Selasa, 14 April 2015

Sistem Reproduksi Wanita

SISTEM  REPRODUKSI WANITA.

Reproduksi adalah kemampuan makhluk hidup untuk menghasilkan keturunan demi menjaga kelangsungan hidupnya. untuk mampu melakukan proses reproduksi diperlukan adanya alat-alat reproduksi. Maka dari itu sangat penting untuk memahami anatomi dari organ-organ reproduksi.

I.     ORGAN REPRODUKSI WANITA.

Organ reproduksi perempuan terdiri atas organ genetalia eksterna dan organ genetalia interna. Organ genetalia eksterna terdiri atas mons veneris, labia mayora (bibir besar), labia minora (bibir kecil), klitoris, vestibulum, hymen (selaput dara),perinium dan vulva. Sedangkan organ genetalia interna terdiri atas vagina, uterus, ovarium dan tuba fallopii.
Organ Genetalia Eksterna.
1.      Mons Veneris.
Mons veneris atau mons pubis adalah bagian yang menonjol di atas simfisis dan pada perempuan setelah pubertas ditutup oleh rambut kemaluan. Mons pubis merupakan bagian menonjol yang banyak berisi jaringan lemak subkutan yang terletak dipermukaan anterior simpisis pubis. Mons pubis banyak mengandung kelenjar sebasea (minyak). Rambut pada mons pubis berfungsi untuk melindungi alat genetalia dari masuknya kotoran.
2.      Labia Mayora (bibir besar).
Labia mayora adalah dua lipatan kulit panjang melengkung yang menutupi lemak dan jaringan ikat yang menyatu dengan mons pubis. Keduanya memanjang dari mons pubis ke arah bawah mengelilingi labia minora, berakhir di perinium pada garis tengah. Labia mayora memiliki panjang 7-8 cm, lebar 2-3 cm, dan tebal 1-1,5 cm. Labia mayora melindungi labia minora, meatus urinarius dan introitus vagina (lubang vagina). Labia mayora analog dengan skrotum pada pria. Pada wanita yang belum pernah melahirkan, kedua labia mayora akan terletak berdekatan digaris tengah menutupi struktur-struktur dibawahnya, setelah perempuan melahirkan labia mayora akan sedikit terpisah bahkan introitus vagina terbuka. Permukaan arah lateral kulit labia yang tebal biasanya memiliki pigmen yang lebih gelap dari pada jaringan sekitarnya dan ditutupi rambut (sama dengan rambut pada mons pubis) dan semakin menipis ke arah luar perinium. Permukaan medial (arah dalam) labia mayora licin, tebal dan tidak ditumbuhi rambut. Bagian ini mengandung suplai kelenjar sebasea dan banyak kelenjar keringat serta banyak mengandung pembuluh darah.
3.      Labia Minora (bibir kecil).
Labia minora terletak disebelah dalam labia mayora dan merupakan suatu lipatan tipis. Ke depan kedua bibir kecil bertemu yang diatas klitoris membentuk preputium klitoridis dan yang di bawah klitoris membentuk frenulum klitoridis. Bagian belakang kedua lipatan setelah mengelilingi orificium vagina bersatu disebut fourchette dan membentuk fossa navikular. Fossa navikulare pada perempuan yang belum melahirkan tampak utuh,cekung sedangkan pada perempuan yang pernah melahirkan kelihatan tebal dan tidak rata. Kulit yang meliputi bibir kecil mengandung banyak glandula sebasea (kelenjar-kelenjar lemak) dan juga ujung-ujung saraf yang menyebabkan bibir kecil sangat sensitif. Jaringan ikat mengandung banyak pembuluh darah dan beberapa otot polos yang menyebabkan bibir kecil ini dapat mengambang. Ruang antara labia minora disebut vestibulum.
4.      Klitoris.
Klitoris adalah organ pendek berbentuk silinder dan erektil yang terletak dibawah arkus pubis. Klitoris banyaj mengandung urat-urat saraf sensoris dan pembuluh-pembuluh darah. Jumlah pembuluh darah dan persyarafan yang banyak membuat klitoris sangat sensitif terhadap suhu dan sentuhan. Fungsi utama klitoris adalah menstimulasi dan meningkatkan keregangan seksual. Ujung badan klitoris dinamai Glans dan lebih sensitif dari pada badannya. Panjang klitoris jarang melebihi 2 cm dan bagian yang terlihat adalah sekitar 6x6 mm atau kurang pada saat tidak terangsang dan akan membesar jika terangsang. Klitoris analog dengan penis laki-laki.
5.      Vestibulum.
Vestibulum berbentuk lonjong dengan ukuran panjang dari depan ke belakang dan dibatasi di depanoleh klitoris, kanan dan kiri oleh kedua bibir kecil dan dibelakang oleh perinium (fourchette). Vestibulum merupakan muara dari enam buah lubang yaitu vagina, uretra, 2 muara kelenjar bartolini yang terletak disamping dan agak kebelakang dari introitus vagina dan 2 muara kelenjar skene (duktus parauretral) yang analog dengan kelenjar prostat pada laki-laki.
6.      Hymen (selaput dara).
Hymen berupa lapisan yang tipis dan menutupi sebagian besar introitus vagina. Hymen bersifat rapuh dan mudah robek. Hymen ini berlubang sehingga menjadi saluran dari lendir yang dikeluarkan uterus dan darah saat menstruasi. Bila hymen tertutup seluruhnya disebut hymen imperforata dan menimbulkan gejala klinik setelah mendapat menstruasi.
7.      Perinium.
Perinium adalah daerah muskular yang ditutupi kulit antara introitusvagina dan anus. Panjang perinium kurang lebih 4 cm. Terdapat otot-otot penting pada perinium yaitu sfingter anus eksterna dan interna serta dipersyarafi oleh saraf pudendus dan cabang-cabangnya.

Organ Genetalia Interna
1.      Vagina.
Setelah melewati introitus vagina, terdapat liang kemaluan (vagina) yang merupakan suatu penghubung antara introitus vagina dan uterus. Dinding depan danbelakang vagina berdekatan satu sama lain, masing-masing panjangnya berkisar antara 6-8 cm meliputi dinding anterior dan 7-10 cm yang meliputi dinding posterior. Bentuk vagina sebelah dalam yang berlipat-lipat disebut ruggae. Pada vagina terdapat sepasang kelenjar Bartholine yang berfungsi menghasilkan cairan untuk enjaga kelembaban bagian labia serta pelicin bagian dalam vagina. Vagina berfungsi sebagai saluran untuk keluarnya darah menstruasi, sebagai tempat senggama, menerima sperma dan sebagai jalan lahir. vagina memiliki pH berkisar antara 4-5 yang menyebabkan cairan menjadi asam yang memberikan proteksi terhadap kumat, bakteri. Dinding vagina terdiri dari tiga bagian yaitu lapisan mukosa yang merupakan kulit, lapisan otot dan lapisan jaringan ikat. Bagian dari leher rahim yang menonjol kedalam vagina disebut porsio. Sedangkan daerah disekitar servik disebut forniks yang terdiri dari empat bagian yaitu forniks anterior, forniks posterior, forniks lateral kanan dan forniks lateral kiri.
2.      Uterus.
Uterus berbentuk seperti buah avokad atau buah pir yang sedikitgeoeng kearah depan dan belakang. Ukurannya sebesar telur ayamdan mempunyai rongga. Dindingnya terdiri atas otot-otot polos.  Ukuran uterus tergantung pada usia dan paritas. Pada anak-anak ukuran uterus 2-3 cm, nullipara 6-8 cm dan multipara 8-9 cm. Pada nullipara berat uterus 40-50 gram dan pada multipara beratnya 60-70 gram. Uterus dapat menahan beban hingga 5 liter.

Dinding uterus terdiri dari tiga bagian :
a.       Peritonium (lapisan serosa)
Meliputi dinding rahim bagian luar. Menutupi bagian luar uterus. Merupakan penebalan yang diisi jaringan ikat, pembuluf darah limfe dan urat syaraf. Peritonium meliputi tuba dan mencapai dinding adomen.
b.      Miometrium (lapisan otot)
Susunan otot rahim terdiri dari tiga lapisan yaitu lapisan luar, lapisan tengah, dan lapisan dalam. Pada lapisan tengah membentuk lapisan tebal anyaman serabut otot rahim. Lapisan tengah ditembus oleh pembuluh darah arteri dan vena. Lengkungan serabut otot ini membentuk angka delapan sehingga saat terjadi kontraksi pembuluh darah terjepit rapat, dengan demikian pendarahan dapat terhenti. Makin kearah serviks, otot rahim makin berkurang, dan jaringan ikatnya bertambah. Bagian rahim yang terletak antara osteum uteri internum anatomikum, yang merupakan batas dari kavum uteri dan kanalis servikalis dengan osteum uteri histologikum (dimana terjadi perubahan selaput lendir kavum uteri menjadi selaput lendir serviks) disebut isthmus. Isthmus uteri ini akan menjadi segmen bawah rahim dan meregang saat persalinan.
c.       Endometrium (lapisan mukosa)
Pada endometrium terdapat lubang kecil yang merupakan muara dari kelenjar endometrium. Variasi tebal, tipisnya, dan fase pengeluaran lendir endometrium ditentukan oleh perubahan hormonal dalam siklus menstruasi. Pada saat konsepsi endometrium mengalami perubahan menjadi desidua, sehingga memungkinkan terjadi implantasi (nidasi). Lapisan epitel serviks berbentuk silindris, dan bersifat mengeluarakan cairan secara terus-menerus, sehingga dapat membasahi vagina. Kedudukan uterus dalam tulang panggul ditentukan oleh tonus otot rahim sendiri, tonus ligamentum yang menyangga, tonus otot-otot panggul. Ligamentum yang menyangga uterus adalah :
·         Ligamentum Latum, terletak dikanan kiri uterus meluas sampai dinding rongga panggul dan dasar panggul, seolah-oleh menggantung pada tuba. Ruangan antar kedua lembar dari lipatan ini terisi oleh jaringan yang longgar disebut parametrium dimana berjalan arteria, vena uterina pembuluh limpa dan ureter.
·         Ligamentum Rotundum (ligamentum teres uteri), terdapat pada bagian atas lateral uterus, terdiri dari jaringan otot polos dan jaringan ikat ligamen. Ligamen ini menahan uterus dalam antefleksi. Pada saat hamil mengalami hypertrophi dan dapat diraba dengan pemeriksaan luar.
·         Ligamentum Infundibulo Pelvikum (ligamentum suspensorium), terdapat dikiri dan kanan dari infumdibulum dan ovarium, ligamen ini menggantungkan uterus pada dinding panggul. Antara sudut tuba dan ovarium terdapat ligamentum ovarii propium.
·         Ligamentum Kardinale (Mackenrodt), terdapat dikiri dan kanan serviks setinggi ostium internum ke dinding panggul. Ligamen ini membantu mempertahankan uterus tetap pada posisi tengah (menghalangi pergerakan ke kanan dan kiri) dan mencegah prolap.
·         Ligamentum Sakro-Uterium, terdapat dikiri dan kanan serviks sebelah belakang ke sakrum mengelilingi rektum.
·         Ligamentum Vesiko Uterinum, terletak dari uterus ke kandung kencing.

Uterus terdiri atas (1) fundus uteri adalah bagian uteri yang terletak diatas kedua pangkal tuba, (2) korpus uteri adalah bagian terbesar dan sebagai tempat berkembangannya janin, (3) serviks uteri.
Setiap bulannya uterus berfungsi dalam pengeluaran darah haid dengan adanya perubahan dan pelepasan dari endometrium, selain itu fungsi uterus yaitu untuk menahan ovum yang telah dibuahi selama perkembangan. Sebutir ovum,  sesudah keluar dari ovarium, diantarkan melalui tuba uterina ke uterus. Endometrium disiapkan untuk menerima ovum yang telah dibuahi dan ovum tertanam didalamnya. Sewaktu hamil, uterus bertambah besar, dindingnya menjadi tipis, tetapi lebih kuat dan membesar sampai keluar pelvis masuk kedalam rongga abdomen pada masa pertumbuhan fetus. Pada waktu saatnya tiba dan mulas tanda melahirkan mulai, uterus berkontraksi secara ritmis dan mendorong bayi dan plasenta keluar kemudian kembali ke ukuran normalnya melalui proses yang dikenal sebagai involusi.
3.      Ovarium (indug telur).
Merupakan kelenjar berbentuk buah kenari terletak kiri dan kanan uterus di bawah tuba uterina dan terikat di sebelah belakang oleh ligamentum latum uterus. Setiap bulan sebuah folikel berkembang dan sebuah ovum dilepaskan pada saat kira-kira pertengahan (hari ke-14) siklus menstruasi. Ovulasi adalah pematangan folikel de graaf dan mengeluarkan ovum. Ketika dilahirkan, wanita memiliki cadangan ovum sebanyak 100.000 buah di dalam ovariumnya, bila habis menopause. Ovarium berukuran kurang lebih sebesar ibu jari tangan dengan ukuran panjang kira-kira 4 cm, lebar dan tebal kira-kira 1,5 cm.
Struktur ovarium terdiri atas (1) korteks, bagian luar yang diliputi oleh epitelium germinativum berbentuk kubikdan didalamnya terdiri atas stroma serta folikel-folikel primordial, dan (2) medulla, bagian di sebelah dalam korteks tempat terdapatnya stroma dengan pembuluh-pembuluh darah, serabut-serabut saraf, dan sedikit otot polos.
Ovarium yang disebut juga indung telur, mempunyai 3 fungsi:
a. Memproduksi ovum
b. Memproduksi hormone estrogen
c. Memproduksi progesteron
Memasuki pubertas yaitu sekitar usia 13-16 tahun dimulai pertumbuhan folikel primordial ovarium yang mengeluarkan hormon estrogen. Estrogen merupakan hormone terpenting pada wanita. Pengeluaran hormone ini menumbuhkan tanda seks sekunder pada wanita seperti pembesaran payudara, pertumbuhan rambut pubis, pertumbuhan rambut ketiak, dan akhirnya terjadi pengeluaran darah menstruasi pertama yang disebut menarche.
Awal-awal menstruasi sering tidak teratur karena folikel graaf belum melepaskan ovum yang disebut ovulasi. Hal ini terjadi karena memberikan kesempatan pada estrogen untuk menumbuhkan tanda-tanda seks sekunder. Pada usia 17-18 tahun menstruasi sudah teratur dengan interval 28-30 hari yang berlangsung kurang lebih 2-3 hari disertai dengan ovulasi, sebagai kematangan organ reproduksi wanita.
4.      Tuba Fallopii.
Tuba fallopii merupakan tubulo-muskuler, dengan panjang 12 cm dan diameternya antara 3 sampai 8 mm. fungsi tubae sangat penting, yaiu untuk menangkap ovum yang di lepaskan saat ovulasi, sebagai saluran dari spermatozoa ovum dan hasil konsepsi, tempat terjadinya konsepsi, dan tempat pertumbuhan dan perkembangan hasil konsepsi sampai mencapai bentuk blastula yang siap melakukan implantasi.
            Tuba fallopii dibagi menjadi 4 bagian, yaitu :
v  Pars interstisialis, yaitu bagian yang terdapat di dinding uterus , dimulai dari ostium internum tuba.
v  Pars isthmika, yaitu bagian tuba yang terletak diluar uterus dan merupakan bagian yang paling sempit.
v  Pars ampullaris, yaitu bagian tuba yang paling luas dan berbentuk S. Pada bagian ini ovum dan sperma bertemu atau tempat terjadinya pembuahan.
v  Pars infundibulum, yaitu bagian akhir tuba yang memiliki umbai yang disebut fimbriae tuba. Fimbriae penting artinya bagi tuba untuk menangkap telur dan selanjutnya menyalurkan telur ke dalamtuba.
Fungsi tuba fallopii sangat penting, yaitu untuk menangkap ovum yang dilepaskan saat ovulasi, sebagai saluran dari spermatozoa ovum dan hasil konsepsi, tempat terjadinya konsepsi, dan tempat pertumbuhan/perkembangan hasil konsepsi sampai mencapai bentuk blastula, yang siap mengadakan implantasi.


II.      MENSTRUASI.
Menstruasi adalah meluruhnya dinding rahim (endometrium) akibat sel telur yang telah matang tidak dibuahi oleh sperma. Lapisan endometrium dipersiapkan untuk menerima implantasi embrio. Jika tidak terjadi implantasi embrio lapisan ini akan luruh, darah keluar melalui seviks dan vagina. Siklus wanita berbeda-beda, namun biasanya berlangsung selama 28 hari pada tiap bulannya. Siklus menstruasi terdiri dari 4 fase :
1.      Fase menstruasi, terjadi bila ovum tidak dibuahi sperma, sehingga korpus luteum menghentikan produksi hormin estrogen dan progesteron. Turunnya kadar estrogen dan progesteron menyebabkan lepasnya ovum dari endometrium disertai robek dan luruhnya endometrium, sehingga terjadi pendarahan. Fase menstruasi kurang lebih terjadi dari 3-7 hari.
2.      Fase pra-ovulasi atau fase poliferasi, hormon pembebas gonadotropin yang disekresikan hipotalamus akan memacu hipofise untuk mensekresikan FSH. FSH memacu pematangan folikel dan merangsang folikel untuk mensekresikan hormon estrogen. Adanya estrogen menyebabkan pembentukan kembali (poliferase) endometrium.peningkatan kadar estrogen juga menyebabkan serviks (leher rahin) untuk mensekresikan lendir yang bersifat basa. Lendir ini berfungsi untuk menetralkan suasana asam pada vagina sehingga mendukung kehidupansperma.
3.      Fase ovulasi, jika siklus menstruasi perempuan 28 hari , maka ovulasi akan terjadi pada hari ke 14. Peningkatan kadar estrogen menghambat sekresi FSH, kemudian hipofise mensekresikan LH. Peningkatan kadar LH merangsang pelepasan oosit sekunder dari folikel, peristiwa ini disebut ovulasi.
4.      Fase pasca ovulasi atau fase sekresi, berlangsung selama 14 hari sebelum menstruasi berikutnya. Walaupun panjang siklus menstruasi berbeda-beda, fase pasca ovulasi ini selalu sama yaitu 14 hari sebelum menstruasi berikutnya. Folikel degraaf (folikel matang) yang telah melepaskan oosit sekunder akan berkerut dan menjadi korpus luteum. Korpus luteum akan mensekresikan hormon progesteron dan masih mensekresikan hormon estrogen namun tidak sebanyak ketika berbentuk folikel. Progesteron mendukung kerja estrogen untuk mempertebal dan menumbuhkan pembuluh-pembuluh darah pada endometrium serta mempersiapkan endometrium untuk menerima implantasi embrio jika terjadi pembuahan atau kehamilan. Jika tidak terjadi pembuahan, korpun luteum akan berubah menjadi korpus albikan yang hanya sedikit mensekresikan hormon, sehingga kadar progesteron dan estrogen menjadi rendah. Keadaan ini menyebabkan terjadinya menstruasi demikian seterusnya.







III.   HORMON-HORMON DALAM SISTEM REPRODUKSI.
Pengertian Hormon
 Hormon berasal dari bahasa Yunani yang berarti merangsang. Hormon yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin langsung disekresikan ke dalam darah karena tidak memiliki saluran sendiri. Hormon adalah melekul yang berfungsi di dalam tubuh sebagai sinyal kimia. Hormon dibebaskan sel-sel khusus yang disebut sel-sel endokrin karena sel-sel tersebut bersekresi ke arah dalam dan berbeda dari sel-sel eksokrin, yang bersekresi ke dalam rongga tubuh atau permukaan tubuh.
Sistem kerja hormon berdasarkan mekanisme umpan balik. Artinya, kekurangan atau kelebihan hormon tertentu dapat mempengaruhi produksi hormon yang lain. Hal ini disebut homeostasis, yang berarti seimbang. Di dalam tubuh manusia terdapat tujuh kelenjar endokrin yang penting, yaitu hipotalamus, hipofisis, tiroid, paratiroid, kelenjar andrenal, pankreas, dan kelenjar gonad (ovarium atau testis).
Hormon merupakan suatu zat yang dihasilkan oleh suatu bagian dalam tubuh. Organ yang berperan dalam sekresi hormon dinamakan kelenjar endokrin. Disebut demikian karena hormon yang disekresikan diedarkan ke seluruh tubuh oleh darah dan tanpa melewati saluran khusus. Di pihak lain, terdapat pula kelenjar eksokrin yang mengedarkan hasil sekresinya melalui saluran khusus.
Hormon-hormon Reproduksi Wanita
1.      Hormon GnRH (Gonadotropin Realeasing Hormon)
Diproduksi di hipotalamus, kemudian dilepaskan berfungsi menstmulasi hipofisis anterior untuk memproduksi dan melepaskan hormon-hormon gonadotropin (FSH/LH).
2.      Hormon FSH (Follicle Stimullating Hormone)
Diproduksi di sel-sel basa hipofisis anterior, sebagai respon terhadap GnRH. Berfungsi memicu pertumbuhan dan pematangan folikel dan sel-sel granulosa di ovarium wanita. Follicle Stimulating Hormonr (FSH) berfungsi merangsang pematangan folikel dalam ovarium dan menghasilkan estrogen, mengendalikan ciri seksual pria dan wanita (penyebaran rambut, pembentukan otot, tekstur dan ketebalan kulit, suara dan bahkan mungkin sifat dan kepribadian).
3.      Hormon LH (Lutinizing Hormone).
Diproduksi di sel-sel kromofob hipofisis anterior. Bersama FSH, LH berfungsi memicu perkembangan folikel dan juga mencetuskan terjadinya ovulasi dipertengahan siklus. Selama fase luteal siklus, LH meningkat dan mempertahankan fungsi siklus luteum pasca ovulasi dalam menghasilkan progesteron. Pelepasannya juga periodik,kadarnya dalam darah berfariasi setiap fase siklus, waktu paruh eleminasinya pendek,kerjanya sangat cepat dan singkat.
Lutinizing Hormone (LH) berfungsi mempengaruhi pematangan folikel dalam ovarium dan menghasilkan progesteron, mengendalikan fungsi reproduksi (pematangan sel telur, siklus menstrusi).
4.      Hormon Estrogen.
Estrogen diproduksi oleh sel-sel teka internal folikel di ovarium secara primer dan dalam jumlah lebih sedikit juga diproduksi dikelenjar adrenal melalui konfersi hormon androgen. Selama kehamilan, hormon ini juga di produksi di plasenta. Berfungsi sebagai stimulasi pertumbuhan dan perkembangan (proliferasi) pada bagian organ reproduksi wanita. Estrogen berfungsi untuk merangsang sekresi hormon LH.
Pada uterus menyebabkan proliferasi endometrium. Pada seviks menyebabkan pelunakan serviks dan pengentalan lendir serviks. Pada vagina menyebabkan proliferasi epitel vagina. Pada payudara menstimulasi pertumbuhan payudara, juga mengatur distribusi lemak tubuh. Pada tulang estrogen juga menstimulasi osteoblas sehingga memicu pertumbuhan atau generasi tulang. Pada wanita pasca menopouse untuk mencegah tulang keropos (osteoporosis).
Hormon estrogen berfungsi mengendalikan perkembangan ciri seksual dan sistem reproduksi wanita dan membantu pembentukan lapisan endometrium.
5.      Hormon Progesteron.
Progesteron diproduksi di korpus luteum di ovarium, sebagian di produksi di kelenjar adrenal, dan pada kehamilan juga di produksi di plasenta. Progesteron menyenbabkan terjadinya perubahan sekretorik (fase sekresi) pada endometrium uterus, yang mempersiapkan endometrium uterus berada pada keadaan yang optimal jika terjadi implantasi. Progesteron untuk mrnghambat produksi FHS dan LH.
Hormon progesteron berfungsi mempersiapkan lapisan rahim untuk penanaman sel telur yang telah dibuahi, mempersiapkan kelenjar susu untuk menghasilkan susu, menjaga penebalan endometrium, menghambat produksi hormon FSH, dan memperlancar produksi laktogen (susu). Hormon ini dihasilkan oleh korpus luteum dan dirangsang oleh LH.
6.      HCG (Huma Chorionic Gonadotropin)
Mulai diproduksi sejak usia kehamilan 3-4 minggu oleh jaringan trofoblas (plasenta). Berfungsi meningkatkan dan mempertahankan fungsi korpus luteum dan produksi hormon-hormon steroid terutama pada masa-masa kehamilan awal. Deteksi HCG pada atau urin dapat dijadikan sebagai tanda kemungkinan adanya kehamilan.
7.      LTH (Lactotrophic Hormon) / Prolactin
Diproduksi di hipofisis anterior, memilik aktifitas memicu atau meningkatkan produksi dan sekresi air susu oleh kelenjar payudara. Di ovarium, prolaktin ikut mempengaruhi pematangan sel telur dan memperngaruhi fungsi korpus luteum.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar