setiap 1-2 tahun dan pada usia 50 tahun keatas mammogarm dilakukan sekali/tahun.
3. USG payudara
USG digunakan untuk membedakan kista (kantung berisi cairan) dengan benjolan padat.
4. Termografi. Pada termografi digunakan suhu untuk menemukan kelainan pada payudara
J. Pengobatan Kanker Payudara Primer
Pengobatan kanker payudara di dasarkan atas tahap penyakit dan beberpa faktor lain. Wanita saat ini lebih banyak mempunyai pilihan dalam pengobatan kanker payudara dari pada sebelumnya. Pengobatan kanker payudara biasanya meliputi kombinasi pembedahan, kemoterapi dan terapi radiasi. (Agustiani, 2012)
Tahap awal dari kanker payudara seringkali dapat sembuhn total dengan hanya di lakukan pembedahan saja.
Tahap radiasi dapat di gunakan sebagai pengobatan primer untuk kanker payudara tahap 1 dan 2. Efek samping yang segera muncul dari pengobatan ini adalah reaksi kulit. kemoterapi yang menggunakan agen antineoplasma dan obat hormonal memegang peranan penting dalam pengobatan kanker.
Penatalaksanaan Ca Mammae menurut Adjie (2010) :
1. Operasi Breast-Conserving Therapy (BCT): Operasi pengangkatan kanker tanpa pengangkatan jaringan payudara yang sehat yang dilanjutkan tindakan radioterapi.
2. Lumpektomi : Operasi pengangkatan kanker disertai sedikit jaringan sehat sekitarnya dan KGB sekitar aksila yang terkena.
3. Mastektomi segmental : Operasi pengangkatan kanker disertai daerah sehat sekitarnya lebih luas dari lumpektomi terutama jaringan dibawah tumor dan KGB aksila yang terkena
4. Mastektomi: Operasi pengangkatan payudara
5. Total mastektomi: Operasi pengangkatan seluruh payudara dan sebagian KGB aksila
6. Radikal mastektomi modifikasi: Operasi pengangkatan seluruh payudara sebagian besar KGB aksila dan sebagian otot dada
7. Radikal mastektomi: Operasi pengangkatan seluruh payudara, seluruh KGB aksila dan seluruh otot dada (sudah tidak lazim dipakai)
8. Diseksi KGB aksila
9. Rekonsruksi payudara
Radioterapi menggunakan energi sinar untuk dapat mematikan sel kanker, baik secara langsung (radiasi eksternal) maupun penempatan material radioaktif secara langsung pada jaringan payudara (implan radiasi). Radioterapi kadang digunakan pasca operasi khususnya pasca BCT untuk mematikan sisa – sisa sel kanker yang tertinggal juga digunakan preoperasi secara tunggal atau kombinasi bersama kemoterapi untuk mengurangi massa tumor.
10. Kemoterapi
Kemoterapi menggunakan kombinasi obat untuk membunuh sel kanker, baik secara injeksi maupun oral.
11. Terapi hormonal
Terapi hormon digunakan pada sel kanker yang pertumbuhannya dipengaruhi oleh adanya hormon tertentu, termasuk operasi pengangkatan ovarium yang memproduksi hormon pada wanita.
12. Terapi biologi
Bertujuan meningkatkan pertahanan tubuh alami untuk dapat melawan sel-sel kanker sebagai contoh (trastuzumab) suatu antibodi monoklonal dengan target sel kanker payudara dengan menghambat reseptor HER-2 suatu reseptor faktor pertumbuhan epidermal (Epidermal Growth Factor Receptor).
Penanganannya ca mammae menurut Agustiani (2012) :
1. Berolah Raga Secara Teratur.
Penelitian menunjukkan bahwa sejalan dengan meningkatnya aktivitas, maka resiko kanker payudara akan berkurang. Berolah raga akan menurunkan kadar estrogen yang diproduksi tubuh sehingga mengurangi resiko kanker payudara.
2. Kurangi Lemak.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa diet rendah lemak membantu mencegah kanker payudara. Namun penelitian terakhir menyatakan bahwa yang lebih penting adalah jenis lemaknya dan bukan jumlah lemak yang dikonsumsi. Jenis lemak yang memicu kanker payudara adalah lemak jenuh dalam daging, mentega, makanan yang mengandung susu full-cream (whole-milk dairy foods) dan asam lemak dalam margarin, yang bisa meningkatkan kadar estrogen dalam darah. Sedangkan jenis lemak yang membantu mencegah kanker payudara adalah lemak tak-jenuh dalam minyak zaitun dan asam lemak Omega-3 dalam ikan Salmon dan ikan air dingin lainnya.
3. Jangan Memasak Daging Terlalu Matang.
Cara Anda memasak daging akan mempengaruhi resiko kanker payudara. Daging-daging yang dimasak/dipanggang menghasilkan senyawa karsinogenik (amino heterosiklik). Semakin lama dimasak, semakin banyak senyawa ini terbentuk. Amino heterosiklik paling banyak terdapat dalam daging bakar yang lapisan luarnya (kulitnya) gosong dan hitam.
4. Konsumsi Buah dan Sayuran. Semakin banyak buah dan sayuran yang dimakan, semakin berkurang resiko untuk semua kanker, termasuk kanker payudara. Makanan dari tumbuh-tumbuhan mengandung anti-oksidan yang tinggi, di antaranya vitamin A, C, E dan mineral selenium, yang dapat mencegah kerusakan sel yang bisa menjadi penyebab terjadinya kanker. National Cancer Institute (NCI) merekomendasikan untuk mengkonsumsi buah dan sayuran paling tidak 5 (lima) kali dalam sehari. Tapi harus dihindari buah dan sayuran yang mengandung banyak lemak, seperti kentang goreng atau pai dengan krim pisang.
5. Konsumsi Suplemen Anti-Oksidan.
Suplemen tidak dapat menggantikan buah dan sayuran, tetapi suatu formula anti-oksidan bisa merupakan tambahan makanan yang dapat mencegah kanker payudara.
6. Konsumsi Makanan Berserat.
Selain berfungsi sebagai anti-oksidan, buah dan sayuran juga mengandung banyak serat. Makanan berserat akan mengikat estrogen dalam saluran pencernaan, sehingga kadarnya dalam darah akan berkurang.
7. Konsumsi Makanan Yang Mengandung Kedelai / Protein.
Makanan-makanan yang berasal dari kedelai banyak mengandung estrogen tumbuhan (fito-estrogen). Seperti halnya 'Tamoksifen', senyawa ini mirip dengan estrogen tubuh, tapi lebih lemah. Fito-estrogen terikat pada reseptor sel yang sama dengan estrogen tubuh, mengikatnya keluar dari sel payudara sehingga mengurangi efek pemicu kanker payudara. Selain menghalangi estrogen tubuh untuk mencapai sel reseptor, makanan berkedelai juga mempercepat pengeluaran estrogen dari tubuh.
8. Konsumsi Kacang-Kacangan.
Selain dalam kedelai, fito-estrogen juga terdapat dalam jenis kacang-kacangan lainnya.
9. Hindari Alkohol. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa semakin banyak mengkonsumsi alkohol, maka resiko kanker payudara semakin bertambah karena alkohol meningkatkan kadar estrogen dalam darah.
10. Kontrol Berat Badan Anda.
Kenaikan berat badan setiap pon setelah usia 18 tahun akan menambah resiko kanker payudara. Ini disebabkan karena sejalan dengan bertambahnya lemak tubuh, maka kadar estrogen sebagai hormon pemicu kanker payudara dalam darahpun akan meningkat.
11. Hindari Xeno-Estrogens.
Xeno-estrogen maksudnya estrogen yang berasal dari luar tubuh. Perempuan mengkonsumsi estrogen dari luar tubuh terutama yang berasal dari residu hormon estrogenik yang terdapat dalam daging dan residu pesitisida estrogenik. Diduga xeno-estrogen bisa meningkatkan kadar estrogen darah sehingga menambah resiko kanker payudara. Cara terbaik untuk menghindari xeno-estrogen adalah dengan mengurangi konsumsi daging, unggas (ayam-itik) dan produk susu (whole-milk dairy product).
12. Berjemur di Bawah Sinar Matahari. Meningkatnya angka kejadian kanker kulit (Melanoma maligna) menjadikan takut akan sinar matahari. Tetapi sedikit sinar matahari dapat membantu mencegah kanker payudara, karena pada saat matahari mengenai kulit, tubuh membuat vitamin D. Vitamin D akan membantu jaringan payudara menyerap kalsium sehingga mengurangi resiko kanker payudara. Agar bisa memperoleh sinar matahari selama 20 menit/hari, dianjurkan untuk berjalan di bawah sinar matahari pada siang hari atau sore hari. Tetapi bila Anda ingin mendapatkan kalsium atau vitamin D tidak dari sinar matahari, Anda dapat mencoba mengkonsumsi makanan suplemen.
13. Jangan Merokok.
14. Berikan ASI Rutin Kepada Anak Anda. Untuk alasan yang masih belum jelas, menyusui berhubungan dengan berkurangnya resiko kanker payudara sebelum masa menopause.
K. Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala, hasil pemeriksaan fisik dan hasil pemeriksaan menurut Mudiarsa (2012) sebagai berikut:
1. Biopsi (pengambilan contoh jaringan payudara untuk diperiksa dengan mikroskop)
2. Rontgen dada
3. Pemeriksaan darah untuk menilai fungsi hati dan penyebaran kanker
4. Skening tulang (dilakukan jika tumornya besar atau ditemukan pembesaran kelenjar getah bening)
5. Mammografi
6. USG payudara
L. Komplikasi
Komplikasi dari kanker payudara adalah metastase ke tulang, jika hal itu terjadi di tulang belakang maka akan terjadi kompresi medula spinalis. (Mudiarsa, 2012)
Langganan:
Komentar (Atom)



